Laode Kamaluddin, Rektor yang “Nyambi” Motivator

JIKA ada rektor yang secara tidak sadar ”nyambi” menjadi motivator, Rektor Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang Laode Kamaluddin lah orangnya.

Tumpukan kesibukan tidak mengurangi produktivitas ”sambilannya” sebagai penulis buku dengan ”genre” yang telah lama digemarinya: memotivasi!

Tahun lalu Laode Kamaluddin meluncurkan dua buku, Cerdas Bisnis Cara Rasulullah dan On Islamic Civilization (sebagai editor). Lalu, setelah pada awal tahun ini melansir Islamic Golden Rules, pria kelahiran Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 17 Agustus 1949, itu menerbitkan karya terbaru berjudul The Best Life, 5 Rumus Dahsyat Sukses Hidup Menjadi Umat Terbaik (Khaira Ummah).

Ketika Rabu besok buku tersebut menjadi ”santapan pagi” penyambut sekitar 2.000 mahasiswa baru Unissula, pada Selasa pekan lalu pemikiran-pemikiran mengenai ke-khaira ummah-an itu telah disampaikan di hadapan para rektor di Kementerian Pendidikan Nasional.

Awalnya, seperti dituturkan Laode Kamaludin, Mendiknas Muh Nuh menyampaikan kegundahannya mengenai pembangunan karakter bangsa lewat pendidikan. Selama ini lebih menonjol hanya pengembangan infrastruktur fisik. Lalu dikumpulkanlah para rektor.

”Untuk saya ada kisah tersendiri. Awalnya, Bu Marwah Daud datang ke Unissula, dan setelah menangkap gagasan-gagasan saya, saya pun diundang ke forum itu. Alhamdulillah mendapat respons bagus, dan saya menjadi satu-satunya pimpinan perguruan tinggi swasta yang presentasi di hadapan para rektor negeri,” ungkapnya.

Tiga poin disampaikan dalam forum tersebut. Pertama, character building itu harus didasari nilai-nilai kemanusiaan. Semua sepakat tentang itu. Kedua, ada kuantifikasi sebagai alat ukur. Misalnya sejauh mana karakter itu  membuat mahasiswa menjadi lebih tertib.

”Di Unissula misalnya, ada standar-standar alat ukur seperti khatam Alquran, tidak merokok di lingkungan kampus, dan menyerap jiwa kewirausahaan,” kata Laode Kamaluddin.

Ketiga, ujung produk pendidikan karakter itu membentuk khaira ummah sebagai ukuran sukses hidup.

”Ada ketercakupan tujuan, yang semuanya diorientasikan agar kelak mahasiswa mampu bermain di dunia global,” tambah alumnus Fakultas MIPA Universitas Padjadjaran Bandung 1979 yang meraih gelar MEng, MSc, dan PhD di Iowa State University, Amerika Serikat, pada 1986, 1990, dan 1991 itu.

Pisau Pemertajam

Buku The Best Life yang seolah-olah dijadikan pisau pemertajam visi Unissula ”Bismillah Membangun Generasi Khaira Ummah” ke tahap implementasi itu berintikan lima rumus sukses hidup. Rumus Pertama, agar menjadi umat terbaik maka kita harus meneladani generasi umat terbaik pula.

Rumus Kedua, membangun umat terbaik harus bermodal iman dan takwa kepada Allah tanpa tawar. Rumus Ketiga, mengutamakan ilmu sebelum amal, itulah kunci kesuksesan umat terbaik. Rumus Keempat, menjadi umat terbaik dengan amal dan karya. Rumus Kelima, membangun umat terbaik dengan berjamaah.

Prolog menarik dipaparkan Laode Kamaluddin-yang seperti dalam buku Islamic Golden Rules, kali ini juga berkolaborasi dengan penulis A Mujib El-Shirazy dalam bab ”Untuk Apa Hidup Ini”.

Laoide Kamaluddin mengajak merenungkan Surat Al-Mukminun Ayat 115, ”Maka apakah kamu mengira, sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”

”Dan tidakkah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, (istri dan anak), tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian (tentulah Kami telah melakukannya)” (Surat Al-Anbiyaa’ Ayat 16-17).

Lalu Surat Ad-Dukhan Ayat 38, ”Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main”.

Menurut Laode Kamaluddin, begitu menohok pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Allah melalui ayat-ayatnya itu, dan kitalah yang harus menjawabnya.

Bukankah kita yang telah dianugerahi pikiran yang penuh dengan keajaiban itu? Bukankah kita makhluk yang paling dimuliakan itu? Bagaimana mungkin makhluk yang begitu mulia, justru hidup tanpa tentu arah.

Maka, lewat pergulatan pemikiran pembumian khaira ummah itu dalam lima rumus, inilah epilognya: ”Hidup Itu Pilihan!”. Kita boleh memilih mau menjadi generasi khaira ummah atau sebaliknya. Jika menjadi bagian dari khaira ummah niscaya kita masuk dalam golongan yang beruntung. Namun jika memilih sebaliknya, niscaya kita tidak akan beruntung. Pilihan ada di tangan Anda. Ada di tangan kita semua.

Seperti dalam Golden Rules, dalam buku ini Laode dan Mujib juga bertutur secara populer: teknik peneladanan kehidupan lewat kisah-kisah hikmah, dengan bobot ketokohan Rasulullah dan kiprah muamalah para sahabatnya.

Tanpa Menyadari

”Saya tidak pernah menyadari jika buku-buku saya cenderung bernilai motivasi bagi orang lain. Saya hanya mencoba untuk merumuskan pengalaman-pengalaman hidup, menuangkan hal-hal yang mengikuti keteladanan dan jejak hidup.

Kehidupan Rasulullah Muhammad misalnya, merupakan jejak khaira ummah dari masa kanak-kanak, masa kenabian, hingga beliau meninggal,” tutur pria yang -lantaran multitalenta dan penguasaannya dalam berbagai bidang ilmu -di kalangan teman-temannya dijuluki ”pribadi zig-zag” itu.

Laode Kamaluddin mengaku hanya merakit pengalaman-pengalaman itu. Selebihnya, ”Siapa tahu ada berkahnya …”

Lewat The Best Life, Laode Kamaluddin memang berniat untuk mempertajam visi Unissula. Jika rektor sebelumnya, Prof Dr Rofiq Anwar DSPA, meletakkan konsep Budaya Akademik Islami (Budai), maka ia yang sejak tiga tahun lalu menggantikan berikhtar membumikan konsep-konsep itu supaya ”tidak hanya berhenti di ayat”.

Menurutnya, best practice nilai-nilai Budai dicoba untuk dibumikan lewat buku terbaru itu. ”Bukankah setelah menyerap ‘dunia langit’, kita harus hidup di ‘dunia bumi’?” Ia mengibaratkan, sekarang ini sedang membangun paving block sebagai landasan menuju capaian visi Kampus Kaligawe Km 4 itu.

”Jadi kalau sesudah kepemimpinan saya nanti rintisan paving itu diteruskan, pengganti saya mungkin akan menghaluskannya supaya semua bisa menjadi lebih mulus,” ungkapnya.

Sebagai rektor yang dikenal suka memancing diskusi terbuka dengan para mahasiswanya, bagaimana pula ”posisi” Laode Kamaluddin sebagai seorang motivator? ”Saya hanya mencoba merangkum pengalaman. Selebihnya kalau ada yang mendapat pencerahan, itu merupakan berkah bagi saya,” kata Laode Kamaluddin, lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.