LABSCHOOL JAKARTA

“Labschool Jakarta? Wah sekolah bagus itu.” Setiap orang yang mendengar sekolah labschool pasti yang dipikir langsung tertuju pada sekolah yang memiliki kualitas yang tidak diragukan lagi. Labschool bahkan menjadi tujuan utama bagi mahasiswa yang mengambil prodi pendidikan untuk melakukan KKL guna mengetahui kurikulum yang diterapkan di sana.

Labschool Jakarta yang beralamat di Jl. Pemuda Komplek UNJ, Rawamangun Jakarta terdiri dari jenjang TK, SMP, dan SMA yang bernaung di bawah Yayasan Pembina Universitas Negeri Jakarta. Walaupun sekolah berstatus swasta, namun merupakan sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 dengan baik sehingga menjadi tujuan berbagai universitas untuk berguru penerapan kurikulum yang digunakan.

Wakil Bidang Akademis, Suparno, S.Pd adalah perwakilan Labschool Jakarta dan menjadi narasumber dalam acara seminar pada hari rabu 17/9 2014 yang membahas penerapan kurikulum 2013. Seminar tersebut dihadiri mahasiswa Unnes prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Suparno, S.Pd menguraikan berbagai fasilitas yang tersedia di labschool adalah sebagai berikut: Laboratorium ( Komputer, Biologi, Kimia, dan Bahasa ), Ruang Kelas ber-AC, Ruang Seni Rupa, Musik, Tari, Perpustakaan, Multi Media Center, Green House, Masjid dan Kapel, Poliklinik, Kantin, Auditorium, Ruang Teater, Kolam Renang (TK), Playground, Lapangan Olahraga Indoor dan Outdoor, dan Wifi. ia juga menjelaskan jadwal kegiatan yang dilakukan labschool dalam seminggu. Hari Senin sampai Rabu jam masuk sekolah pada pukul 07.00 WIB. Hari Kamis masuk pada pukul 06.45 WIB untuk melakukan kegiatan keagamaan menurut kepercayaannya masing-masing. Hari jumat masuk pada pukul 06.15 untuk melaksanakan olahraga samapai pukul 07.45 WIB. Khusus yang menjadi anggota organisasi, pada hari jumat masuk pukul 05.15 WIB untuk melaksanakan olahraga sampai pukul 07.30 WIB. Olahraga yang dilaksanakan pada hari Jumat adalah lari.

Berbeda dengan sekolah yang lazimnya melaksanakan KBM pada hari Senin-Sabtu, Labschool menerapkan KBM hanya hari Senin-Jumat. Sebenarnya jumlah jam pelajarannya sama seperti sekolah pada umumnya yang masuk pada pukul 07.00 WIB dan pulang pukul 13.30 WIB, hanya perbedaanya sekolah ini masuk pada pukul 07.00 WIB dan jam pulang pada pukul 15.30 WIB. Sedangkan ekstrakurikuler dilaksanakan pada hari jumat, yaitu setelah sholat jumat pada pukul 13.15 WIB untuk siswa kelas 10, sedangkan kelas 11 dan 12 tetap menalanjutkan KBM.
Rung kelas pada tiap jenjang kelas terdiri dari tujuh ruang kelas dan satu ruang kelas akselerasi. Dari 250 siswa pada tiap jenjang kelas, hanya ada 15 siswa yang mengikuti kelas akselerasi.

Yang menarik dari sekolah ini adalah ada syarat kelulusan berupa membuat karya ilmiah yang dipresentasikan dan diuji seperti halnya mahasiswa yang sidang skripsi untuk mendapat gelar. Jika belum melaksanakan hal tersebut maka siswa yang bersangkutan tidak dapat mengambil ijazah karena belum dinyatakan lulus dari sekolah. Guru juga didorong untuk membuat buku Mapel yang digunakan sebagai buku pendamping dari pemerintah.

Saat seminar juga hadir narasumber yang merupakan guru Mapel Bahasa Indonesia yaitu Drs. H. Rasman dan Reni S, Pd. Beberapa pertanyaa dari mahasiswa muncul mengenai penerapan kurikulum 2013 terutama Mapel Bahasa Indonesia yang berbasis teks. Banyak teks yang masih asing bagi siswa karena jenis teks yang dibelajarkan termasuk jenis teks baru dalam Bahasa Indonesia. Selain itu, bagaimana kiranya guru membuat kondisi kelas agar tidak membosankan bagi siswa? Menurut Reni S, Pd. “ Semua hal tersebuat dapat diatasi dengan membuat hubungan antara guru dan siswa seakan sama-sama belajar. Karena pada dasarnya semua itu adalah sama-sama hal yang baru bagi mereka dan bagi saya sendiri.”

Reni juga menunjukan hasil kegiatan siswa berupa video pembacaan puisi karya siswa kelas 10 yang mengonversi teks laporan hasil observasi menjadi teks puisi. Siswa dituntut merekam pembacaan puisi yang terdiri dari tiga siswa dalam satu kelompok. Setelah itu siswa diminta mengeditnya dan dijadikan video yang kretif. Tentu saja itu menjadi hal yang menarik bagi mereka yang memiliki sumber daya manusia dan fasilitas yang memadai. Namun bagaimana jika hal yersebut dilakukan pada sekolah yang SDM dan fasilitas yang kurang? Apakah mungkin hal tersebut dapat berlangsung? Rizkia Nurul Ulfah (2101412025)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.