Membaca Ritual Budaya sebagai Semesta Tanda

Perusakan fasilitas sedekah laut di Yogyakarta menjadi preseden buruk bagi masyarakat Indonesia yang multikultural. Keyakinan ekslusif membuat para pelaku terjebak pada anggapan bahwa kelompoknya paling benar. Arogansi membuat kelompok ini mengabaikan cara pandang alternatif yang menempatkan ritual budaya sebagai cara manusia berkomunikasi dengan Tuhannya.

Ritual budaya adalah bagian dari ekspresi kolektif manusia Jawa yang sangat mendambakan harmoni. Mereka memandang hubungan baik perlu dibina bukan hanya dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga benda-benda abiotik di sekitarnya. Bagi manusia Jawa,  laut, gunung, sungai adalah “saudara” karena sama-sama karya Sang Maha Pencipta.

Dalam beberapa hal, pandangan demikian memiliki kemiripan dengan etika ekosentrisme yang belakangan berkembang di Barat. Pandangan ini berusaha menempatkan manusia sebagai anggota dari alam yang berelasi setara dengan benda-benda ciptaan Tuhan lainnya. Meskipun secara evolutif adalah makhluk yang paling berkuasa, manusia adalah “sahabat” sejati bagi makhluk lain di sekitarnya.

Ekosentrisme merupakan cara pandang progresif yang berusaha mengoreksi biosentrisme dan antroposentrisme. Koreksi dilakukan karena dua pandangan tersebut cenderung melegitimasi ketamakan manusia dalam mengeksploitasi alam. Biosentrisme memandang makhluk hidup sebagai elemen terpenting semesta sehingga merasa berhak mengeksploitasi benda-benda mati. Adapun antroposentrisme lebih sempit lagi karena memandang  manusia sebagai pusat dunia sehingga berhak mengeksploitasi makhluk hidup lain demi kepentingannya.

Pengetahuan tradisional orang Jawa berusaha menempatkan manusia sebagai bagian kecil dari semesta. Konsep itu terepresentasi dalam ungkapan jagat gedhe dan jagat cilik. Jagad gedhe merujuk pada eksistensi alam semesta sebagai sistem yang memiliki tatanan yang diatur oleh kekuatan-kekuatan supranatural ciptaan Tuhan. Adapun jagad cilik merujuk pada hubungan individual manusia dengan sesamanya, dengan sama makhluk hidup, juga dengan benda-benda lain di sekitarnya.

Untuk menjaga keharmonisan dengan sesama penghuni semesta itulah manusia Jawa menciptakan alat komunikasi nonverbal berupa simbol yang diorkestrasi secara naratif dalam upacara budaya. Sebagai sistem tanda, baik bentuk, warna, jumlah, mapun susunan benda-benda itu  mengandung makna tertentu.

Hubungan Semiotik

Sebagai tanda, ritual budaya tidak dapat dipandang harfiah. Untuk membaca pesan di balik keberadaannya, benda itu perlu dihubungan dengan gagasan dan konteks budaya tertentu. Oleh karena itu, agar seseorang dapat memahami pesan di balik upacara budaya  diperlukan wawasan semiotik yang memadai.

Menurut teori klasik yang dikemukakan Ogden dan Richard (1923), sebuah tanda hanya berfungsi menghasilkan makna jika tanda tersebut berelasi membentuk segitiga. Tanda terhubung secara langsung dengan ide dan terhubung secara arbitrer dengan objek acuan (referent).

Dengan konsep itu, apa yang disebut sebagai “ritual budaya”  sebenarnya mencakup berbagai aktivitas yang sangat bervariasi. Tidak terbatas pada upacara adat kolosal seperti sedekah laut, sekaten, atau kalahayu, ritual budaya juga mencakup ritual kecil daur hidup yang dipraktikkan dalam lingkup keluarga seperti ngapati, mitoni, sepitan, mantu, dan lainnya.

