Connect with us

Kolom

Ketika Tak Sejalan dan Tak Seirama: Analisis Dampak Hambatan Komunikasi Antara Atasan dan Bawahan serta Strategi Mengatasinya

Published

on

Oleh: Nur Aeni (mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina)

Komunikasi organisasi merupakan fondasi utama dalam menjaga keharmonisan, keberlanjutan, produktivitas, dan iklim kerja yang sehat serta kondusif di setiap organisasi . Dalam perspektif teori organisasi, komunikasi tidak sekadar berfungsi sebagai sarana penyampaian instruksi formal, melainkan sebagai instrumen pembentuk keharmonisan, budaya, kepercayaan, dan kohesi antar anggota organisasi. Ketika arus komunikasi antara jajaran pimpinan (atasan) dan staf (bawahan) terhamba, tak lagi sejalan dan tak seirama , berjalan  tidak efektif, keterasingan struktural dan penurunan kinerja organisasi tidak dapat dihindari.

Penulis mencoba untuk menguraikan disfungsi komunikasi dua arah dalam struktur hierarkis organisasi, dampak psikologis dan operasional yang ditimbulkannya, serta formulasi solusi strategis untuk merekonstruksi pola interaksi yang konstruktif demi kemajuan sebuah organisasi.

Dinamika Komunikasi Komando Tunggal dan Disfungsi Relasional

Dalam banyak struktur organisasi, hambatan komunikasi sering kali bersumber dari pola komunikasi yang bersifat satu arah (top-down communication) dan instruktif secara berlebihan. Ketika atasan merasa paling tinggi kekuasaannya. memandang bahwa peran bawahan hanya sebatas pelaksana tugas tanpa memandang pentingnya proses pembauran (engagement) dan perangkulan staf sebagai mitra kerja, tercipta jarak sosial (power distance) yang sangat lebar.

Sikap atasan yang enggan merangkul bawahan sebagai bagian tak terpisahkan dari tim kerja mencerminkan gaya kepemimpinan otoriter atau apatis. Kebijakan, keputusan, dan arahan disampaikan tanpa mengindahkan feedback (umpan balik) dari tingkat operasional. Akibatnya, hierarki organisasi berubah menjadi dinding pemisah yang menghambat aliran gagasan, aspirasi, dan evaluasi obyektif dari bawah ke atas (bottom-up communication).

Implikasi Dampak Terhadap Bawahan dan Dinamika Organisasi

Disfungsi komunikasi ini memicu efek domino yang merusak stabilitas internal organisasi, melalui beberapa tahapan psikologis dan perilaku:

  1. Erosi Rasa Dihargai (Erosion of Self-Worth)

Bawahan yang gagasannya diabaikan dan keberadaannya tidak dirangkul secara emosional-profesional akan mengalami demotivasi. Tidak adanya apresiasi atau ruang berdialog membuat pegawai atau bawahan  merasa sebatas instrumen teknis, bukan aset organisasi yang bernilai.

  • Krisis Kepercayaan (Crisis of Trust)

Ketidakberadaan transparansi dan dialog inklusif mengikis kepercayaan (trust) bawahan terhadap kapasitas serta integritas kepemimpinan atasan. Bawahan mulai meragukan arah kebijakan yang diambil karena merasa tidak pernah dilibatkan dalam proses pemikiran atau formulasi tujuan tersebut.Contoh Ketika membuat Keputusan tentang Kerjasama dengan Lembaga lain, atasan tidak bermusyawarah atau mengadakan rapat dengan bawahan sebagai perwakilan untuk ikut memberika masukan tentang Lembaga luar yang akan diajak kerja sama.

  • Apatisme dan Sikap Acuh Tak Acuh (Employee Disengagement)

Puncak dari hilangnya rasa dihargai dan tiadanya kepercayaan adalah tumbuhnya sikap acuh tak acuh (cynicism & alienation). Bawahan cenderung bekerja sebatas memenuhi standar minimal (presensi dan rutinitas), tanpa adanya inisiatif, kreativitas, maupun keterikatan emosional terhadap pencapaian visi lembaga.

