Lebih Dekat dengan Prof Retmono, Mantan Rektor IKIP Semarang yang Dikenal Ramah (2)

SEBELUM perampokan di Madiun, kehidupan Retmono sebenarnya cukup baik. Namun setelah perampokan keluarga ini hidup dalam kekurangan. Selama mengungsi, meski ayah Retmono terus bekerja, tak menerima gaji secara berkala. Praktis keluarga ini tidak punya penghasilan.

Untuk bertahan hidup mereka menjual satu demi satu barang-barang yang selama dibawa dalam ransel : kain batik yang selama ini dikoleksi ibunya dan suatu kali arloji perak kesayangan bapaknya. Yang diminta menjualnya di pasar loak Madiun ya Retmono. Sampai sekarang Retmono masih dapat mengingat los-los di pasar besar Madiun tempat dia bernegosiasi dengan calon pembelinya .

Dua bulan sekali Retmono ke Pasar Besar Madiun untuk menjualnya. Di tengah hiruk pikuk pasar ia menggelar kainnya. Ia menawarkannya pada pengunjung pasar yang lalu menawarnya. Kalau jadi, ia membawa uangnya ke rumah, setelah ia jajan pecel Madiun yang terkenal (harganya cuma lima sen waktu itu).

Ketika kain batiknya makin menipis terpaksa ayahnya juga menjual arloji saku kesayangannya.

“Not, iki gawanen,” kata ayah sambil menyodorkan arloji.

“Lho, kagem napa Pak?” Retmono balik tanya.

“Wis to, gawanen nang pasar. Dolen. Njaluk rega sing paling apik.”

Retmono kembali ke pasar untuk menjual arloji perak itu. Seorang laki-laki membeli arloji yang dibawanya.

Kondisi mulai membaik pada Desember 1949. Setelah bersusah payah merebut kembali Indonesia, Belanda mengakui kemerdekaan Republik Indonesia. Tentara Belanda mulai meninggalkan Tanah Air. Kekuasaan secara de jure diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Di Surabaya, serah terima kekuasaan di Dinas Pekerjaan Umum dilangsungkan dalam sebuah upacara. Bapak Retmono berangkat dari Madiun ke Surabaya untuk menghadiri acara itu mewakili pemerintah. Ia sempat diminta pidato tapi menolak berbahasa Belanda. Ia tetap berbicara dalam bahasa Indonesia.

Akademik Cemerlang

Retmono lahir di Malang 23 Oktober 1933. Usia dua tahun ia pindah ke Bondowoso hingga 1943. Di sana lah ia memulai pendidikan di Hollands Inlandsche School (HIS) yang kemudian menjadi Sekolah Rakyat.

Saat usianya 12 tahun ia kembali ke Malang untuk melanjutkan pendidikan ke SMP. Ia mendaftar di SMP 2 Malang. Tapi situasi politik pada masa itu kacau balau. Tidak menentu. Jepang melakukan pendudukan sejak 1942. Setelah melakukan pendudukan 3 tahun mereka pergi. Tahun 1945 Indonesia merdeka, tapi 2 tahun berikutnya Belanda berusaha kembali berkuasa melalui upaya yang disebut orang “agresi militer”. Belanda baru keluar pada 1949.

Kondisi itulah yang memaksa Retmono harus empat kali pindah sekolah. Tak genap setahun di SMP 2 Malang, ia pindah ke SMP 2 di Yogyakarta, lalu ke SMP 2 Madiun. Ia baru menyelesaikan pendidikannya di SMP 2 Surabaya pada tahun 1951.

Sejak kecil kemampuan berbahasa Retmono berkembang baik. Saat bersekolah di HIS, misalnya, ia sudah kuasai empat bahasa, yaitu bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Melayu (Maleisch namanya waktu itu), dan sedikit bahasa Belanda. Selama zaman pemerintahan Belanda ia banyak mendengar perbincangan bahasa Belanda. Oleh karena itu sedikit banyak ia bisa bicara dengan bahasa Belanda.

Kemampuan bahasa Inggris Retmono berkembang pesat saat ia sekolah di SMP 2 Madiun. Ia terpesona dengan guru bahasa Inggris yang cantik dan terasa nyaman saat mengajar. Berawal dari kesan pada guru itulah ia lebih giat belajar. Saat pindah ke SMP 2 Surabaya Retmono rajin berkunjung ke United States Information Center (USIS) perpustakaan Amerika yang dikelola Konsulat Jenderal AAS.. Di sanal ia mulai menyantap teks-teks berbahasa Inggris, termasuk biografi tokoh dunia. Saking seringnya datang, Retmono akrab dengan penjaga perpustakaan. Kepada petugas ini Retmono juga belajar speaking.

