Komunitas Sepeda Flat Land Soko Guru

Ada banyak komunitas sepeda di Kota Semarang. Tapi komunitas satu ini cukup ekstrem. Namanya Komunitas Soko Guru. Mereka tak sekadar menaiki sepeda, tapi juga melakukan atraksi menantang. Seperti apa?

Mengayuh sepeda sambil berputar-putar, aksi jumping, lepas stang, hingga memutar roda dengan hentakan kaki. Ya, itu semua biasa dilakukan oleh sekumpulan pemuda yang tergabung dalam komunitas Soko Guru. Komunitas ini kerap mempertunjukkan keahliannya bermain akrobat dengan sepeda itu di kawasan Tugu Muda, Semarang.

Seperti yang ditunjukkan Andi Mukhtar, 23, anggota Soko Guru asal Karangayu, bersama temannya-temannya Minggu pagi lalu. Tak pelak, aksi mereka pun menjadi perhatian warga yang melintas di kawasan Tugu Muda.

Andi mengatakan, komunitas sepedanya itu biasanya dikenal dengan sebutan flat land,  atau bergaya di dataran yang rata. Tidak cukup berbahaya jika dibandingkan dengan straigh land atau bergaya dengan property tanjakkan, lompatan tinggi dan sebagainya.

Menurut Andi, flat land cukup sederhana, namun juga rumit. Sebab bergaya di dataran harus kreatif ketimbang di straight land. “Kita bermain di dataran rendah, dan itu mesti kreatif. Sebab, aksi kita akan terlihat mati jika monoton aja. Beda dengan straight land, mereka kadang melayang, melakukan jumping, berjalan di atas property buatan yang arenanya mereka buat sendiri,” ujarnya kepada Radar Semarang.

Bagi komunitas flat land ini, bersepeda selain sebagai olahraga, menjadi tantangan sekaligus hiburan yang menyenanangkan. “Meski kerap jatuh, tapi seneng. Sebab kita bisa bisa menghibur juga. Kalau seneng, rasa sakitnya maupun takutnya jadi hilang,” ujar Andi.

Dikatakan, komunitas Soko Guru ini merupakan komunitas sepeda flat land pertama di Semarang. “Komunitas ini yang paling pertama berdiri di Semarang. Dibentuk sejak tahun 2000 lalu. Pertama anggotanya hanya dua orang saja, dan kini puluhan orang dari mana-mana gabung dengan kami,”  katanya.

Menariknya, solidaritas antaranggota di kelompok ini sangat kental. Acap kali temannya berhasil menciptakan gerakan baru atau berhasil bergaya, mereka beramai-ramai memberi aplaus tepuk tangan.

“Yang saya suka di sini, teman-teman di Soko Guru ini perhatian dan saling mengajari. Ibarat kata satu senang, maka senang semua,” imbuh Deni Faizal, 17, anggota asal Randusari, Semarang Selatan.

Minimal seminggu sekali, komunitas ini rutin latihan. “Nggak tentu juga sih, kadang tiga atau dua kali seminggu. Tapi, yang pasti minimal satu kali dalam seminggu kita selalu rutin ketemu untuk latihan,” katanya.

Lokasi yang dipilih untuk tempat latihan biasanya di pusat-pusat keramaian yang memiliki ruang untuk beraksi. “Biasanya tempat yang sering kita buat untuk ketemuan di Tugu Muda, Videotron Jalan Pahlawan dan Taman KB,” terangnya.

Deni mengaku punya pengalaman pahit saat berlatih bersama anak-anak komunitas Soko Guru. “Dulu pernah pas tengah malam saat latihan gitu, kita diuber-uber sama Satpol PP, gara-gara kita aksi di tengah Jalan Pahlawan. Tapi, sekarang sudah enggak lagi, soalnya kita tertib, beraksi selalu di pinggir jalan,” kenang Deni sambil tersenyum.

Agus Budi Santoso, 18, anggota lainnya mengakui saat jatuh dari sepeda rasanya sakit, namun hal itu mereka sembunyikan. “Kita pendem aja rasa sakit itu, biar orang yang lihat nggak ngeri atau adik-adik yang kita kader tidak takut,” akunya.

Andi menambahkan, saat berlatih, sudah biasa anggota komunitas ini terjatuh. Apalagi bagi anggota yang tergolong baru. “Kalau latihan ya kerap jatuh Mas, sudah nggak ke hitung,” kata Andi.

Agus memiliki kesan tersendiri di komunitas sepeda flat land ini. “ Yang membuat saya betah, karena orangnya konyol dan lucu-lucu. Pinter ngelawak. Mas lihat teman saya yang itu, lihat mukanya aja udah ketawa, dan yang itu bibirnya lebar. Kalau ngomong terlihat semua giginya. Pokoknya kocak-kocaklah anak-anak di Soko Guru ini,” gurau Agus sembari menunjuk dua temannya yang sedang latihan.

Untuk gabung di komunitas ini tidak ada syarat apapun. Cukup mudah. Yang penting punya sepeda mini dan kemauan keras. “Kita terbuka, siapa saja boleh ikut tanpa syarat apapun. Cuma butuh niat dan kemauan yang keras. Karena kalau nggak ada niat, pasti nggak akan bisa.” Radar Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.