Kisah ‘Adin Hysteria’ dan Anak Muda yang Berbudaya

Nama aslinya Akhmad Khoridin namun di kalangan pegiat seni di Semarang, pemuda 27 tahun kelahiran Rembang ini akrab disapa Adin Hysteria. Hysteria adalah sebuah organisasi seni yang bergerak di bidang pemberdayaan anak muda berbasis komunitas.

Awalnya, Hysteria merupakan nama buletin yang diterbitkan Adin dan tiga rekannya di Fakultas Sastra (kini Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Diponegoro, yakni Yuswinardi, Sutiyono, dan Heri C. Santoso. Pada medio 2004 itu, empat sekawan ini menerbitkan Hysteria secara asal-asalan.

Semula hanya selembar fotokopi bolak-balik berisi puisi, prosa, dan esai yang dibagikan secara gratis kepada mahasiswa. “Kami sengaja ingin ‘menggoda’ mahasiswa untuk berbicara sastra budaya,” kata Adin.

Saat itu, minim sekali media untuk mengapresiasi sastra. Adin dan kawan-kawan beranggapan, terlalu sempit jika hanya bergantung pada rubrik seni dan budaya yang disajikan media massa setiap Minggu. Apalagi pers kampus, yang durasi terbitnya lebih lama.

Tak hanya menerbitkan, mereka juga menggelar diskusi-diskusi kecil tentang kesenian, baik di sudut kampus maupun di kos-kosan.

Setahun kemudian, buletin Hysteria mulai mendapat respons dari mahasiswa. Diskusi yang diadakan juga mulai diminati. Buletin yang awalnya terbit hanya beberapa lembar menjadi belasan hingga puluhan halaman. Untuk membiayainya, mereka menawarkan space iklan. Iklan yang dipasang mulai iklan kantin, informasi tempat kos, sampai jasa pengetikan dan fotokopi. Jumlahnya tak besar, yang penting cukup untuk menutup biaya produksi.

Setahun kemudian, empat sekawan ini membentuk wadah kajian seni dan budaya yang juga diberi nama Hysteria. Komunitas ini berikhtiar menghidupkan komunitas pecinta seni dan budaya di kalangan mahasiswa dan pemuda di Kota Semarang.

Setelah ketiga rekannya terlebih dulu wisuda, Adin meneruskan Hysteria hingga saat ini. “Jabatan kerennya adalah direktur,” ujar Adin.

Sejak itu, mereka menyewa sebuah rumah di kawasan Stonen. Rumah kos, sekaligus kantor Hysteria. Mereka menyebutnya Grobak A(r)t Kost. Sesuai dengan namanya, rumah ini tak hanya dijadikan sebagai tempat kos, tapi juga tempat ngumpul dan berdiskusi para seniman muda.

Tak hanya ruang tamu, garasi dan halaman rumah setiap saat bisa disulap sebagai altar pementasan teater, panggung musik kreatif, pembacaan puisi, pemutaran film, dan ruang pameran lukisan. Desember lalu misalnya, garasi kos tersebut disulap menjadi ruang pamer oleh empat fotografer perempuan muda dari Semarang, Solo, dan Yogyakarta. “Berkesenian tak harus menggunakan panggung dan galeri mewah. Di kos juga bisa,” kata Adin.

Pada dua tahun terakhir, Hysteria menfokuskan gerakannya pada program-program pendampingan pada komunitas-komunitas seni remaja dan mahasiswa di Semarang dan sekitarnya. Komunitas seni yang ada, diajari cara memperkuat organisasi seni, membangun jaringan, pembuatan zine, pelatihan jurnalistik, riset sejarah lisan, dan sebagainya.

Menurut dia, di tengah iklim berkesenian yang lesu di Semarang serta tak adanya dukungan infrastruktur yang memadai dari pemerintah, kantong-kantong seni yang ada harus saling menguatkan serta membangun jejaring dengan kantong-kantong seni di kota lain.

Adin yakin, dengan gerakan yang sinergis, pemuda Semarang juga mampu berkiprah lebih luas di dunia seni. Dia mencontohkan beberapa kawan seangkatannya yang mampu memberi warna, seperti Damar Ardi yang menjadi programmer Jogja-NETPAC Asian Film Festival atau Rizki Lazuardi di Goethe Institut.

Adin sendiri yang selalu memperkuat jaringan dengan kantong-kantong seni di kota lain. Pada perhelatan Jogja Biennale lalu, dia pun dipercaya sebagai manajer pameran. “Asalkan sungguh-sungguh, julukan Semarang sebagai ‘kota tak berbudaya’ akan terkikis,” ujarnya optimis.

Sumber tulisan: tempo.co/Foto: adinhysteria.blogspot.com)/Keyword: Adin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.