Udinus Besar Karena Usaha Panjang Edi Nursasongko

NAMA besar Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) tentu tak bisa dilepaskan dari nama pendirinya, Edi Nursasongko. Ia bukan hanya pendiri, tetapi sekaligus rektor. Di tangannya, Udinus yang awalnya hanya tempat kursus, berkembang menjadi universitas dengan 9.000 mahasiswa.  Hampir dipastikan, tak ada warga Semarang yang tak mengenal universitas ini.

Jalan panjang Edi membangun Udinus diawali pada  1986. Ketika merasa karirnya sebagai direktur sebuah lembaga pendidikan di Jakarta dirasa telah mentok, ia memutuskan pulang kampung ke Semarang. Memboyong anak dan istri Edi hidup di rumah orang tuany, Edi mulai merintis usahanya.

Edi Nursasongko adalah sarjana komputer. Saat itu, diakui Edi, belum banyak sarjana komputer. Karena itu, ketika ia lulus kuliah D3 di Akademi Informatika dan Komputer Jakarta, banyak tawaran yang datang kepadanya. Akhirnya, ia mengambil tawaran di sbeuah lembaga pendidikan, menajdi direktur dengan gaji Rp 1 juta.

Gaji tinggi, pada masa itu, tak membuat Edi Nursasongko puas. Ia justru khawatir karirnya akan mentok. Pasalnya, ia sudah di posisi direktur“Ya, di atas saya kan tinggal pemiliknya,” seloroh Edi. Maka, ia mulai memeprsiapkan diri mendirikan lembaga pendidikan komputer sendiri.

udinus

Berhutang

Demi mewujdukan cita-citanya, Edi meminjam uang Rp65 juta pada seorang teman dengan bunga 2 persen. Saat itu, ia sempat dimarahi orang tuanya. “Balik lagi ke Semarang, menganggur, cari utangan lagi!” kenang Edi.

Bermodal Rp 65 juta plus tabungannya selama bekerja, laki-laki kelahiran  16 Juni 1955 ini mendirikan LPK Imka di Semarang. Ia menyewa sebuah rumah di Singosari dan mulai mempromosikan kursus komputernya.

Sebagai pengajar, Edi memanggil kawan-kawannya yang masih nganggur. Ia memberi mereka pelatihan dan yang mampu langsung didaulat menjadi pengajar.

Tapi, berbisnis pendidikan tidak seenak kelihatannya. Edi harus bersusah payah mengumpulkan murid. Baru tiga bulan kemudian dia mencatat ada 186 murid untuk delapan kelas.

Karena sifat kursusnya cuma tiga bulanan, Edi pun harus puyeng setiap saat demi kelangsungan kelasnya. Itu sebabnya, ia lantas menyusun kurikulum untuk kursus setahun plus iming-iming beasiswa ke Singapura.

“Waktu itu masih jarang sekali yang menawari hadiah beasiswa ke luar negeri,” ujarnya. Tak dinyana, peminatnya lantas membeludak.

Setelah itu Edi bak kejatuhan rezeki. Ia bisa mengembangkan bisnis dengan mendirikan kursus sejenis di Solo, Yogya, Surabaya, dan Bandung. Karena promosi beasiswa itu, masing-masing lokasi bisa memiliki 1.000 orang murid.

“Duit saya waktu itu banyak sekali,” tutur Edi sembari tersenyum. Alhasil, mengirim lima murid ke Singapura tiap tahun dengan biaya masing-masing Rp 10 juta adalah hal kecil baginya.

Tapi, setelah diperhatikan, lulusan LPK Imka berpendidikan minimal SMA. Pasar tenaga kerja tidak banyak menyerap lulusan SMA. “Mereka paling cuma bisa bekerja di ruko-ruko,” kata Edi. Maka, Edi bertekad meningkatkan status kursusnya menjadi akademi.

Impiannya segera terwujud. Tahun 1990 ia mendirikan Akademi Dian Nuswantoro. Nama tersebut punya arti mendalam. Dian merupakan singkatan dari dumununging insun angrokso negoro nuswantoro.

Menurut Edi, nama itu sebagai gambaran keinginannya untuk ikut merawat Nusantara. “Saya memakai bahasa Jawa, karena saya orang Jawa,” dalihnya.

Karena harus berkonsentrasi pada sekolah ini, Edi menutup semua cabang LPK Imka, kecuali cabang Solo dan Semarang.

Tidak cukup dengan akademi, tahun 1994 Edi mengembangkannya menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Dian Nuswantoro. Sebentar kemudian ia mendirikan sekolah tinggi lain untuk bidang kesehatan, ekonomi, dan bahasa.

Memiliki banyak sayap dalam satu bidang begitu ternyata tidak gampang. Agar sekolah itu lebih terintegrasi, Edi mengajukan izin untuk universitas.

Begitu izin keluar, ia segera bertindak. Alhasil, tahun 2001 Universitas Dian Nuswantoro pun berdiri. Universitas ini merangkum empat sekolah tinggi yang sebelumnya didirikan Edi dan satu fakultas baru, yakni Fakultas Teknik. Edi, yang sekarang menjabat Rektor Udinus, juga menambahkan program Pascasarjana.

TV Kampus Udinus

Kalau kampus lain harus berbisnis karena harus mencukupi kebutuhan sendiri, maka Edi Nursasongko membikin stasiun televisi untuk mendongkrak pamornya.

Menurut Edi, saingan terberat bagi kampusnya adalah universitas negeri. Itu sebabnya, ia harus memikirkan cara untuk memberi sesuatu yang lain bagi Udinus.

Jalan keluarnya ternyata justru muncul dari dalam kampus, yakni membuat stasiun televisi sendiri. Ceritanya, Fakultas Bahasa punya program merekam pidato bahasa Inggris saat kuliah broadcast.

Rekaman itu kerap disiarkan sebatas kalangan fakultas saja. Lama-lama fakultas lain pun ingin melakukan hal serupa. Namun, gelombang siaran sulit untuk dibatasi. Itu sebabnya, Edi lantas mengurus izin siaran.

Izin televisi diperoleh dalam waktu satu setengah tahun. Tahun 2004 TVKu mulai mengudara. Siarannya dapat diterima dengan bersih di Semarang. Edi pun mulai menerima iklan. “Lumayan, bisa buat menutup ongkos operasional,” katanya.

Kini, TVKU berkembang menjadi televisi lokal yang menyuguhkan beragam program. Dan Udinus, tampaknya akan terus berkembang. Udinus, udinus, udinus…