Tamat dari SMP pada 1951, Retmono melanjutkan sekolah di SMA Wijayakusuma. Sekolah ini terletak di Jalan Wijayakusuma, Surabaya. Di sinilah ia bertemu Wardiman Djojonegoro, teman bermain hoki yang kemudian hari menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Retmono juga akrab dengan adik kelasnya, Tri Soetrisno yang pada 1993-1997 menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia.

Setelah merampungkan pendidikan SMA pada 1954, Retmono pindah ke Yogyakarta. Minatnya pada bidang bahasa Inggris menuntunnya mengikuti Standard Training Course (STC). Pengelola STC pernah janji, sepuluh alumni terbaik akan dikirim studi lanjut ke Amerika. Itu membuat Retmono giat belajar. Hasilnya memuaskan. Saat kelulusan ia menjadi wisudawan terbaik kedua. Tapi, entah oleh sebab apa, kampus urung mengirimnya ke Amerika. Sebagai ganti, ia direkomendasikan mengajar di Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Malang.

Meski kecewa Retmono akhirnya mengajar di PTPG Malang. Di sana ia menjadi asisten dosen sambil melanjutkan pendidikan di Universitas Airlangga. Tahun 1956 ia selesai dan diangkat menjadi PNS. Ia melanjutkan mengajar di PTPG Malang yang saat itu sudah berganti nama menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Airlangga.

Dua tahun kemudian, tepatnya 1958 ia terbang ke Austin, Amerika Serikat, setelah aplikasi beasiswanya dikabulkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Empat semester ia mendalami pengajaran bahasa Inggris di University of Texas, kampus yang punya reputasi baik di bidang pendidikan bahasa Inggris dan Linguistik Terapan.

“Saya berangkat bersama teman sesama asisten dosen di IKIP Malang. Tinggal di kos yang sama dengan teman sekamarnya di Malang, Dr. Zaini Machmud (almarhum). Walaupun ada perkumpulan orang Indonesia di sana saya pilih tidak bergabung dengan mereka. Nanti malah bicara bahasa Indonesia terus,” ungkapnya dengan bergurau.

Dari Austin, Retmono pulang ke Indonesia tahun 1960 dan melanjutkan karier akademik di IKIP Malang hingga 1966. Pada periode inilah Retmono menikah dengan Indarwati dan dikaruniai dua putra, Retno Indrastiti dan Kuntjoro Indartono.

Tahun 1966 Retmono berkesempatan kembali melanjutkan studi ke Amerika. Melalui Ford Foundation ia kembali ke University of Texas untuk studi Ph.D-nya. Kali ini ia mengajak istri dan kedua anaknya. Bekal lima ratus dolar per bulan (dua ratus lima puluh untuk dirinya dan dua ratus lima puluh lagi untuk istri dan kedua anaknya) yang ia terima dari sponsor lebih dari cukup untuk hidup bersama istri dan kedua anaknya.

Tiga setengah tahun di sana gelar Ph.D sudah diperolehnya. Begitu selesai, ia bergegas kembali ke Tanah Air. Saat Retmono tiba di Tanah Air, konstelasi politik sudah berubah. Soeharto baru saja naik “tahta” menggantikan Soekarno melalui proses yang oleh sejumlah orang disebut sebagai “kudeta halus”. Soeharto tampil sebagai pemimpin baru Indonesia dan membangun rezim baru. Orde Baru.

Retmono yang nasionalis, secara ideologis dekat dengan Soekarno, merasakan ketidaknyamanan. Ia khawatir karier di IKIP Malang tidak akan berkembang baik.

Rektor IKIP Malang waktu itu Prof Samsuri memberinya nasihat.

“Not, koen pindaho nok Jawa Tengah ae, maren. Nek tetep nduk Malang koen gak bakal bisa dadi apa-apa. (Not, kamu pindah saja ke Jawa Tengah. kalau tetap di sini kamu tidak akan jadi apa-apa).

Prof Samsuri memberi Retmono surat rekomendasi untuk disampaikan kepada Drs. Wuryanto, Rektor IKIP Semarang waktu itu, yang tak lain adalah teman Prof Samsuri.

Drs Wuryanto menyambut baik kedatangan Retmono. Meski tahu “beban politik” Retmono, Drs Wuryanto tak ambil pusing. Ia justru beruntung karena bisa dapat dosen bergelar doktor. Pada masa itu belum ada dosen bergelar doktor di IKIP Semarang, bahkan bisa jadi di seluruh Semarang.

Sejak itulah Retmono hijrah ke kota Atlas. Ia tetap memilih IKIP Semang meski ada PTN lain juga memberinya tawaran dan justru telah mengangkatnya sebagai Ketua Departeman Bahasa.

Lanjut ke Bagian 3: Kuliah di Amerika, Tersingkir Akibat Pergantian Rezim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.