Foto “Asli” dan Foto “Settingan”

Foto Presiden Joko Widodo dengan Suku Anak Dalam menjadi perbincangan ramai. Ada yang menganalisis, foto itu setingan. Foto itu sengaja dibuat untuk memoles citra Presiden agar tampak merakyat. Bagaimana menanggapinya?

Dalam dunia fotografi, setingan dilarang sekaligus diperbolehkan. Dilarang, misalnya, pada fotografi jurnalistik. Adapun dalam fotografi model, produk, bahkan dokumentasi, tidak ada yang mempersoalkan jika foto diseting untuk memenuhi standar keindahan.

Tapi, apa yang dimaksud dengan setingan dalam fotografi? Sebagaimana karya seni lain, foto adalah karya kreatif. Si fotografer mendayagunakan keterampilan dan imajinasi tertentu agar karyanya baik. Dalam takaran tertentu, jurnalis foto pun menggunakan kreativitas untuk menghasilkan foto bagus. Pada jurnalis foto, kreativitas berkaitan dengan angel, komposisi, dan fokus.

Betapa pun dia tidak boleh memanipulasi objek, fotografer harus memilih angel tertentu. Apakah angel mata kodok (bawah), mata burung (atas), atau angel lain. Angel dipilih karena fotografer punya kecenderungan menonjolkan objek tertentu. Ini dilakukan agar pesan yang ingin disampaikan sampai kepada audience.

Komposisi berkaitan dengan proporsi objek dalam ruang intip. Komposisi diatur agar sebuah objek tertetu menempati porsi dominan, atau sebaliknya: terdominasi. Dalam pengaturan komposisim fotografer juga mengatur apakah akan mengisi seluruh ruang atau menyisakan ruang tertentu tetap kosong. Ruang yang penuh menimbulkan sensasi ramai, hiruk pikuk, dan semarak. Adapaun ruang kosong digunakan untuk menciptakan rasa sunyi, tenang, atau hampa.

Fotografer foto juga mengatur fokus. Teknik ini dilakukan untuk mengarahkan mata pembaca agar menaruh perhatian pada objek tertentu. Selain dilakukan dengan memilih angel yang tepat, fokus juga diatur dengan mem-blur-kan objek tertentu. Ada objek yang dijadikan frontground, ada yang dijadikan background.

Dengan argumentasi itu, bisa dikatakan bahwa semua karya fotografi mengandung unsur setingan. Namun, apakah semua setingan berimplikasi buruk?

Setingan berimplikasi buruk jika dilakukan untuk membohongi orang. Artinya, foto itu dirancang sedemikian rupa supaya orang yang melihatnya mempersepsi keliru objek bersangkutan. Setingan juga tidak diperkenankan jika fotografer melakukan intervensi berlebih terhadap objek yang dipotretnya. Setingan jenis ini bisa disebut sebagai rekayasa dan sangat dekat dengan penipuan.

Fotografi jurnalistik adalah seni kejujuran visual. Dengan foto, fotografer menyampaikan sesuatu apa adanya. Ia menjadikan kamera sebagai juru bicara yang indipenden. Jurnalis foto yang baik akan menjaga kameranya dalam posisi terhormat itu. Ia juga tidak akan melakukan pengaturan yang membuat objek fotonya rusak, terdistorsi, dan tidak lagi orginal.

Foto Presiden Jokowi yang ramai diperbincangkan itu sebenarnya mengandung dua hal sekaligus. Foto itu dapat dikatakan settingan sekaligus tidak setingan.

Dapat disebut setingan karena si fotografer menggunakan teknik angel, komposisi, dan fokus. Teknik angel yang dipilih adalah front. Si fotografer memotret dari depan Jokowi sehingga wajah sang presiden tempak jelas. Adapaun lima suku anak dalam tidak dikenali wajahnya karena hanya tampak punggung.

Fotografer juga menggunakan komposisi. Objek utama diletakkan di tengah dan ditempatkan secara simetris. Ini jenis pengaturan lama, namun tetap populer.

Nah, persoalannya, apakah fotografer atau timnya mengintervensi objek foto? Apa betul suku anak dalam yang berpakaian diminta melepas pakaiannya sehingga tampak etnik? Untuk menjawabnya secara akurat, diperlukan penyelidikan yang lebih mendalam saat foto diambil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.