Pembenaran Vonis Anak Bodoh

”DASAR anak bodoh!” kata Bu Shinta pada muridnya, Doni. ”Kamu mau jadi…,” teriak guru itu, tertahan. Dia menyadari kekeliruannya. Ia urungkan mengeluarkan kata tidak etisnya demi menyadari bahwa hal itu tidak menyelesaikan masalah dan justru menurunkan martabatnya sebagai pendidik. Meski keras ia menahan amarah, paras ayunya gagal menyembunyikan kejengkelannya. Doni, siswa yang ia keluhkan, telah dua kali menjalani ulangan remidi namun hasilnya tidak beranjak dari nilai awalnya, dan jauh dari batas tuntas (KKM).

Dalam dunia pendidikan banyak dijumpai kasus serupa. Yang terjadi kemudian sekolah, guru, atau bahkan orang tua, memvonis anaknya sebagai anak bodoh. Ukuran yang dipakai sangat dangkal, yaitu nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Ketika anak belum mendapatkan nilai di atas nilai KKM maka ia dianggap bermasalah, dan oleh karenanya harus mengulang atau tinggal kelas. Di tingkat yang lebih luas negara juga memberikan afirmasi pembenaran pada tindakan sekolah yang masih perlu dikaji kebenarannya dengan kebijakan politis yang disebut ujian nasional (UN).
Konsep hipnoterapi (hypnotherapy) menjelaskan bahwa data sebagai sumber belajar manusia terbagi atas wujud: pandangan (visual), pendengaran (audio), rasa/gerak (kinesthetic), pengecapan (gustatory), dan aroma (olvactory).  Belajar diidentifikasi sebagai proses masuknya data ke dalam diri individu siswa.

Sesuai data yang masuk, manusia belajar dengan menggunakan indera yang dimiliki. Artinya manusia belajar dengan menggunakan indera: pandangan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pembauan. Karena kekhasan pengertian belajar (formal), secara umum masuknya informasi paling tidak melalui tiga indera utama: mata, pendengaran, dan perabaan.

Makin banyak indera diberdayakan untuk menyerap informasi, makin baik hasil belajar individu. Masing-masing indera komplementer satu dengan yang lain sehingga proses transfer data mendapatkan penguatan sedemikian rupa sehingga kemungkinan keberhasilannya makin besar. Namun, kondisi ideal tersebut sangat sulit dijumpai. Dua kemungkinan menjadi penyebab mengapa kondisi ideal masuknya data belajar tersebut terkendala.

Identifikasi Keliru

Pertama; karena faktor genetik individu siswa  tumbuh menjadi pribadi unik. Maksudnya adalah bahwa individu (siswa) memiliki kecenderungan dominan menggunakan indera tertentu secara dominan dalam belajar. Kedua; sumber belajar (guru/ instruktur/ fasilitator) menjadi penghalang bagi siswa untuk mendapatkan informasi. Artinya bahwa guru mengabaikan keunikan siswa dan melakukan generalisasi terhadap semua siswa didiknya dengan menggunakan metode pembelajaran yang dominan dengan indera tertentu.

Hipnoterapi berasumsi bahwa individu anak dilahirkan dalam kondisi unik. Fakta ini mengesampingkan keberadaan dari apa yang sering diidentifikasi guru/orang tua sebagai anak pandai atau bodoh. Tuhan secara sempurna meniupkan ruh lengkap dengan instalasi keinginan dan kapabilitas belajar. Seperti apapun adanya seorang individu, mereka memiliki keinginan belajar luar bisa. Jika ditemukan kondisi berbeda, maka hal tersebut pasti terjadi karena identifikasi yang keliru.

Kecerdasan merupakan kemampuan individu untuk melakukan penyelamatan diri (survival) atas jerat masalah yang menimpa dirinya. Kecerdasan lebih tepat diidentifikasi sebagai bakat khusus (special talent) seorang individu.
Titik resultan dari kapabilitas dan instalasi spirit belajar yang sempurna, berujung pada kecerdasan. Artinya bahwa kecerdasan individu bisa dioptimalkan. Pernyataan ini (bagi penulis) menjadi koreksi atas angka vonis kecerdasan yang dihasilkan melalui berbagai macam tes kecerdasan.

Konsep yang benar adalah bahwa ketika anak tidak optimal (bodoh), maka hal tersebut lebih merupakan kesalahan eksternal. Orang dewasa sekitarnya adalah pihak yang harus bertanggung jawab atas prestasi buruk itu.
Yang dibutuhkan siswa bukan terapi atau pemberian zat adiktif peninggi kecerdasan, melainkan konsep holistic learning yang memungkinkan mereka lebih terlayani. Dibutuhkan pendekatan sempurna agar informasi bisa diterima oleh ”alam bawah sadar” siswa. (10)

Hartono Sri Danan D

hipnoterapis, pemerhati masalah pendidikan, tinggal di Semarang

 

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/07/139091/Pembenaran-Vonis-Anak-Bodoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.