Connect with us

Tokoh

Rm Riana, Administrator Keuskupan Agung Semarang

Published

on

SUDAH satu tahun lebih Keuskupan Agung Semarang (KAS) kosong. Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo Pr sejak 2009 menjabat sebagai Uskup Koajutor Jakarta.

Sementara Mgr Johanes Pujasumarta Pr yang telah dilantik secara resmi oleh Paus Benedictus II sebagai Uskup Agung Semarang, belum ditempatkan di Keuskupan Semarang. Maka, untuk sementara Keuskupan dipimpin Rm Pius Riana Prapdi sebagai administrator. Siapakah dia?

Romo Riana (sering dilafalkan Riono), asli kelahiran Yogyakarta. Di Kampung Gemawang, Sidoadi, di dekat Monumen Jogja Kembali ia lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak. Ia bergaul dengan banyak orang, termasuk kawan-kawan yang tidak beragama Katolik. “Banyak teman-teman saya yang muslim,” katanya.

Seperti anak kampung kebanyakan, Rm Riana kecil senang ronda. Bersama rekan-rekannya ia keliling kampung untuk menjaga keamanan. Duduk di Poskamling pun biasa ia lakoni. Bahkan, bersama teman-teman, sesekali ia mencuri jambu tetangga untuk disantap bersama. “Itu sengaja kami selamatkan. Maksudnya, kami selamatkan dari codot untuk kami makan bersama,” guraunya.

Rm Riana memang tidak ingat persis. Tapi ketika diminta menggambarkan masa kecilnya, ia mengaku tidak berbeda dengan bocal laki-laki kebanyakan. “Saya juga pernah berkelahi,” akunya. Terlebih, saat SMP ia memang memilih di sekolah negeri, sehingga teman-temannya beragam.

Ia memang sudah sejak lama ingin menjadi pelayan Tuhan. Sebagai anak dari keluarga Katolik yang taat ia terbiasa ke gereja. Bahkan, aku Rm Riana, saudaranya ada yang mengikuti jejak menjadi pelayan Tuhan. Dari empat adiknya, ada dua yang menjadi pastur. Pakdhenya juga ada yang memilih “jalan sunyi” menjadi abbas di Temanggung.

Meski begitu, tekad bulat Romo Riana untuk menjadi pelayan Tuhan justru baru muncul karena sebuah kejadian kecil. Saat itu, di sebuah gereja di dekat rumahnya akan diselenggarakan misa. Ia paling senang jika romo memberikan anggur dan roti. Namun, acara itu ternyata ditunda karena romo yang bertugas tidak hadir. Padahal, ia sangat suka anggur dan roti sampe itu. Ia lalu membatin, “kenapa harus romo yang membagikan. Saya juga bisa,” kenangnya. Sejak saat itulah ia merasa mendapat panggilan untuk hidup bersama Tuhan.

Tubuh Romo Riana yang tinggi besar, konon sempat membuat beberapa rekan putrinya tertarik. Ia sekolah di SMP Negeri 6 Yogyakarta yang siswanya dari berbagai latar belakang keyakinan. Suatu hari, salah satu rekan wanitanya mengungkapkan rasa cinta kepadanya. “Saya syukuri saja. Itu artinya saya dianggap ada,” terangnya, sambil tersenyum. “Mencintai itu tidak harus memiliki, tetapi memberi kebebasan supaya ia menemukan jalan hidup yang dikehendaki,” lanjutnya.

Kejadian semacam ternyata tidak hanya terjadi sekali. Namun, Romo Riana hanya tertawa saat diminta menyebutkan jumlah pastinya. “Tidak ingat. Tidak bisa dihitung,” selorohnya. “Maksud saya memang karena tidak ada yang dihitung.” Ia Kembali tertawa.

Jauh hari sebelum menjadi vikjen Keuskupan Agung Semarang (KAS) sejak 10 Juli 2008, Rm Riana menempuh perjalanan rukhani yang panjang. Ia ditahbiskan sekitar tahun 1995 di Seminari Tinggi Yogyakarta. Selanjutnya, ia menempuh studi di Seminari Santo Paulus Yogyakarta. “Dua tahun. Antara 1995 sampai 1997,” ucapnya.

Selesai menempuh studi, Rm Riana mengabdikan diri di Paroki Santa Perawan Maria Sragen hingga tahun 1999. Setelah itu, ia berpindah di Paroki Mlati di Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Sleman. Paroki Mlati, menurut Rm Riana terletak di desa kecil yang berhadapan langsung dengan Merapi. Blog paroki ini bahkan menyebut “kami tak keberatan untuk dipanggil Paroki Desa, karena disinilah kami merasakan kedamaian, suasana gotong royong, keramahan, kejujuran pedesaan,” demikian ditulis.