Solusi Strategis Rekonstruksi Komunikasi Dua Arah

Untuk memulihkan efektivitas organisasi dan membangun kembali keharmonisan kerja, diperlukan langkah pembaharuan sistemis dari kedua belah pihak, dengan penekanan utama pada inisiatif kepemimpinan.

1. Inisiatif dan Transformasi dari Sisi Atasan (Pimpinan)

  • Mengadopsi Gaya Kepemimpinan Inklusif dan Empatis

Pimpinan harus mengubah paradigma dari sekadar pengarah (boss) menjadi fasilitator dan pelatih (coach). Mengakui bawahan sebagai bagian dari tim kerja membutuhkan kerendahan hati untuk mendengarkan aktif dan melibatkan mereka dalam ruang-ruang diskusi strategis.

  • Membangun Saluran Umpan Balik Formal dan Informal (Feedback Loop)

Atasan wajib menyediakan saluran komunikasi formal (seperti evaluasi berkala dan forum curah pendapat, forum diskusi) maupun forum  informal (seperti dialog santai atau coffee morning) yang aman dari intimidas, sehingga bawahan merasa dirangkul dan dihargai keberadaannya. Hal ini memberi ruang bagi bawahan untuk menyampaikan kritik dan ide tanpa rasa takut.

  • Penerapan Budaya Apresiasi dan Pengakuan (Recognition Culture)

Mengakui kontribusi sekecil apa pun dari bawahan secara adil merupakan langkah krusial untuk memulihkan rasa dihargai. Apresiasi yang konsisten akan membangun kembali moral dan rasa kepemilikan (sense of belonging) staf terhadap lembaga.Apresiasi bisa pemberian penghargaan kepada bawahan, acara family ghatering bersama seluruh bawahan dan keluarganya.

2. Peran Aktif dan Adaptasi dari Sisi Bawahan

  • Menerapkan Pola Komunikasi Asertif

Bawahan perlu mengikis sikap pasif-agresif atau apatis dengan melatih komunikasi asertif. Menyampaikan kendala, aspirasi, dan saran dengan cara yang santun, profesional, dan berbasis data akan membantu atasan memahami perspektif riil di lapangan.

  • Menunjukkan Proaktifitas Konstruktif

Daripada bersikap acuh, bawahan dapat mulai membangun kembali keterlibatan dengan memberikan solusi atas permasalahan kerja, bukan sekadar menyampaikan keluhan. Hal ini membantu membuka mata atasan mengenai potensi besar yang dimiliki stafnya.

  • Mengembangkan Empati Organisasional

Bawahan juga perlu memahami tekanan dan tanggung jawab eksternal yang dihadapi oleh atasan, sehingga interaksi yang dibangun didasari oleh pemahaman atas beban kerja bersama.

Kesimpulan

Kemajuan suatu lembaga sangat bergantung pada sinergi dan kualitas hubungan antar unsur di dalamnya. Komunikasi dua arah yang sehat bukan sekadar alat pertukaran pesan, melainkan perekat hubungan profesional yang memicu kepercayaan, keterlibatan, dan komitmen bersama. Dengan kesadaran atasan untuk merangkul dan menghargai bawahannya, serta keberanian bawahan untuk berkomunikasi secara asertif dan proaktif, lembaga akan mampu menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, adaptif, dan berkelanjutan.

Rahmat Petuguran adalah pemimpin redaksi PORTALSEMARANG.COM. Selain aktif di dunia jurnalistik, ia juga aktif menjadi peneliti bahasa. Sebagai peneliti bahasa ia menekuni kajian sosiolinguistik dan analisis wacana. Ia menyelesaikan Pendidikan S1 di Universitas Negeri Semarang, S2 di Universitas Diponegoro, dan menempuh Program Doktor Bidang Linguistik Universitas Gadjah Mada.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Trending