Ritual demikian juga bukan monopoli orang Jawa, melainkan ada di komunitas budaya lain. Dalam tradisi masyarakat Dayak di Tenggarong Kalimantan Timur, misalnya, ada upacara Erau. Dalam masyarakat Minang ada tradisi bajamba, kudo-kudo, juga balimau. Di komunitas masyarakat Bugis juga terdapat upacara mappalili, massuro, anynyapu battang dan belasan lainnya.

Banyak peneliti telah bekerja keras mengungkap hubungan semiotik antara benda dalam ritual budaya dengan pesan yang ingin disampaikan oleh pelakunya. Berdasarkan penelitian itu, ritual budaya memiliki tiga fungsi utama. Pertama, sebagau ungkapan rasa syukur. Kedua, doa agar diberi rizki dan terjaga keselamatan. Ketiga, pengingat diri agar selalu menjaga perilaku baik.

Thohir (2013) mencontohkan, penggunaan pisang raja dalam upacara  mitoni merupakan bentuk doa kepada Tuhan. Pisang dipilih karena bentuknya menyerupai telapak tangan manusia yang terangkat saat berdoa. Adapun “raja” melambangkan jenis manusia yang memiliki keunggulan fisik, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Dengan menyajikan pisang raja orang tua berdoa kepada Tuhan agar anaknya menjadi manusia berkualitas unggul.

Baehaqie (2017) menunjukkan bahwa nama, bentuk, warna, dan jumlah benda dalam upacara adat berelasi membentuk narasi yang kompleks. Contohnya: tumpeng. Nama makanan ini dipercaya sebagai akronim dari tumuju ing Pengeran (menuju Tuhan). Adapun bentuk limas yang runcing di bagian atas adalah nasihat agar kehidupan manusia senantiasa dijadikan sarana pengabdian kepada Tuhan.

Salah satu jenis tumpeng yang digunakan dalam upacara mitoni bernama tumpeng pendedel. Kata pendedel berarti “ditekan atau didorong agar keluar”. Dengan menyajikan tumpeng jenis ini orang tua sedang berdoa agar saat persalinan nanti jabang bayi bisa keluar dengan lancar.

Dalam upacara yang sama juga ada tumpeng playon, tumpeng yang diletakkan di encek dengan lauk ingkung atau ayam panggang. Kata playon berasal dari bahasa Jawa yang berarti berlarian. Melalui sajian ini orang tua berdoa agar anaknya terlahir sehat, tumbuh menjadi anak yang lincah dan cerdas.

Menghindari Benturan

Dengan tafsir di atas, menjadi jelas bahwa ritual budaya dianggap penghayatnya sebagai cara lain berkomunikasi dengan Tuhan selain cara formal yang diatur dalam agama. Namun pemahaman demikian tidak bisa diterima oleh komunitas yang memiliki wawasan budaya berbeda. Selain dianggap sebagai bentuk kemusyrikan oleh kelompok agama yang mengidamkan purifikasi, ritual budaya juga kerap dianggap sebagai kebodohan oleh masyarakat modern.

Tuduhan musyrik ditimpakan karena ada anggapan bahwa pelaku ritual tersebut meyakini adanya sumber kekuatan selain Tuhan. Ritual dianggap sebagai bentuk penyembahan terhadap kekuatan lain tersebut. Adapun tuduhan bodoh kerap ditimpakan karena upacara ini tidak memiliki hubungan logis dengan tujuan yang ingin diraih.

Jika pandangan-pandangan ini dipelihara pada kubu ekstrimenya masing-masing, titik temu sangat sulit dicapai. Kecenderungan menyalahkan pihak lain akan tetap ada. Kompromi baru bisa dilakukan jika ada kerelaan untuk memahami perilaku kelompok lain dengan “meminjam” sistem nilai yang melatarbelakanginya. Jika kerendahan hati demikian dimiliki maka benturan relatif bisa dihindari. (Sumber foto: netralnews.com)

Rahmat Petuguran
Dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.