Peserta Ujian Diharap Jujur

ANTARA – Sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Semarang yang menggelar ujian akhir sekolah mengaku telah menerapkan prinsip kejujuran terhadap siswa maupun guru.

Kepala SMP Negeri 2 Semarang, Sutomo di Semarang, mengatakan hasil ujian sekolah itu menjadi salah satu bobot penentu dalam penilaian kelulusan siswa, di samping nilai ujian nasional (UN).

Meski menjadi salah satu bobot penentu kelulusan siswa, kata dia, pihaknya tetap menekankan prinsip kejujuran dalam pelaksanaannya, sebagai langkah persiapan dalam menghadapi UN.

“Lihat saja, para siswa terlihat tenang saat mengerjakan soal ujian sekolah. Kami sebelumnya telah membekali dan menyiapkan siswa secara matang sehingga mereka tidak ‘kaget’ saat ujian,” katanya.

Menurut dia, penyiapan dan pembekalan materi terhadap siswa secara matang sangat penting untuk mendukung penerapan prinsip kejujuran dalam pelaksanaan ujian, baik ujian sekolah maupun UN.

Untuk ujian sekolah dengan soal yang dibuat oleh sekolah sendiri saja sudah dilatih untuk berlaku jujur, kata dia, demikian halnya juga diharapkan saat pelaksanaan UN dengan soal dari pusat.

Penyiapan siswa menghadapi ujian, kata dia, dilakukan dalam berbagai langkah, seperti pelajaran tambahan, “try out”, dan pemadatan materi sehingga siswa lebih berkonsentrasi menghadapi ujian.

Ujian sekolah tingkat SMP, kata dia, dilakukan serentak mulai 28 Maret-2 April 2011 dengan mengujikan berbagai mata pelajaran, seperti matematika, bahasa Indonesia, dan pendidikan agama.

“Beberapa mata pelajaran pokok, seperti bahasa Indonesia dan pendidikan agama sama-sama diujikan di seluruh sekolah, namun untuk muatan lokal mungkin ada sedikit perbedaan,” kata Sutomo.

Hal senada juga diungkapkan Kepala SMP Negeri 32 Semarang, Parlin bahwa penerapan prinsip kejujuran sudah dilakukan sejak dini, salah satunya dipraktikkan dalam pelaksanaan ujian sekolah.

“Kami tela mempersiapkan siswa sejak dini dalam menghadapi ujian sekolah maupun UN. Harapannya, mereka bisa mengerjakan soal dengan baik dan melakukannya dengan jujur,” kata Parlin.

Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan Kota Semarang, Sudjono berharap seluruh sekolah menerapkan prinsip kejujuran dalam mengerjakan, baik ujian sekolah maupun UN.

“Nilai ujian sekolah yang digabung dengan nilai rapor semester 1-5 memang memiliki bobot 40 persen dalam penentuan kelulusan, namun siswa diharapkan tetap berlaku jujur,” kata Sudjono.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.