Bagaimana Facebooker Memahami Kebenaran?

KALAU dilihat usianya, kebenaran barangkali sudah jadi topik kuno dalam filsafat. Tapi topik itu juga selalu tampak baru sehingga menantang diulas.

Bagi para pengkajinya, kebenaran memiliki kompleksitas yang tak tanggung-tanggung. Rentang kompleksitasnya dapat ditelusuri sejak metodologi, bentuk, substansi, hingga penyampaiannya.

Misalnya, ada buku Theories of Truth karya Richard L Kirkham setebal 570 halaman yang “hanya” mengulas bagaimana kebenaran dihasilkan. Buku itu menunjukkan persoalan memang tak sederhana.

Persoalan “kebenaran” tentu akan jadi kian kompleks ketika menyangkut isinya. Mana yang benar dan tidak benar? Mengapa sesuatu benar dan sesuatu yang lain tidak? Juga persoalan penyampainnya. Misalnya: bisakah bahasa mengungkapkan kebenaran?

Tetapi di Facebook, kebenaran selalu tampak sederhana. Itu yang saya amati dari cara (sebagian) Facebooker (di lingkaran pertemanan saya) mendesakkan gagasannya sebagai kebenaran.

Masuklah (kalau selo sih…) ke grup-grup politik dan agama. Kita bisa temukan orang-orang dengan entengnya berebut klaim kebenaran. Klaim itu (kadang-kadang) diikuti dengan pembuktikan yang seadanya tetapi sekaligus tuduhan kepada pihak lawan yang seenaknya.

Kok bisa begitu ya? Maksud saya, apa yang membuat Facebooker berani menyimplifikasi konsep kebenarannya sehingga mengabaikan risiko kesesatan yang bisa menimpa dirinya dan orang yang membacanya?

KOMUNIKASI LAYAR

Saya menyodorkan sejumlah asumsi, semacam dugaan-dugaan yang saya susun berdasarkan pengalaman pribadi yang dibumbui sejumlah referensi.

Pertama, dari aspek perilaku, tampaknya sifat komputer yang biner telah menular kepada para penggunanya.
Kawan saya yang programer cerita, bahasa komputer selalu bersifat biner. Instruksi dirumuskan dalam bentuk 1 atau 0. Iya ya iya, tidak ya tidak. Bahasa pemrograman ini membuat komputer selalu bersifat tegas, tidak pernah ragu layaknya manusia.

Kecenderungan inilah yang (agaknya) menular kepada para penggunnya. Saat diskusi, sikap biner itu terutara dalam terbelahnya sikap secara vulgar. Kalau tidak kanan ya kiri. Kalau tidak setuju ya tolak.

Kedua, situasi tutur di media sosial. Dalam konsep sosiolinguistik, situasi tutur adalah situasi yang melingkpi peristiwa tutur. Meskipun tidak selalu terbaca dan disadari keberadaannya, situasi tutur mempengaruhi (atau bahkan menentukan?) bagaimana para subjek mengungkapkan gagasannya dalam bentuk bahasa.

Lalu, situasi macam apa yang menjadi “kultur” dalam komunikasi via jejaring sosial itu?

Kebudayaan layar adalah kebudayaan yang cepat karena dipengaruhi oleh mudah lelahnya mata memandangi benda bercahaya (layar). Kecenderungan itu membentuk perilaku serba cepat dalam komunikasi layar. Pada banyak orang, kecepatan melahirkan sikap terburu-buru, tidak mengindahkan ketelitian.

Komunikasi layar kaca juga komunikasi dengan ingatan jarak pendek. Dosen University Campus Suffol Kate Garland membuktikan itu dalam riset berjudul Paper Vs Digital pada tahun 2014. Garland menjelaskan bahwa pengetahuan yang diperoleh dari bacaan digital dalam jangka panjang lebih muda dilupakan daripada bacaan dari sumber cetak.

Selain itu “”Apa yang kami temukan adalah bahwa orang-orang yang membaca dari kertas lebih cepat merasa tahu atas informasi yang dibaca. Ketika membaca lewat komputer, dibutuhkan waktu yang lebih lama dan harus membaca berulang-ulang agar pembaca dapat menjadi tahu,” katanya.

Kecenderungan kognitif itu (yang nampaknya belum sepenuhnya diatasi) mempengaruhi cara dan hasil pengetahuan ketika kita membaca sesuatu.

Ketiga, komunikasi layar kaca adalah komunikasi samben. Ini terjadi karena layar komputer atau telepon memungkinkan beberapa menu dibuka sekaligus. Ketika sedang ebrkomunikasi melalui jajering sosial, orang cenderung nyambi menggunakan fasilitas lain dalam pernagkat itu. Nyambi, dalam bahasa Jawa.

Karena dilakukan dengan nyambi, kita tidak bisa betul-betul fokus kepada pesan yang kita kirim atau terima. Kondisi itu dapat mempersulit kita memahami inti pesan yang dikirimkan orang kepada kita.

Situasi semacam itulah yang membuat komunikasi layar sungguh berbeda dengan komunikasi kertas dan tatap muka. Perbedaan karakter itu, pada tingkat tertentu, mempengaruhi cara masing-masing pihak memahami kebenaran diri dan mitra bicaranya.

PSIKOLOGI PANGGUNG

Selain itu, Facebook adalah panggung pertunjukkan. Di atas panggung para pelakunya memiliki kesadaran bahwa dirinya diperhatikan atau ditonton banyak orang.

Kesadaran itu membuat para aktornya (ya, para Faceboker seperti kita ini!) selalu ingin mendapat kesan baik. Karena itu, kemudian, kita berusaha menjadi benar agar dipersepsi sebagai protagonis oleh para penonton. Untuk menjadi protagonis, ia harus mengklaim dan membuktikan diri bahwa dirinya benar.

Aneka kecenderungan itu menunjukkan ada begitu banyak celah yang memungkinkan komunikasi di Facebook meleset dari tujuan ideal komunikasi untuk saling bertukar pesan. Dengan kondisi itu pula, kebnaran yang bisa ditangkap dalam komunikasi berkemungkinan mengalami bias, delesi, dan distorsi yang parah.

Tetapi bagi (beberapa) Facebooker, kondisi demikian tidak betul-betul disadari seolah-olah “What wrong? Apa yang salah dengan komunikasi di FB?” Barangkali ada juga yang mengira, “FB cuma soal sarana. Kebenaran di mana-mana sama.” Hehehe.

Demikian renungan pagi ini, sambil menunggu tandon air terisi. Wkwkwkwk Semoga kalian, teman-temanku yang sedang berperang hujatan dan saling menistakan, berkenan membacanya.

Salam hangat,

Rahmat Petuguran
konsultan perjodohan, pelipur lara para jomblo

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *