Pramuka Indonesia (Kini) Bisa Apa?

Kurikulum terus berganti, tapi Pramuka tidak. Gerakan kepanduan ini tetap jadi pilihan untuk membangun karakter siswa. Sekolah negeri maupun swasta di Indonesia menjadikan pramuka ekstrakurikuler wajib. Mampukah menjawab tantangan pendidikan kini?

***

Kekhawatiran itu, kali pertama, muncul dalam upacara hari jadi pramuka ke 50 di Kota Baubau, 14 September 2011 lalu.  Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Prof. Dr. dr. H. Azrul Azwar menyatakan dua hal yang kontraproduktif. Pertama, dia mengakui revitalisasi Gerakan Pramuka telah memantapkan eksistensi Gerakan Pramuka.

Namun bersamaan dengan itu, harus diakui bahwa tantangan yang dihadapi Gerakan Pramuka dan juga oleh kaum muda Indonesia, juga makin bertambah berat. Gerakan pramuka, pendidikan kaum muda di Indonesia, dituntut untuk dapat lebih berkontribusi secara nyata dalam hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk dalam menyelesaikan masalah kaum muda.

Ada beberapa tantangan yang dihadapi Gerakan Pramuka saat ini, menurut anggota Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian. Pertama, sebagai penunjang sistem pendidikan formal yang terlalu menekankan pemahaman akademis, Gerakan Pramuka diharapkan menjadi media pendidikan karakter, pendidikan kebangsaan & kewargaan, serta pengajaran dan pelatihan soft-skill, seperti komunikasi, kepercayaan diri, dan kepemimpinan.

Kedua, metode pembelajaran dan kegiatan harus dimodifikasi sehingga menarik bagi generasi muda, disamping perlu mengikuti perkembangan teknologi dan pemikiran global dengan menekankan kreatifitas dan kerja sama.

Ketiga, Gerakan Pramuka harus mampu menunjukkan diri sebagai gerakan independen dan tidak tergantung sepenuhnya pada sokongan anggaran dari pemerintah. Di sisi lain, Pemerintah dapat meningkatkan perannya sebagai motivator maupun fasilitator peran dan partisipasi masyarakat serta anggota pramuka.

Potensi Gerakan Pramuka menjadi “pemain utama” dalam pembinaan anak muda di Indonesia sebenarnya sangat terbuka. Selain telah memiliki payung hukum berupa undang-undang, Gerakan Pramuka bisa mengakses seluruh lapisan anak muda. Bahkan infrastruktur Gerakan Pramuka sudah dibangun hingga tingkat gugu desap.

Kementerian Pemuda dan Olahraga mencatat, pada 2009 Gerakan Pramuka memiliki 16,3 juta anggota. Dari jumlah tersebut, anggota Pandega tercatat 134.000; Penegak 1,65 juta; Penggalang 7,2 juta; dan Siaga 7,35 juta. Jumlah anggota Gerakan Pramuka di Indonesia adalah yang terbesar di seluruh dunia.

Dosen dan peneliti kepramukaan dari Universitas Islam Indonesia (UII) Arif Lukmanul Hakim, meski memiliki berbagai potensi, Gerakan Pramuka juga punya sejumlah kendala. Pertama, infrasturktur dan manajemennya masih belum terbarukan (renewable) sesuai dengan konteks perubahan masyarakat yang terjadi. Menurutnya, penerapan prinsip dasar kepramukaan belum dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan (sustainable), pembinaan anggota dewasa belum dilakukan dengan baik, dan kerja sama kemitraan belum dilakukan secara maksimal serta dasar hukum Gerakan Pramuka belum cukup kuat.

”Pada titik ini dasar pemikiran bagi upaya revitalisasi Gerakan Pramuka harus diletakkan pada prinsip-prinsip Satya dan Dharma Pramuka untuk menjadikan Gerakan Pramuka sebagai wadah atau kawah candradimuka bagi pembentukan kader bangsa,” katanya.

Karakter

Pramuka punya keunggulan ideologis dibandingkan lembaga pendidikan nonformal lain, yakni perhatian yang serius pada pembentukan karakter. Wujud pembinaan karakter Pramuka pada anggotanya (Pramuka) tertuang dalam kode kehormatan, Satya Pramuka dan Darma Pramuka. Kode kehormatan merupakan janji dan komitmen diri serta ketentuan moral Pramuka dalam pendidikan kepramukaan.

Di dalam Satya Pramuka tercantum tiga janji anggota gerakan Pramuka, yaitu (1.) Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila, (2.) Menolong sesama hidup, dan ikut serta membangun masyarakat, dan (3.) Menepati Darma Pramuka. Adapun di dalam darma terdapat 10 perilaku anggota.