Saat bertugas di Paroki Mlati inilah Rm Riana juga menjadi Direktur Yayasan Dinamika Edukasi Dasar, sebuah yayasan yang didirikan Rm. YB Mangunwijaya atas keprikhatinanya pada bidang pendidikan. Baru pada tahun 2001 ia melanjutkan studi Teologfi Moral di Vatikan. Setelah selesai pada tahun 2003, ia bertugas di Paroki Kidul Loji Yogyakarta. Baru pada tahun 2008 ia ditunjuk menjadi vikjeni Keuskupan Agung Semarang.

Tidak lama setelah itu, Uskup Agung Semarang saat itu Mgr Ignatius Suharyo ditarik menjadi Uskup Agung Jakarta. Rm Riana akhirnya menjadi pelaksana tugas Uskup Agung Semarang. “Urusan biorkrasi keuskupan sementara ini saya yang menangani,” ucapnya.

Jumat 16 November lalu Paus Benediktus XVI di Takhta Suci Vatikan menunjuk Mgr Pujasumarta sebagai Uskup Agung Semarang. Namun, karena baru akan diterima 7 Januari mendatang, Rm Riana masih menjadi pelaksana tugas uskup agung. “Bula dari Vatikan akan diperlihatkan dan dibacakan pada penyambutan 7 Januari di Gereja Katedral, karena itu memang gereja Uskup Agung,” katanya.

Usia 21 hingga 22 tahun menjadi pijakan penting dalam hidup Rm Riana. Sebab, saat itulah ia memasuki tahun rukhani. Ia melakoni semacam pendidikan selama 1 tahun untuk membina rukhani. “Setiap hari hanya berdoa. Tidak sekadar dilafalkan, doa itu terinternalisasi sehingga menemukan konteks dalam kehidupan saya,” ujarnya.

Karena itu, meski mengaku kerap merasakan gejolak psikis dan biologis sebagaimana kebanyakan laki-laki, hal itu sudah bukan persoalan. “Justru seorang romo harus normal, merasakan gejolak karena setiap manusia mengalami perkembangan,” ujarnya.

Menurutnya, setiap orang mengalami perkembangan fisik, biologis, dan psikis. “Tapi jangan lupa, kemampuan spiritual juga harus dikembangkan. Tidak hanya harus diimbangi, justru perkembangan spirituallah yang harus menjadi komandan diri kita.”

Menurutnya, nafsu hanya ledakan sesaat yang muncul dari manusia. Untuk mengendalikannya Rm Riana berusaha membudayakan meditasi. “Meditasi bukan sekadar mengulang sabda Tuhan, tetapi memahami dan mencoba membangun habitus baru,” katanya.

Gejolak dalam kehidupan manusia, lanjutnya, mestinya menjadi refleksi iman.

Sebagai pengampu tugas Keuskupan Agung, Rm Riana mengaku prikhatin melihat kondisi masyarakat saat ini. Terlebih, peradaban hanya memenangkan mereka yang bersuara keras daripada yang tidak bersuara. “Akibatnya, kehidupan manusia tidak lagi bermartabat.” Manusia seolah-olah telah menjual diri kepada pasar sehingga menjadi tidak bermartabat.

Menurut Rm Riana, manusia, selain homo ekonomikus, juga homo sapiens dan homo sosial, bahkan homo spiritual. “Penting untuk mewujudkan diri sebagai manusia yang utuh,” ujarnya. Hati nurani harus tetap menjadi pemandu kehidupan supaya di tengah berbagai kesusahan, manusia bisa menemukan optimism.

“Sebab dalam hati nuranilah Allah berada,” ujarnya. “Jangan mengikuti arus peradaban. Hati nurani telah tumpul tertutup kepentingan.”

 

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Lucia Helda ( Ida-Nduwet )

    October 7, 2011 at 7:45 am

    Rm Riana adalah sosok Romo yang sangat saya kagumi, saya salah satu umat di Gereja Katolik Paroki Mlati , dulu ketika saya masih kuliah sampai saya kerja di Hotel Matahari Yogya saya selalu ikut misa pagi dengan Rm Riana, saya merasa Tuhan benar hadir saat Romo Riana berkotbah, kotbahnya sangat singkat tapi benar2 mengena di hati kita dan terasa kita benar2 dekat dengan Tuhan. Tiap pagi saya pun berdoa kiranya Tuhan selalu memberkati jalan Rm Riana agar semakin setia melayani Tuhan dan puji Tuhan saya bahagia sekali saat ini Romo Riana berhasil menjadi Administrator di Keuskupan Agung Semarang, kiranya berkat Tuhan senantiasa menyertai Romo Riana dan Paus , Uskup dan semua Pastor serta Biarawan dan Biarawati agar makin setia melayani TUHAN. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending