Karamba Art, Menikmati Punk di Lajar Tantjap

PUNK dan layar tancap, bisa ditebak, adalah dua hiburan beda generasi. Karenanya, beda penikmat. Satu dianggap produk kegelisahan anak muda, lainnya, pilihan hiburan yang menunjukkan romantisme. Tapi keduanya menyatu. Setidaknya dalam acara Lajar Tanjtjap #2, yang digagas Karamba Art Senin malam (13 Juni 2011), lalu.

Dok. Karamba Art

Dengan media layar, yang diasumsikan sebagai layar tancap, puluhan anak muda pecinta seni ini menyaksikan film Sid and Nancy.

Film besutan sutradara Alex Cox ini dirilis di Amerika Serikat pada tahun 1986 ini menceritakan perjalanan Sid Vicious, bassist Sex Pistols, band punk asal Inggris. Kisah cintanya dengan Nancy Spungen memberikan perubahan besar bagi perjalanan karir dan hidupnya.

Setelah pacaran dengan Nancy, Sid menjadi seorang pecandu heroin. Hidupnya menjadi kacau dan berujung pada bubarnya Sex Pistols saat tur ke Amerika pada tahun 1978.

Setelah itu, Sid memulai solo karir dengan Nancy sebagai ‘manajer’-nya. Kisah cinta mereka berakhir tragis pada 12 Oktober 1978, Nancy ditemukan meninggal dengan luka tusuk di Hotel Chelsea (tempatnya menginap bersama Sid selama di New York). Sid menjadi tersangka dan dipenjara atas pembunuhan itu. Meskipun akhirnya bebas, Sid meninggal dunia pada 1979 akibat overdosis heroin.

Sayangnya, alur cerita film ini lebih didominasi oleh adegan penyalahgunaan narkotika dan kekerasan. Kontribusi Sex Pistols pada pekembangan musik dan subkultur punk tidak banyak dibahas. Hanya ditampilkan dalam beberapa adegan singkat. Sex Pistols yang berideologikan anarkisme menjadi panutan bagi perkembangan punk pada zamannya hingga saat ini. Bukan hanya di Inggris saja melainkankan menyebar ke seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Kiranya hal inilah yang menarik untuk didiskusikan.

Punk banyak diadopsi oleh anak muda Indonesia. Sayangnya, seringkali hanyalah sebatas di musik atau fashion statement semata. Sebagai subkultur, punk menekankan kebebasan individu, semangat antikemapanan, prinsip do it yourself, dan aksi langsung bagi para penganutnya. Namun demikian, punk adalah produk barat. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya pengadopsiannya ke dalam budaya lokal harus disesuaikan dengan konteks  sosiokultural. Hal ini sangat penting agar tidak terjadi benturan dengan nilai-nilai lokal yang sudah mengakar.

Manifestasi punk juga bukan sebatas musik dan fashion saja. Punk juga diekspresikan dalam seni pertunjukan dan seni rupa. Karya-karya punk dalam seni rupa biasanya muncul sebagai cover album, selebaran acara, atau punk zine. Punk memiliki estetika yang unik dan komplek. Ia menentang batasan-batasan artistik yang sudah umum. Karya-karyanya menampilkan visual yang mengagetkan dan mengganggu Seringkali tampil sederhana, satire, dan menyampaikan isu-isu sosial secara gamblang.

Salah satu gerakan seni rupa yang bersemangatkan punk adalah Stuckisme. Stuckisme pertama kali muncul di Inggris. Para pengikutnya menentang karya-karya konseptual dan pemakaian narasi besar dalam berkarya. Mereka menganggap, narasi dan konsep yang terlalu muluk-muluk akan semakin memperlebar jarak antara karya dengan apresiatornya. Mereka juga menentang pemakaian artisan dan praktek kurasi yang kotor.

Selepas diskusi acara dilanjutkan dengan live music oleh gabungan mahasiswa seni rupa Unnes. B5 Ar[t]my dan Saloon Tattoo Syndicate ikut meramaikan acara dengan membuka lapak yang menjual beragam marchendise handmade dari bahan clay.

Adi Wicaksono, anggota Karamba Art Movement

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.