Pusat Pendidikan Seni Tradisi Semarangan di Klub Merby

PUNYA 800 SISWA, JADI JUJUKAN TURIS ARGENTINA

Sekolah modern telah banyak yang bermunculan di Semarang. Selain kurikulum internasional dan program bilingual (dwibahasa), umumnya mereka menawarkan pembelajaran yang serba canggih. Sebaliknya, pusat pendidikan yang mengajarkan seni tradisi masih bisa dihitung dengan jari. Klub Merby salah satunya. Seperti apa?

Lagu Gambang Semarang mengalun pelan siang itu. Beberapa kali lagu “kebangsaan” warga Semarang itu di-replay. Sesekali saja lagu dolanan Mentok-mentok menyelingi. Suaranya tidak terlalu keras karena harus berebut ruang dengan suara kendaraan yang melintas di Jalan Mataram.

Klub Merby, nama tempat itu, memang berusaha menampilkan Semarang dari berbagai perspektif. Tidak hanya melalui lagu, Klub Merby juga memasang beberapa potong batik Semarangan.  Beberapa manekin yang dibalut kemaja dan gaun batik terpajang di sudut ruang. Perlahan aroma jamu tradisonal juga tercium. Ada aroma jahe, semerbak mangir, juga bau kencur.

Dilihat dari depan, Klub Merby memang tidak jauh berbeda dengan toko lain di jalan Mataram. Dinding depan, layaknya toko, menggunakan kaca yang memungkinkan untuk dilihat dari luar. Namun, ketika masuk lebih dalam, hampir seluruhnya bernuansa Semarang. Berbagai barang, dari souvenir, buku, batik, hingga makanan ringan seluruhnya bertema Semarang. Interiornya didominasi perabot dari kayu. Dinding jati ukir menyekat ruang. Meja dan kursi kayu berwarna coklat, juga dengan ornamen ukir, tertata di pojok lantai satu.

Adalah Grace Wijaya, pemilik sekaligus perancang tempat itu. Dokter gigi yang praktik di Jalan Erlangga itu konon cinta berat dengan seni tradisi Semarang. Karena itu, sekalipun sibuk, ia masih sempat mengembangkan Klub Merby. “Dia yang mendesain semua. Termasuk gedung di belakang itu,” ucap Deasy Octoriani, koordinator, sambil menunjuk bangunan tiga lantai di bagian belakang.

Lantai dua toko itu dipenuhi berbagai suvenir. Dari dolanan bocah seharga 6 ribu rupiah hingga meja jati seharga tiga setengah juta tersedia. Dakonan, gasing, yoyo, dan sempritn adalah dolanan yang paling banyak tersedia. Selain itu ada pula miniatur bangunan trdisional; lawang sewu, tugu muda, juga kuil Sam Po Kong. “Kami prikhatin melihat anak-anak saat ini justru lebih senang bermain playstation, jadi lupa dengan berbagai dolanan ini.”

Klub Merby sebenarnya hanya salah satu bagian. Sang pemilik juga mengembangan toko anak, kedai jamu, dan mart shop. Toko anak berisi sejumlah buku dan mainan anak. Namun, di sana terpampang juga buku Ungkapan Batik di Semarang karya Saroni Asikin. Buku terbitan Cipta Prima Nusantara itu satu dari sedikit buku yang mengulas batik Semarang.

Yang paling menarik tentu saja aroma jamu yang semerbak. Maklum, seluruh proses produksi jamu memang dilakukan di tempat itu. Mereka mengolah jamu dari nol. “Bahan-bahan sudah tersedia di kebun. Biasanya kita tingga cari bahan yang kurang di pasar,” demikian Deasy menuturkan.

Ketika ditanya berapa besar omzet Klub Merby, Deasy hanya tersenyum. “Kami tidak mengejar target profit. Ini kan kerja kebudayaan, yang penting bisa menutup biaya operasional,” katanya. Namun, diakui Deasy, selama ini cukup untuk membaiayi program sekaligus menggaji 0 karyawan.

Klub Merby baru didirikan sekitar 3 tahun silam. Meski baru, konsep tradisional telah menarik perhatian banyak orang. Kelas yang dibuka pun beragam. Selain batik, aksara Jawa, gambang semarang, tari semarangan, meracik jamu, juga ada merangkai janur dan dolanan bocah. “Program ini paketan. Biasany peserta memilih saah satu kelas atau beberapa sekaligus,” lanjut Deasy. Hingga kini pesertanya sekitar 800 orang. “Dari anak umur tiga setengah tahun sampai guru besar. Mungkin usianya 75 tahun,” lanjutnya.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, ketika pulang kampung, juga pernah menyempatkan diri mampir di sana. Fotonya dipajang berjejer dengan foto Ny. Bibit Waluyo. Sedangkan foto Hudson-Jesica, pemenang program Indonesia Mencari Bakat terpajang di bawahnya.

Ternyata, tidak hanya wisatawan lokal yang tertarik sinau di tempat itu. Banyak wisman yang menjadikan Klub Merby sebagai jujukan. Selama Desember saja sudah ada enam rombongan wisman yang mampir. Rombongan kapal pesiar yang singgah di Tanjung Emas biasanya mampir ke sana. “Paling banyak dari Argentina, Jerman, Belanda, dan Korea,” lanjut Deasy. Tidak sekadar melihat-lihat, mereka juga menyempatkan diri belajar nari atau mbatik.

Rabu sore kemarin contohnya, di lantai tiga sejumlah karyawan perusahaan multinasional sedang lenggak-lenggok berlatih menari Senggol Semarang. Sambil gojekan karena gerakan belum lentur benar, mereka menirukan gerakan instruktur satu demi satu. Satu, dua, tiga; lenggok kanan, lenggok kiri.

1 Comment

  1. ENDANG PUJIATI

    August 18, 2011 at 5:26 am

    selamat siang, saya mau tanya ada kelas nyanyi untuk usia 3,% tahun ga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.