Pendapatan Sopir Angkutan Umum di Tengah Pandemi

Demak – Sistem perekonomian saat ini sedang dilanda kekacauan akibat pandemi Covid-19, kebijakan dari pemerintah yaitu penerapan sistem Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa wilayah mengakibatkan kebanyakan warga untuk tetap dirumah, sehingga banyak orang yang terkena dampak dari PSBB tersebut, misalnya sopir angkutan umum di Mranggen yang mengalami penurunan pendapatan secara drastis.

Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Demak telah meminta bantuan jaring pengaman sosial sebagai dampak pandemi COVID-19. Pemerintah akan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat. Mereka yang akan menerima bantuan diantaranya seperti pengemudi bus, taksi, truk, angkot, ojek konvensional, andong, becak, kernet, bajaj atau bemo, dan rental di seluruh Indonesia.

Agar tidak terjadi penyalahgunaan bantuan tersebut, angkutan umum yang akan menerima bantuan ada syarat yang harus dilengkapi seperti mengajukan data dan surat-surat kelengkapan (BPKB) untuk dikumpulkan kepada ketua Organda sehingga dapat dicek kebenarannya dan layak mendapatkan bantuan.

Penyaluran bantuan akan dibagi ke dalam tiga tahap Rinciannya, tahap pertama pada 15 April-15 Mei 2020, tahap kedua pada 16 Mei-15 Juni 2020, dan tahap ketiga pada 16 Juni-15 Juli 2020.

Sebagian sopir angkutan sudah menerima bantuan pada tahap pertama tanggal 15 Mei 2020,  meskipun terlalu mepet dalam pembagiannya namun bantuan tersebut sangatlah bermanfaat bagi keluarga mereka. Bantuan itu meliputi sembako (beras 5kg, mie instant 1kardus, kecap, susu dan minyak 1liter). Selanjutnya untuk bantuan pada tahap kedua belum dibagikan.

Beberapa keluhan yang dirasakan para sopir angkutan. Sebelum adanya corona, para sopir angkutan memperoleh pendapatan kotor bisa mencapai sebesar Rp 300 ribu hingga RRp350 ribu dalam sehari.

“Kalau sekarang dapat Rp100 ribu sudah beruntung sekali itu. Rata-rata hanya Rp100 ribu, belum terpotong setoran dan bensin,” kata Budi, Jumat (22/05/2020).

Bahkan Budi mengaku pernah hanya mendapatkan 2 penumpang dalam sehari dan tidak dapat menyetor uangnya kepada pemilik angkutan.

“Ya pernah saya setoran cuma Rp30 ribu saja, tapi pemilik angkutan juga pengertian karena kondisinya memang begini,” ucapnya.

“Kami sangat mengharapkan bantuan tersebut, karena kondisinya memang seperti ini,” Ujar Budi, salah satu sopir angkot.

Di Mranggen sampai saat ini hanya terlihat beberapa angkutan yang beroperasi tidak begitu ramai seperti biasanya sebelum adanya pandemi ini. Melihat kondisi demikian, berharap semoga selanjutnya ada uluran dari pemerintah untuk kedepannya baik Provinsi maupun Kota Demak untuk membantu para sopir angkutan terutama yang ada di daerah Mranggen dan sekitarnya.

 

[Rizky Nikmatul Khasanah]

Berita ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah Jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Tekonologi Pendidikan FIP UNNES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.