Agar Sukses Ajarkan Sejarah Kontroversial

Isu-isu kontroversial dalam sejarah bangsa tak seharusnya disembunyikan. Dengan pendekatan yang tepat, sejarah kontroversial  bisa dikembangkan menjadi pembelajaran yang menantang nalar kritis siswa. Guru perlu menggunakan pendekatan mengajar yang tepat.

Menurut dosen Sejarah Universitas Negeri Semarang (Unnes) Tsabit Azinar Ahmad, sejarah kontroversial adalah sejarah yang dalam penulisannya menimbulkan sejumlah pendepat yang berbeda, yang akhirnya memunculkan beberapa versi bahkan pertentangan antarversi. Tiap-tiap versi memiliki landasan yang menurut penulisnya kuat. Tahun 2011 Tsabit meriset pengajaran sejarah kontroversial di sejumlah sekolah di Kota Semarang.

“Isu sejarah bisa menjadi kontroversial karena beberapa hal, misalnya karena memiliki dampak politik, sosial, maupun personal serta membangkitkan perasaan karena berkaitan dengan hal yang mempertanyakan kepercayaan atau nilai yang dianut,” tulisnya dalam laporan penelitian tersebut. Perbedaan bisa semakin rumit karena perbedaan cara pandang yang disebabkan perbedaan pengalaman, minat, dna nilai-nilai tertentu.

Menurut Tsabit, sifat kontroversial hampir selalu melekat dalam sejarah karena sejarah sendiri sesuatu yang belum selesai, tetapi masih berproses. Akibatnya, muncul fakta-fakta dan intepretasi baru yang tidak selalu sama dengan fakta dan intepretasi sebelumnya. Akibatnya, satu peristiwa sejarah yang sama ditulis oleh pihak yang berbeda dengan intepretasi yang berbeda pula. Dalam kondisi seperti itulah versi sejarah satu dengan versi lain kerap saling bantah.

Tsabit mengategorikan ada dua tipe sejarah kontroversial, yaitu sejarah kontroversial nonkontemporer dan sejarah kontroversial kontemporer. Pengategorian ini didasarkan pada waktu terjadinya peristiwa. Pada sejarah kontroversial jenis pertama kontrovesi biasanya terjadi karena perbedaan pendapat, teori, atau pendekatan yang dilakukan sejarawan dalam melakukan penulisan sejarah. Adapun pada jenis kedua, kontroversi bisa terjadi karena kadar subjektivitasnya cukup besar.

Dibandingkan jenis pertama, sejarah kontempoere  relatif lebih berpotensi memunculkan perdebatan. Selain karena subjektivitasnya yang besar, dalam sejarah kontemporer, orang yang mengkajinya dimungkinkan lebih banyak karena rentang waktunya tidak terlalu lama. Selain itu, lazimnya ada kepentingan tertentu yang ada dalam sejarah. Kepentingan itu bisa berasal dari pihak yang terlibat dalam peristiwa sejarah tetapi juga bisa berasal dari pihak yang ingin menggunakan peristiwa sejarah untuk kepentingan tertentu.

Dalam penelitian yang sama, Tsabit menebutkan ada sejumlah isu kontroversial yang ada dalam pembelajaran di kelas. Dari jenis nonkontemporer, misalnya, ada perbedaan pendapat antara Poerbatjaraka dengan FDK Bosch mengenai dinasti dalam kerajaan Mataram lama. Isu kontroversial kontemporer jauh lebih banyak dan lebih sensitif, seperti penetapan 20 Mei sebagai hari kebangkitan nasional, serangan umum 1 Maret 1949, Supersemar, sampai Peristiwa 30 September 1965.

Tentang Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, misalnya, terdapat sejumlah versi yang beredar. Ada buku berjudul Serangan Umum 1 Maret 1949 dalam Kaleidoskop Sejarah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia yang ditulis Batara R Hutagalung. Ada pula buku Pelurusan Sejarah Serangan Oemoem 1 Maret 1949 karya Tataq Chidmad dan kawan-kawan. Ada pula buku Bunga Pertempuran Serangan Umum 1949 karya Soeharto.

Namun demikian, dalam sejarah Indonesia, tidak ada isu yang lebih kontroversial daripada isu tentang peristiwa 30 Agustus 1965. Perdebatan tentang peristiwa itu nyaris tidak pernah berhenti, berkumandang dalam onrolan sehari-hari hingga televisi. Lusinan buku tentang peristiwa ini telah terbit, baik yang ditulis oleh wartawan, sejarawan, maupun pelaku sejarah itu sendiri.

