Kesurupan Juga Persoalan Kepribadian

KESURUPAN massal kerap terjadi di sekolah. Sayangnya, fenomena itu masih ditafsirkan sebagai kejadian mistis semata. Padahal, kesurupan juga persoalan psikologis. Kondisi pikiran dan tipe kepribadian siswa menjadi faktor yang sangat memengaruhi kesurupan.

 Siswanto, dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, mengungkapkan hal itu Selasa (21/2) kemarin. Kesurupan menurutnya bisa dicegah dengan rangkaian program yang terarah.

“Dari berbagai kejadian kesurupan di sekolah dipicu oleh situasi dan kepribadian siswa,” kata Siswanto.

Situasi ekternal dan cerita-cerita magis yang berkaitan dengan situasi dapat memicu secara psikologis.  Selain itu kondisi tubuh siswa yang lemah, suka melamun, pikiran kosong atau tekanan psikologis menjelang ujian juga dapat mempengaruhi munculnya kesurupan.

Kepribadian siswa yang tertutup, dependen, pencemas dan sugestible pada kejadian-kejadian masa lalu berpotensi untuk siswa mengalami kesurupan.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukannya, 94 persen siswa yang pernah mengalami kesurupan di masa kecilnya pernah mengalami kekerasan baik secara fisik maupun seksual. Demikian juga anak yang manja (dependen) adalah salah satu contoh bahwa dia membutuhkan orang lain untuk membuatkan keputusan untuk dirinya.

Oleh sebab itu pencegahan dan tritmen kesurupan dapat dilakukan dengan menciptakan suasana yang aman dan nyaman, pengajaran agama yang sehat. Sedangkan untuk penyadaran dapat dilakukan dengan memanggil namanya, releksasi dengan mengatur nafas, pemijatan dan bau-bauan harus yang menyengat.

Sementara itu, Emmanuela Hadriamim menawarkan kesehatan mental di sekolah adalah bagian yang terpenting dalam proses belajar bagi siswa.

Guru dan sekolah dituntut untuk dapat melihat persoalan kesehatan mental ini dengan jeli. Siswa harus dipantau aktivitas sehari-hari mengenai hubungan sosial, adaptasi dan pengelolaan stres. Dengan begitu, kemungkinan kesurupan dapat dikurangi.