Fathur Rokhman, Cara Rektor Termuda Memajukan Kampusnya

Dilantik menjadi rektor saat berusia 46 tahun, Fathur Rokhman menjadi salah satu rektor perguruan tinggi negeri termuda di Indonesia. Dengan modal itu, ia berencana memimpin Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan cara anak muda. “Anak muda itu bersemangat, memiliki tradisi berprestasi, dan selalu berakselerasi,” katanya.

Tahun 2012, terjadi pergantian kepemimpinan di universitas tempatnya mengajar. Rektor pada saat itu Prof Sudijono Sastroatmodjo mengundurkan diri. Diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud), pengganti rektor adalah salah satu dari para pembantu rektor.

Menteri saat itu M Nuh memilih Fathur Rokhman yang saat itu menjabat sebagai Pembantu Rektor Bidang Pengembangan dan Kerja Sama. “Saat itu tugas saya adalah melanjutkan kepemimpinan terdahulu sambil menyiapkan suksesi rektor periode berikutnya,” kata Fathur.

Pada pemilihan rektor September 2014 lalu, ia kembali terpilih menjadi Rektor Unnes periode 2014-2018. Bersama beberapa pejabat dan kementerian reistek dan dikti, ia dilantik oleh Menrsitekdikti M Nasir, Kamis (18/12).

Mengenai style-nya yang ngenomi (bergaya muda), Fathur menganggap itu sebuah keniscayaan. Pertama, lembaga yang dipimpinnya adalah lembaga yang mendidik dan mengembangkan anak-anak muda. Mahasiswa di kampusnya kini berjumlah 34 ribu orang. “Penting bagi saya untuk memahami dunia batin mereka,” katanya.

Kedua, style kepemimpinan anak muda, kini lebih relevan dengan kehendak zaman. Menurutnya, kepemimpinan anak muda adalah kepemimpinan yang dinamis, akrab, tapi progresif.

“Style kepemimpinan ini terbukti efektif di Tanah Air. Selain presiden Joko Widodo, gaya seperti ini dipraktikkan Gubernjur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Di Bandung, Ridwan Kamil juga mempraktikkan gaya kepemimpinan itu. Sudah tidak sesuai lagi kalau lembaga pendidikan bersikap birokratis dan kaku,” papar pria yang kini berstatus santri di Pesantren Az-Zuhri Semarang ini.

Gaya itu bukan sesuatu yang sengaja diciptakan secara tiba-tiba. Selama tujuh tahun menjadi Pengembangan dan Kerja Sama, ia merasakan manfaat gaya kepemimpinan seperti itu. Terlebih, ia juga menjadi profesor termuda pada usia 38 tahun.
Menjadi Rumah Ilmu

Meski demikian, ia mengaku sadar, modal muda saja tidak cukup. Menurutnya, kepemimpinan organisasi modern juga harus ditopang dengan visi dan misi yang baik. Visi digunakan Fathur untuk mengelola energi organisasi agar diarahkan pada tujuan yang jelas. “Ke depan, salah satu yang ahrus diperkuat adalah menjadikan Unnes sebagai rumah ilmu,” katanya. “

Menurut Fathur, sebagai rumah ilmu, aktivitas apa pun yang dilakukan di Unnes berorientasi pada nilai keilmuan. Apa pun yang terjadi, bahkan yang baru direncanakan, dilakukan untuk kepentingan keilmuan. Di sanalah ilmu disemaikan, ditanam, agar buahnya dapat dipetik oleh masyarakat. “Perguruan tinggi, termasuk Unnes, harus kembali kepada khittah keilmuannya,” katanya.

Visi itu akan ditopang dengan pengembangan tradisi akademik, baik di kalangan dosen, mahasiswa, maun tenaga kependidikan.
Fathur berpendapat, dosen yang baik itu tidak hanya menghabiskan waktunya di kelas. Dosen yang baik itulah yang mengajar melebihi jam di kelas. Artinya, ia membuka waktu kapan saja untuk menerima konsultasi dari mahasiswa. Dosen pun harus memiliki penelitian-penelitian yang mengagumkan dan mampu menginspirasi para mahasiswanya. Ia harus memiliki visi kebangsaan.

Namun, lanjut Fathur, dosen yang demikian baru bisa tumbuh di dalam iklim akademik yang sehat. Dosen harus melepaskan identitas “keakuan” dan “kekamian” menuju identitas “kekitaan”. Identitas keindonesiaan membuat dosen berparadigma memberi, bukan menerima.

Empat Strategi
Agar perguruan tinggi dapat memenuhi tugas kulturalnya sebagai rumah ilmu, Fathur berpendapat ada empat prinsip dan kondisi yang harus dipenuhi. Pertama, dialog antardisiplin. Ilmu pengetahuan adalah sebuah pohon. Agar ilmu pengetahuan berkembang, persentuhan antardisiplin wajib terjadi.

Kedua, menjaga jalinan aksiologis antara ilmu dengan realitas sosial. “Leluhur kita pernah menyampaikan pesan bahwa “ilmu kelakone kanthi laku”. Sesanti ini bisa dipahami bahwa, pengetahuan harus keluar dari kandang ontologis dan epistimologisnya sehingga menemukan konteks sosial yang relevan.”

Ada kewajiban moral bagi cendekiawan untuk memanfaatkan ilmu pengetahuannya bagi sesuatu di luar dirinya. Ilmu terkuruang pada refleksi di ruang sunyi, tetapi juga hadir pada ruang sosial yang riuh dan gelisah. Ilmu perlu dihadirkan dalam berbagai aktivitas kemanusiaan.

Ketiga, kesediaan membuka pikiran. Kampus hanya dapat melegetimiasi dirinya menjadi rumah ilmu jika individu-individunya memiliki pikiran terbuka. Artinya, mau menerima kebenaran versi lain serta membuka ruang dialog terhadapnya.

Terakhir, rumah ilmu juga harus dibangun dengan prinsip partisipasi, bukan kontrol mutlak, dan lebih-lebih dominasi. Prinsip ini amat penting, terutama berkaitan dengan keterbatasan seseorang terhadap dunianya.

“Untuk memahami sesuatu secara lebih utuh, diperlukan sumbangan dari tiap-tiap orang yang terlibat di dalamnya. Prinsip partisipatif ini pula yang mestinya dikembangkan dalam kepemimpinan perguruan tinggi,” katanya.

1 Comment

  1. Pingback: Begini Gaya Rektor Unnes Berdialog dengan Mahasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.