Kantong Budaya yang Ditinggalkan

PERTENGAHAN 1990-an, publik seni rupa mengenal komunitas Taring Padi yang hidup di Yogyakarta. Mereka selama beberapa tahun hidup di kampus FSRD ISI Yogyakarta, Gampingan, yang ditinggal. Institut tersebut waktu itu memindahkan seluruh aktivitas ke kampus yang baru.

Sekitar tahun itu juga, di Semarang muncul Sanggar Seni Paramesthi yang tinggal di joglo kampus lama Universitas Negeri Semarang (dulu IKIP Semarang). Kampus yang berada di Jalan Raya Kelud itu juga ditinggal begitu saja seiring perpindahan universitas tersebut ke Sekaran, Gunungpati. Paramesthi, dan juga Taring Padi, harus diakui membawa kehidupan baru bagi bangunan yang “ditelantarkan”.

Tahun lalu, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip boyongan dari kampus lama di Jalan Hayam Wuruk Pleburan ke Tembalang. Apakah kampus lama, yang penuh dengan goresan sejarah tak hanya di dunia kesenian tetapi juga politik dan kehidupan secara umum, itu bakal mangkrak?

Selama beberapa waktu, jawaban pertanyaan itu sepertiya “iya”. Ilalang dan rumput liar tumbuh subur di sana-sini sehingga mengesankan tempat yang suwung. Beberapa kalangan, terutama para seniman dan budayawan serta alumni kampus itu, menyayangkan hal tersebut.

Tanggap

Untung, Dekan FIB Dr Agus Maladi Irianto MA tanggap. Dia menggagas tempat itu sebagai pusat budaya dan telah disetuji Rektor. Namun kapan gagasan itu bakal diwujudkan, belum ada kabar pasti.

Sebagai “pemanasan,” berbagai acara digelar di tempat itu. Sebagai pembuka, diselenggarakan sebuah pergelaran wayang kulit semalam suntuk. Setelah itu, pementasan teater, diskusi, musik, berturut-turut diadakan pula.

Pertengahan minggu lalu, digeber peluncuran ulang buku kumpulan geguritan Blakotang karya Widyo Babahe Leksono dilangsungkan. Acara tersebut menghadirkan musikalisasi puisi berbahasa Jawa itu oleh Kelompok Pengamen Jalanan. Tampil pula penulis dan pemusik Latree Manohara dan sang anak, Ibit Sukma, serta Babahe.

Selain itu, ruang utama kampus teresebut kini juga menjadi tempat berlatih. Setidaknya ada dua komunitas yang menggunakan tempat tersebut untuk berlatih, yakni Paramesthi dan Komunitasku.

Ketua Paramesthi Daniel Hakiki mengatakan, salah satu alasan mereka menggunakan tempat itu adalah sedikit ruang kesenian di Semarang yang bisa digunakan untuk berproses.

“Kami semula berlatih di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Namun karena tempat itu digunakan oleh makin banyak komunitas, beberapa kali kami tak mendapat tempat. Akhirnya kami memutuskan meminta izin untuk berlatih di sini (kampus FIB) dan diperbolehkan,” katanya.

Semarang memang belum memiliki gedung pertunjukan yang layak. Bahkan TBRS yang seharusnya menjadi “rumah” bagi para seniman juga sama sekali belum memadai. Ketua Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Marco Manardi menyatakan selalu mendorong pemerintah untuk memaksimalkan fungsi TBRS untuk kegiatan budaya. (Adhitia Armitrianto/SuaraMerdeka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.