Nilai-nilai yang terkandung dalam kode kehormatan gerakan Pramuka berorientasi pada pembangunan kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam menjaga dan membangun NKRI, mengamalkan pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup.

“Tegak berdiri, pandang jalan hidup yang berliku, berlurah dan berbukit, tegar penuh pesona, tak gentar akan tempaan makna perjuangan, gagah dalam penampilan, kokoh dalam pendirian dan matang dalam pengabdian. Begitu jiwa anggota gerakan Pramuka,” kata anggota Geraka Pramuka pada Racana Wijaya Abdul Rouf.

Keyakinan bahwa pramuka menyediakan jalan lapang pembentukan karakter positif, membuat berbagai lembaga pendidikan mengadopsi konsep ini. Di Universitas Negeri Semarang (Unnes) misalnya, setiap mahasiswa diperkenalkan melalui kegiatan Orientasi Kepramukaan Perguruan Tinggi (OKPT). Universitas itu juga memiliki gugu depan dan subgugus di setiap fakultas.

“Kalian semua yang memasuki dunia pendidikan tinggi saat ini adalah kader bangsa yang dalam waktu sekian puluh tahun mendatang itu insya Allah akan menjadi pemimpin bangsa Indonesia yang handal,” kata Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Masrukhi saat membuka OKPT, Kamis (22/8).

Untuk mempersiapkan masa depan itu, kata Prof Masrukhi, mahasiswa perlu menyiapkan diri. Pramuka dapat membekali mahasiswa karena kepramukaan dapat menumbuhkan rasa nasionalisme, patriotisme, tanggung jawab, kejujuran, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

“Nilai-nilai ini sangat penting untuk kalian terus tumbuhkembangkan dalam dada kalian karena kita menyadari betul bahwa kehidupan semakin ke depan itu semakin banyak tantangannya,” lanjutnya.

Menurutnya, tantangan generasi muda sekarang ini lebih berat. Pasalnya, zaman terus berubah. Terjadi semacam adu kekuatan antara satu sistem kebudayaan satu dengan sistem kebudayaan lain.

Bagaimana dengan di sekolah? Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar mengakui minat siswa untuk menempa diri melalui Pramuka menurun. “Inilah barangkali yang menjadi  penyebab kenapa disiplin anak sekolah menurun, sering berkelahi dan  tawuran, karena mereka memang tidak mendapatkan pendidikan nilai-nilai yang sebenarnya dapat diperoleh melalui pendidikan kepramukaan,” ujar Azrul.

Saat ini ada sekitar 320.000 gudep di sekolah dan komunitas. Azrul menegaskan pendidikan pramuka adalah pendidikan nilai-nilai  yang disampaikan dengan  metode kepramukaan (permainan dialam terbuka yang menantang dan menyenangkan) yang dilaksanakan oleh gugus depan yang dapat didirikan di sekolah (school based) atau di komunitas (community based). Jika pendidikan keperamukaan diselenggarakan oleh  gugus depan yang berada di sekolah, maka pendidikan tersebut  bersifat  ekstrakurikuler  dengan kepesertaan  bersifat  sukarela.

Jika pendidikan kepramukaan ingin dimasukan dalam kurikulum yang bersifat wajib, kata Azrul, maka yang dapat dilakukan hanyalah   memasukan nilai-nilai kepramukaan serta menerapkan  metode kepramukaan secara terintegrasi deng an sistem pendidikan formal yang telah ada.

Anggota Pramuka Ummi Hasfah, yang kini mengajar di salah satu TK di Demak, merasakan sendiri manfaat Pramuka dalam kehidupannya.

“Tidak saja bermanfaat membentuk pribadi dan karakter saya selama berpramuka itu. Tetapi bahkan sampai dengan saya sedewasa ini, 37 tahun, sikap-sikap pramuka itulah yang mengantarkan saya pada pencapaian seperti sekarang,” katanya.

Menurutnya, pramuka unggul bukan saja karena memiliki konsep teoritik yang mapan, tapi aplikatif.

“Kesemuanya itu didarahdagingkan dan diuratnadikan kepada para pramuka sejati dengan pengalaman-pengalaman serta petualangan-petualangan langsung yang didesain sedemikian rupa. Sehingga di bawah tekanan-tekanan dan tantangan-tantangan itu, pribadi-pribadi ini menjadi terasah, menampilkan kecemerlangannya yang paling sejati,” tutupnya. Rahmat

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *