“Kepayang” Cinta

SEDULURKU TERCINTA,hanya dengan “suara” yang berwujud lagu,menjadikan seseorang bisa “mabuk kepayang”.Demikianlah Kang Wakilan,setiapkali dia datang di Rumah Cinta–secara diam-diam,saya amati dengan seksama “keceriaannya” ketika mendengarkan siaran Radio kesukaannya.

Sembari memegang radionya yang ditempelkan kupingnya,dia gerakkan secara “reflek” tangannya itu dengan menari-narikan jarinya,dia jungkung bangkitkan tubuhnya sambil duduk,lalu dia angkat tanganya secara liar sambil berdiri,lalu sambil “nglemprak” dan tetap menggoyang-goyangkan tubuhnya.

Pada saat yang sama dia menirukan lagu Barat yang dia dengarkan,dengan keras.Dari duduk,lalu berdiri,lalu mengacung-ngacungkan tangannya ke atas,termasuk radionya itu,sampai lagu selesai.Demikianlah terus,dari lagu ke lagu yang ada,dia menikmati secara “intens”.

Saya melihat,dia sedang “fana”,dan seluruh tubuhnya hanyalah ungkapan ekspresi dari suara-suara dan gema-gema itu.

Saat radio menyiarkan kesedihan,dia mengerutkan auranya dengan duduk termenung dan menyilangkan kedua tangannya di atas kedua pahanya,saat radio menyiarkan kegembiraan dia tersenyum ceria,saat radio menyiarkan lagi langgam maka dia melambaikan tangannya pelan-pelan.Saat radio menyuarakan lawakan,dia tertawa-tawa “ngakak”.

Namun saat radio yang dia putar dengan mencari lagu-lagu kesukaannya,maka “atraksi” dia mulai:mengangkat kakinya sambil duduk dan menarikan tangannya.Hanya sampai di situ? Tidak! Dia bangkit berdiri dan menari dengan “asyik-masyuk”,lalu duduk dengan kakinya “mancal-mancal” ke udara.

Lalu berdiri lagi dengan cepatnya,dan mengacungkan tangan kirinya,karena tangan kanannya memagang radio.Dan bergoyang ke kanan-kiri,maju-mundur tubuhnya,hingga lagu selesai.Saya melihat dia,ikut larut dalam dirinya,dan tersenyum haru.Sepertinya,segala yang diributkan dunia dia lupakan,dan dia masuk ke dalam jiwanya sendiri dengan menari-nari tubuhnya.

Saya diam-diam cemburu dengan gempita hatinya,hal demikian dalam ranah Tasawuf disebut “wijdun”,gerak reflek karena menikmati nada-nada dan suara-suara yang terdengar.Saya tidak bisa membayangkan seandainya dia mendengar suara-suara dari Sumber Suara,tentu dia akan ratusan kali lebih mabuk kepayang dari ranah material musik yang dinikmatinya ini.

Gerak segala gerak yang dia miliki tentu akan larut dalam segala ekspresi gerak,lalu dia akan bisa dengan gampang “menari Sufi”:mulutnya bungkam dan tubuhnya berputar dengan gejolak rindu kepada Sumber Suara.Kenapa? Karena musik segala musik yang turun di bumi ini hanyalah “percikan” dari musik surgawi.Dimana Tuhan mengajarkan dengan cara melahirkan suara segala suara yang ada di jantera semesta ini.

Ternyata tidak hanya Kang Wakilan yang menikmati ini,juga siapa saja,juga apa saja di alam semesta ini.Sebagaimana penelitian orang Jepang itu,dimana ketika sebuah keberadaan didendangkan dengan suara indah,maka keberadaan itu molekulnya menari bagai mekarnya mawar yang wangi itu.

Kawan-kawan,kalau kita mau menadang segala yang ada ini dengan cara sebagaimana Kang Wakilan mencercap keindahan yang dia pandang–bukan dengan matanya,namun dengan mata hatinya,maka semua yang ada ini akan menjadikan “kemabukan-kepayang” karena sedemikian indahnya.

Lalu selanjutnya membayang “kerinduan nan nyeri” kepada keindahan dibalik keindahan yang ada,sebagaimana ada cahaya di natas cahaya ini.Dimanakah itu derita? Ohhhhhhh!….Tabik!

– Kiai Budi Harjono, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Semarang

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *