Connect with us

Kampus

Perluas Ruang Ekspresi, Pelukis Ambarawa Kembangkan Pameran Berbasis Digital

Published

on

Karya lukis para perupa Ambarawa selama ini tidak selalu memiliki ruang untuk dipertemukan dengan publik. Pameran masih banyak bergantung pada kegiatan dan momentum tertentu. Kondisi tersebut mendorong Himpunan Perupa Palagan Ambarawa (HIPPA) mengembangkan model pameran yang memadukan ruang fisik dan digital untuk memperluas akses publik terhadap karya para pelukis.

Upaya tersebut diwujudkan melalui program “Inovasi Pameran Hybrid Berbasis Media Digital untuk Meningkatkan Ruang Ekspresi Seni dan Visibilitas Publik bagi Himpunan Pelukis di Kabupaten Semarang” yang dilaksanakan tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Sebelas Maret (UNS) pada Juni–Agustus 2026 di Ambarawa.

Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan melalui skema Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Tahun Anggaran 2026, dengan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Tim pelaksana berasal dari UNS dengan melibatkan mitra komunitas seni di Ambarawa.

Tim pengabdian diketuai Esterica Yunianti, S.Pd., M.Pd., bersama Figur Rahman Fuad, S.Pd., M.A., Anesa Surya, M.Pd., dan Rosy Tristanti, M.Pd. Tiga mahasiswa, yakni Seroja Puspa Asri, Mirna Ayu Setyo Dewi, dan Saskiyatun Solikhah, turut terlibat dalam rangkaian pendampingan, pelatihan, dan penerapan inovasi pameran hybrid.

Karya Banyak, Kesempatan Pamer Terbatas

HIPPA merupakan komunitas pelukis yang berasal dari Desa Kupang, Kecamatan Ambarawa, dan berdiri sejak 23 Desember 2014. Produktivitas komunitas ini terlihat dari berbagai kegiatan seni yang mereka lakukan, termasuk melukis On The Spot (OTS) bertema Heritage and Nature of Ambarawa.

Pada Mei 2025, HIPPA bahkan berhasil menggelar Painting OTS 2 yang diikuti sekitar 300 pelukis dari Jawa dan Bali. Namun, tingginya produktivitas berkarya belum sepenuhnya diikuti dengan sistem pengelolaan pameran yang terstruktur.

“Display lukisan sederhana dengan stand yang dibawa masing-masing pelukis dan dipajang di tempat yang disukai,” ujar Ketua HIPPA Yohanes Handoko, menggambarkan pola penataan karya yang selama ini dilakukan.

Hasil identifikasi awal tim pengabdian UNS menunjukkan bahwa enam dari sepuluh anggota HIPPA belum memiliki keterampilan display karya secara profesional. Persoalan lain adalah terbatasnya kesempatan untuk menggelar pameran.

“Lukisan kami banyak, tapi kami hanya bisa memamerkan kalau ada kegiatan tertentu saja,” kata Yohanes.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan semata-mata keterbatasan karya, melainkan juga keterbatasan ruang, pengelolaan, dan akses publik terhadap karya.

Menjawab persoalan tersebut, tim UNS memperkenalkan konsep phygital, yaitu model pameran yang mengintegrasikan pengalaman fisik dan digital dalam satu ekosistem pameran.

Ruang fisik tetap menjadi tempat utama bagi pengunjung untuk melihat karya dan berinteraksi secara langsung. Sementara itu, kanal digital digunakan untuk memperluas jangkauan pameran melalui virtual tour 360°, katalog digital, QR-based artwork, serta publikasi melalui media sosial.

Platform Artsteps digunakan untuk membangun pengalaman pameran virtual sehingga karya dapat diakses tanpa sepenuhnya bergantung pada keberadaan pengunjung di lokasi pameran.

Setiap karya juga dapat dilengkapi dengan QR code yang menghubungkan pengunjung dengan informasi dan narasi mengenai karya. Dengan pendekatan tersebut, karya tidak berhenti pada ruang pamer fisik, tetapi memiliki jejak digital yang dapat diakses oleh publik secara lebih luas.

Program ini tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi. Anggota HIPPA juga dibekali keterampilan teknis dan manajerial agar mampu mengelola pameran secara lebih profesional dan berkelanjutan.

Pelaksanaan program menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan anggota HIPPA sebagai bagian aktif dalam proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

Tahap awal dilaksanakan pada Juni 2026 melalui sosialisasi dan koordinasi. Tim UNS bersama anggota HIPPA memetakan kebutuhan komunitas, mendiskusikan persoalan pameran yang selama ini dihadapi, serta menyusun konsep inovasi pameran yang sesuai dengan karakter komunitas.

Kegiatan dilanjutkan pada Juli 2026 melalui pelatihan display pameran seni lukis dan manajemen pameran hybrid. Anggota HIPPA mendapatkan materi mengenai prinsip penataan karya, antara lain ketinggian display, jarak antarkarya, komposisi ruang, serta alur sirkulasi pengunjung.

Pelatihan juga mencakup aspek manajemen pameran hybrid, mulai dari perencanaan, dokumentasi, pemanfaatan platform digital, hingga strategi publikasi.

Program turut menggandeng DB.24 Studio Visual Creative and Consultant yang dipimpin Farkhan M. Amin sebagai mitra dalam dokumentasi visual dan pengembangan konten.

Menyiapkan Model Pameran yang Berkelanjutan

Ruang lingkup program tidak berhenti pada peningkatan keterampilan individu. Tim pengabdian juga menargetkan terbentuknya sistem yang dapat digunakan HIPPA secara mandiri.

Program menargetkan 80 persen anggota HIPPA mampu menerapkan teknik display dan tata pamer secara profesional. Selain itu, program diarahkan pada terselenggaranya satu pameran hybrid dengan sekitar 100 peserta serta tersusunnya dokumen manajemen pameran yang dapat digunakan pada kegiatan berikutnya.

Modul pelatihan dan dokumen manajemen tersebut diharapkan menjadi instrumen bagi HIPPA untuk mengembangkan pameran secara lebih mandiri, tidak hanya ketika terdapat agenda atau momentum tertentu.

Pelaksanaan program berlangsung hingga Agustus 2026 dengan rangkaian kegiatan yang mencakup peningkatan keterampilan display karya, peningkatan kemampuan manajemen pameran hybrid, serta penerapan pameran hybrid menggunakan platform Artsteps dan katalog digital.

Melalui integrasi ruang fisik dan digital, inovasi tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi pelukis Ambarawa untuk mempertemukan karya dengan publik. Pameran tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ruang dan momentum tertentu, sementara karya yang telah dihasilkan dapat memiliki jangkauan dan jejak digital yang lebih panjang.

Bagi HIPPA, inovasi pameran hybrid bukan sekadar pemanfaatan teknologi, tetapi upaya membangun ekosistem pameran yang lebih terbuka. Karya yang sebelumnya menunggu momentum untuk dipamerkan kini memiliki peluang untuk terus hadir, dikenal, dan diakses publik melalui ruang fisik maupun digital.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending