Seru, Mahasiswa UPGRIS Pentaskan Ketoprak

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah UPGRIS mementaskan ketoprak dengan lakon Geger Kraton Parang Garuda. Pentas ketoprak diselenggarakan sebagai ujian akhir dalam mata kuliah Sandiwara dan mata kuliah Karawita.

Meski diadakan sebagai ujian kuliah, pentas ketoprak ini sekaligus menjadi usaha pelestarian kesenian tradisional.

“Ini merupakan apresiasi sekaligus sebagai wujud nguri-uri (melestarikan) budaya daerah. Apalagi, kesenian kethoprak saat ini sudah mulai langka dan jarang diperkenalkan lagi,” ujar dosen pengampu Mata Kuliah Sandiwara atau Drama Nuning Zaidah sebagaimana dikuti website universitas.

Pementasan ketoprak itu dibantu dengan pemain karawitan serta tari-tarian yang juga dipertunjukan oleh mahasiswa semester V.

“Jadi ini memang merupakan apresiasi bersama. Semua mahasiswa semester V turut terlibat, termasuk yang menari itu untuk memenuhi mata kuliah tari,” ungkapnya.

Dalam lakon Geger Kraton Parang Garuda diceritakan masa sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Mataram. Pada masa itu berdiri sebuah Kadipaten Parang Garuda yang dilambangkan keris rambut pinutung dan kuluk kanigara yang merupakan lambang kekuasaan dan kekuatan simbol kesatuan dan persatuan.

Sepeninggal Prabu Gandha Buana, Kadipaten Parang Garuda mengalami kekosongan kepemimpinan. Karena itulah, tampuk kepemimpinan akhirnya diisi oleh putri Prabu Ganda Buana yang bernama Ratu Mekarsari.

Namun pada kepemimpinannya, Mekarsari selalu mementingkan kebutuhan pribadinya tanpa peduli dengan rakyat. Akhirnya, kekuasaan yang dipegang Mekarsari tak bertahan lama dan runtuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.