Melepas Kepergian Prof Rasdi Ekosiswoyo

Hari ini Universitas Negeri Semarang (UNNES) kehilangan salah satu putra terbaiknya, Prof Dr Rasdi Ekosiswoyo MSc. Bagi keluarga besar UNNES, beliau bukan cuma salah satu putra terbaik, tetapi peletak fondasi kemajuan universitas. Sebagai Rektor, Prof Rasdi mengawal transformasi IKIP Semarang menjadi Universitas Negeri Semarang.

Sebagai pemimpin, Prof Rasdi memiliki kekuatan persona yang sangat khas. Sebagai pribadi, beliau memiliki karakter kuat karena ketegasannya dalam berpendapat dan keteguhannya dalam bersikap. Beliau juga khas karena memiliki ekspresi kasih sayang yang unik, baik secara verbal maupun tindakan.

Bagi keluarga besar UNNES, Prof Rasdi Ekosiswoyo adalah teladan yang baik dalam meletakkan visi besar organisasi. Sejak beliau menjadi dosen, dekan FIP, dan kemudian Rektor, beliau memiliki mimpi agar UNNES menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.

Mimpi itulah yang menginspirasi kepemimpinan  beliau selama dua periode. Beliau berusaha keras menjadikan mimpi sebagai ilham kepemimpinannya. Mimpi itu kemudian beliau terjemahkan dalam bentuk tindakan konkret yang membawa perubahan dan manfaatnya kita rasakan saat ini.

Salah satu tindakan konkret itu adalah ketika beliau mengawal UNNES menerima wider mandate (mandat yang diperluas) oleh pemerintah Republik Indonesia. IKIP Semarang yang saat itu murni menjadi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) diperluas mandatnya untuk menyelenggarakan program studi murni.

Transformasi itu tidak sederhana. Sebab, selain perubahan kelembagaan, mandat tambahan itu juga menuntut perubahan mindset dan perilaku. Ada tantangan, ada kendala, ada hambatan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Namun semua tantangan itu dapat beliau atasi dengan mantra sakti yang beliau sering dengungkan kepada kita: everything is oke.

Telah lama saya renungkan, “everything is oke” bukan cuma mantra apalagi selorohan. “Everything is oke” adalah pilihan sikap yang sangat elegan untuk selalu merasa tenang dalam menghadapi tantangan. Sebesar apa pun kesulitan yang dihadapi, semua bisa diatasi. Dalam terminologi Kepemimpinan Bertumbuh, “everything is oke” hampir sama artinya dengan “pohon kuat menghadapi badai”. Kesulitan boleh saja datang sebagaimana badai, tapi bagi seorang pemimpin badai justru bisa dikelola sebagai cara memperkuat organisasi.

Melalui sesanti “everything is oke”, Prof Rasdi ingin mengajak kita untuk selalu tenang dan optimis menghadapi tantangan. Kemajuan Universitas Negeri Semarang adalah komitmen bersama, dan sekencang apa pun tantangan yang kita hadapi, kita selalu punya energi untuk mengatasinya. Ya, seperti yang Prof Rasdi ajarkan kepada kita: everyhting is oke.

Selain jasa besar itu, selama memimpin Prof Rasdi juga telah menjadi inspirasi banyak orang. Salah satunya adalah berkat motivasinya kepada kita untuk terus belajar. Jauh sebelum pemerintah mewajibkan dosen minimal S2, beliau telah mendorong dosen untuk melanjutkan pendidikan sampai doktor. “Harus sekolah, sekolah, dan sekolah,” begitu kata beliau.

Dorongan Prof Rasdi agar kita semua terus sekolah, tampaknya juga diilhmai oleh perjalanan hidupnya. Beliau adalah seorang yatim piatu. Sejak anak-anak ia hidup bersam kakaknya secara sederhana. Namun berkat pendidikan yang baik, beliau bisa memiliki karier yang cemerlang. Bukan cuma bisa menyelesaikan S1, tetapi menyelesaikan S2 di Syracus University New York, dan kemudian menyelesaikan S3, beliau mendapat gelar kehormatan profesor. Dalam diri beliau, pendidikan telah terbukti menjadi instrumen melakukan transformasi diri dan lingkungan.

Jalan hidup Prof Rasdi adalah jalan hidup sebagai pengabdi. Beliau aktivis sejak muda. Semakin berusia, mental aktivis itu bukan memudar tetapi justru semakin matang. Bahkan jalan hidup sebagai aktivis itu tetap beliau tunaikan setelah beliau purna tugas. Ia mengabdikan diri menjadi komite sekolah, menjadi pengurus yayasan, ketua dewan Pendidikan, dan yang tak kalah penting: melalui olehraga bridge yang sangat digemarinya.

Prestasi Prof Rasdi telah menunjukkan kepada kita semua, bahwa mimpi besar adalah modal yang amat berharga. Beliau telah mengajarkan itu kepada kita: dalam bentuk pemikiran, dalam perkataan, dan dalam bentuk tindakan.

Kepergian Prof Rasdi tentu membuat kita semua kehilangan. Kita kehilangan sosok bapak yang teduh, sahabat yang hangat, dan guru yang menginspirasi. Kita bersaksi bahwa beliau adalah orang baik. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberi tempat terindah di sisi-Nya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.