Untuk menyebut sekadar sebagai contoh, Husni Mufid pernah menulis Epilog Kudeta 30 September 1965, Anton Tabah pernah menulis Jenderal AH Nasution Bicara tentang G30S/PKI, Herman Dwi Sucipto pernah menulis Kotnroversi G30S: Fakta dan Rekayasa. Namun versi penulisan sejarah yang paling kuat karena merupakan versi pemerintah adalah yang ditulis Nugroho Notosusanto. Tidak hanya dalam bentuk buku akademik dan referensi, peristiwa itu juga dinovelkan oleh Arswendo Atmowiloto.

Pedagogi Kritis

Untuk mengajarkan sejarah kontroversial Tsabit menyarankan guru menggunakan pendekatan kritis. Pedagogi kritis adalah pendekatan yang menempatkan siswa dapat melawan dominasi. Pendekatan ini kerap disebut sebagai pendekatan kiri karena bertentangan dengan pendekatan belajar konservatif dan pendekatan liberal. Perbedaanna, pendekatan konservatif dilakukan untuk menjaga status quo, pendidikan liberal mengidamkan perubahana moderat dan cenderung mekanis, adapun pendekatan kritis mengidamkan perubahan yang struktural dan fundamental.

“Pada praksisnya, pendidikan kritis menekankan pembelajaran sebagai proses bagaimana memahami, mengkritik, memproduksi, dan menggunakan ilmu pengetahuan untuk memahami realitas dan mengubahnya,” katanya.

Menurut Tsabit, dalam pembelajaran sejarah, pedagogi kritis memiliki fungsi untuk mengubah ketidaksetaraan dalam kelas sekaligus dalam masyarakat. Menguti Ocha dan Lasle, ia melanjutkan, pedagogi kritis mencoba melakukan pendekatan yang lebih lentur untuk mendekonstruksi hierarkis yang melemahkan demokratisasi, melakukan redefinisi atas pengetahuan, memahami bagaimana pengetahuan dibuat, dan mengubah ketidakadilan.

Dengan menggunakan pendekatan ini, materi pembalajaran dipersepsikan memiliki hubungan langsung dengan pembalajar dan kondisi masyarakat. Keyakinan inilah yang membuat pedagogi kritis dikait-kaitkan dengan ambisi pada perubahan sosial sebagai dampak pembelajaran. Dengan pengetahuan yang telah dipelajarinya, siswa melakukan tindakan politik tertentu yang mengubah ketidakadilan di sekitarnya.

Lebih operasional, Tsabut melanjutkan, agar pendidikan kritis dapat diwujudkan, pembelajar harus mencakup empat aspek yaitu kausalitas, kronologi, komprehensif, dan kesinambungan. Pada aspek kausalitas digambarkan kondisi masyarakat dari berbagai aspek yang turut melatarbelakangi peristiwa. Dalam aspek kronologi adalah urutan terjadinya peristiwa. Komprehensif artinya berbagai pendapat dari berbagai sumber tentang peristiwa tersebut harus disampaikan sehingga pikiran siswa terbuka. Adapun aspek kesinambungan berarti menautkan peristiwa sejarah dengan peristiwa sebelum dan sesudahnya.

Meski secar konseptual tampak mudah, hasil penelitian Tsabit menunjukkan bahwa belum semua guru dapat menggunakan pendekatan pendidikan kritis dalam pembelajaran sejarah kontroversial. Terungkap bahwa pemahaman guru terhadap pendidikan kritis ternyata baru pada aspek-aspek universal. Dalam implementasinya, pengetahuan guru tentang pedagogi kritis belum memberi dampak besar dalam praktik pembelajaran karena hanya pada sampai tahap refleksi, belum sampai tahap aktualisasi.

“Hal ini tampak dari kecenderungan guru untuk menghindari isu-isu kontroversial dalam pelaksanaan pembelajaran,” katanya. Berdasarkan penelitian itu pula, ada beberapa aspek dalam pembelajaran yang masih lemah. Aspek komprehensif, misalnya, belum optimal dalam penyampaian materi.

Dari hasil penelitian itu Tsabit menyarankan agar dilakukan workshop pedagogi kritis pembelajaran sejarah kontroversial bagi guru mata pelajaran sejarah. Di hulu, yaitu ketika guru menempuh pendidikan di LPTK, menurut Tsabit, calon guru sebaiknya juga diberikan bekal memadai tentang pendidikan kritis. Rahmat Petuguran

Catatan:
Tulisan ini telah dipublikasikan majalah Merah Putih edisi 91 September 2016

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *