Berdesak-desakan Demi Baju Lebaran, Wabah Corona Diabaikan

Boja, Kendal – Lebaran memang identik dengan baju baru. Begitu juga dengan sejumlah warga daerah Boja. Toko-toko pakaian di daerah Boja ramai menjelang lebaran. Sejumlah pembeli berdesakan untuk membeli pakaian seperti tradisi tiap tahun. Jaga jarak sudah tidak dipatuhi oleh pembeli.

Keberadaan corona tidak menghalangi antusias warga di daerah Boja untuk membeli baju baru demi tampil prima  saat lebaran. Toko-toko pakaian diserbu pembeli. Salah satunya toko yang menjual pakaian dengan harga murah. Dampak ekonomi akibat adanya pandemi, menyebabkan masyarakat memilih toko yang menjual pakaian dengan harga terjangkau.

Sudah satu minggu ini, toko pakaian di daerah Boja dipenuhi warga yang ingin membeli baju lebaran. Kemacetan disekitar toko tidak bisa dihindarkan. Parkiran toko dipenuhi kendaraan pengunjung yang mayoritas sepeda motor.

“Toko-toko pakaian sangat ramai menjelang lebaran. Tempat parkir yang berada di depan toko dipenuhi oleh kendaraan hingga membludak, sehingga sejumlah sepeda motor ada yang diparkir di pinggir jalan. Hal tersebut menimbulkan kemacetan. Terutama jalan disekitar toko serba 35.000. Masyarakat sangat antusias untuk membeli barang yang relatif murah,” ungkap April, salah satu pengunjung toko pada Jumat (22/05/2020).

Bukan hanya masalah kemacetan saja, para pembeli bahkan mengabaikan anjuran pemerintah untuk menjaga jarak. Pada antrian di kasir, para pembeli mengantri saling berdekatan. Antrian mengular, pembeli harus menunggu cukup lama untuk membayar barang belanjaan. Tidak ada himbauan dari pemilik toko untuk menjaga jarak. Aktivitas jual beli berjalan normal seperti sebelum adanya corona.

“Saya harus mengantri lama untuk membayar di kasir. Toko sangat ramai. Tidak ada jaga jarak, para pembeli saling berdekatan saat membayar maupun saat memilih pakaian,” ungkap April.

Protokol kesehatan juga diabaikan oleh pemilik toko maupun pembeli. Saat memasuki toko tidak ada himbauan untuk jaga jarak dan pengecekan suhu tubuh. Toko tidak menyediakan tempat cuci tangan maupun hand sanitazer bagi pembeli yang datang.

Di sisi lain, sejumlah pembeli kedapatan tidak menggunkan masker saat memasuki toko. Terdapat pula pembeli yang memakai masker tidak sesuai prosedur. Mereka memakai masker hanya menutupi bagian mulut, bagian hidung dibiarkan terbuka. Hal tersebut tentu sangat berbahaya.

Meskipun di Kecamatan Boja termasuk dalam zona hijau, bukan berarti penyebaran virus corona tidak akan terjadi. Kendal sebagai Kabupaten dari Kecamatan Boja belum sepenuhnya bersih dari corona. Dikutip dari corona.kendalkab.go.id (22/05/2020) kasus positif corona di Kabupaten Kendal berjumlah 10 kasus, dengan rincian 8 orang sembuh, 1 dirawat, dan 1 isolasi mandiri. Dengan melihat data tersebut, daerah Boja masih berpeluang terjangkit Covid-19.

Sebagian besar warga daerah Boja mengetahui bahaya virus corona. Mereka mengetahui pentingnya jaga jarak dan memakai masker saat berpergian. Namun, mereka cenderung acuh tak acuh terhadap himbauan pemerintah sebagai upaya pemberantasan virus corona.

“Corona memang berbahaya. Banyak korban akibat virus corona. Untuk pergi berbelanja saya rasa wajar karena tidak setiap hari keluar rumah. Terkait dengan jaga jarak dan memakai masker, masih banyak orang yang melanggar terutama di daerah Boja ini. Hal tersebut dikarenakan jumlah kasus positif Covid-19 di Boja relatif rendah. Jadi masyarakat tidak begitu takut untuk keluar rumah apalagi sekedar berbelanja kebutuhan lebaran,” ujar Kati, salah satu pembeli di toko pakaian.

Keberadaan toko-toko online sebagai solusi berbelanja saat pandemi, tidak dimanfaatkan oleh warga. Berbelanja secara online menimbulkan ketakutan karena rentan terhadap penipuan. Selain itu, beberapa warga tidak mengetahui cara berbelanja secara online dikarenakan kurang menguasai teknologi.

“Belanja secara online memang mudah, tapi lebih enak pergi langsung ke toko biar bisa lihat kualitas barang secara langsung. Takutnya kalau beli di toko online bisa ketipu,” ungkap April (22/05/2020).

Pada dasarnya berbelanja saat pandemi tidak dilarang. Namun jangan sampai mengabaikan anjuran pemerintah untuk menjaga jarak dan memakai masker saat keluar rumah. “Corona ini merupakan musibah, sehingga jangan saling menyalahkan satu sama lain. Kesadaran dalam diri untuk mengikuti anjuran pemerintah yang perlu ditekankan,” pesan April diakhir wawancara.

[Seftia Kusumawardani]

Berita ini merupakan hasil latihan mahasiswa peserta mata kuliah jurnalistik dari Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.