Catatan Harjanto Halim: Surat Istri kepada Dirinya Sendiri

Di Republik ini, wanita masih menempati posisi yang lemah; di rumah selalu jadi kalah-kalahan semata. Ekonomi rumah tangga morat-marit? – salah isteri yang tidak bisa mengirit. Suami selingkuh? – salah isteri yang tidak bisa melayani. Anak tidak naik kelas? – salah isteri yang tidak bisa ngajari. Pembantu keluar, kucing keracunan, pohon ambruk, PLN byarpet, pompa mati, perkutut dicolong…, sebutkan saja, semua salah isteri. Kadang rasanya pengin menjerit, menjerit keras sekali, “SEMUA SALAHKU! AKU YANG SALAH! AKU YANG SALAH!!” Whuaaaa…

Seorang staf wanita membaca buku ‘Chicken Soup’. Ia menyimpulkan, “Ternyata wanita…, kodratnya memang harus melayani…”
Staf wanita lain yang mendengar, ikut mengamini sekaligus manggut-manggut prihatin. Hmm, bener juga. Dari subuh melek mata hingga larut malam, saat tubuh nan penat terkulai lemas di haribaan nan empuk, memejamkan mata yang telah sepet; nikmat surgawi mana yang kau dustakan?

Tau-tau…

“Tolong matikan lampu, gih…,” kata suami sambil selonjor, enak-enakan nonton TV.
Padahal saklar lampu, jelas dalam jangkauannya. Isteri terpaksa melek lagi; menyingkap selimut, mengangkat tubuh yang kadung melebur dalam hangat dekapan bantal dan guling. Yo wes timbang gegeran. Ingat kodrat wanita – siap MELAYANI.

Suami mau berangkat kerja, kelabakan kesana kemari, ke kamar mandi, keluar kamar, ke ruang makan; panik memanggil isteri yang sedang nguleg brambang untuk bikin nasi goreng.
“Dompetku dimana?,” nadanya bertanya, tapi sarat tuduhan; seolah isteri harus selalu serba tahu, dimana ia telah meletakkan barang pribadi yang notabene selalu melekat di pantatnya.
Isteri menatap suami; uleg di tangan kanan. Wong barangnya sendiri, dibawa sendiri, dikantongi sendiri, kok kita yang ditanya. Apa ya pernah kita tanya pada mereka, “Eh, kamu lihat underok ku ndak? Apa ya pernah??” Nggemeske tenan. Kadang rasane pengin tak uleg sisan!!!

“Ada baiknya suatu saat, kita menulis surat untuk diri sendiri. Surat cinta pada diri…,” kata si staf lagi, membacakan resep buku ‘Sup Ayam’nya.
Hmm, benar juga ya. Sudah bertahun-tahun bekerja dan melayani, wanita tak pernah memikirkan diri sendiri. Semua untuk suami, semua untuk keluarga. Siapa yang pernah memperhatikan wanita? Ada kalanya perlu juga melakukan sesuatu. Sekedar memberi perhatian, sekedar menulis surat – pada diri.
“Lha suratnya diposkan tidak?,” tanya saya.
HªHŪHÁªHÃ, kayak Mr Bean saja. Dalam salah satu film nya, Mr Bean kesepian. Nulis kartu Natal untuk diri sendiri, diposkan sendiri, pura-pura kaget sendiri…

Sebuah kisah seorang pasien di rumah sakit jiwa. Seharian asyik menulis surat. Si pasien selesai menulis dan memasukkannya dalam amplop. Pak Dokter lewat.
“Nulis surat pada siapa, nih?,” sapa pak Dokter ramah.
“Pada aku sendiri, Pak Dokter,” jawab si pasien.
Pak Dokter tersenyum dan mengangguk.
“Lha suratnya mau dikirim?,” tanya pak Dokter lagi.
“Ya pasti dikirim, pak Dokter…,” jawab si pasien.
“Lha isi suratnya apa…?,” tanya pak Dokter penuh pengertian.
Si pasien melotot, lalu ketus menjawab, “Pak Dokter GILA ya..??!! Ya saya nggak tahu..! Wong saya belum terima…!!!”
HªHŪHÁª. Rasain loe.

Sedikit saran bagi para wanita yang telah melayani tanpa henti, cari momen untuk berkomunikasi – tulis surat untuk diri sendiri. Tunggu suami pulang dan melihat. Saat suami bertanya, “Itu surat untuk siapa?”; anda tahu harus menjawab apa.
“Untuk diri aku sendiri, mas…”
Saat suami kembali bertanya, “Apa sih, isi suratnya?”
Umpan disambar. Inilah momen tepat untuk mencurahkan isi hati. Suntak semuanya, seutuhnya.

“*!?*dhuerrr…!!!!@»dhuerrr…!!!!¤…!!”

Monggo, silahkan diatur dan direncanakan. Kadang kejutan kecil, baik juga untuk para suami yang sering lupa berterimakasih.

Pebuari 2013

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *