Pesantren Al-Idris, Kehidupan Santri di Pelosok Gunungpati

Tanah masih terasa basah di pelataran Pondok Pesantren Al-Idris Gunungpati, akhir Maret lalu. Puluhan santri berdiri di tanah lapang itu untuk menyambut kedatangan mahasiswa yang akan belajar, berbagi, dan bernyanyi bersamanya. Dari senyum dan tawanya, para santri terlihat begitu antusias. Mereka tahu, para mahasiswa yang akan datang menemuinya sudah pasti mampu menambah keceriaan mereka.

Pondok Pesantren Al-Idris ini berada di Desa Sabrangan Rt 04, Rw 03, Kelurahan Plalangan, Kecamatan Gunungpati, Semarang. Selain kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan para mahasiswa dan para komunitas, Ponpes ini pun mempunyai kegiatan rutin yang sering dilakukan oleh para santrinya. Di Ponpes Al-Idris ini, para santri biasanya belajar mengaji, membaca kitab suci Al-Qur’an, dan belajar tentang memahami sikap dan tauladan Rasulullah.

Di luar kegiatan mengaji kitab, para santri kemudian mengisi kegiatannya dengan belajar bermain rebana. Kegiatan ini dilakukan oleh ponpes Al-Idris guna mengembangkan kreatifitas dan kemampuan para santrinya, dalam hal ini berkesenian. Hingga kemudian para santri nantinya mampu bernyanyi dan bershlawat bersama dengan rebana yang mereka mainkan. Bahkan, rencananya kegiatan yang dilakukan oleh para santri di Ponpes Al-Idris ini akan ditambah dengan melakukan sebuah kegiatan mendaur ulang barang bekas yang sudah tak terpakai lagi.

“Nantinya, kegiatan para santri akan mulai bertambah dengan belajar mendaur ulang dari sampah,” tutur Syafii pendiri Pondok Pesantren Al-Idris kepada reporter Merput.

Dibantu oleh istri, Ibu Al Karomah, Syafii mengajarkan dan mendidik para santri ke arah yang lebih baik, dan berakhlak Islam. Itu yang kemudian mendasarinya untuk mendirikan Pondok Pesantren Al-Idris. Selain sebagai Pondok Pesantren, Syafii juga membuat panti sosial bagi anak-anak asuh yang kemudian tergabung dan diberi nama Pondok Pesantren dan Panti Sosial Anak Asuh Al-Idris.

Sudah hampir 4 tahun Pondok Pesantren ini berdiri. Awalnya pondok pesantren dan panti sosial ini diisi oleh 7 santri, kemudian bertambah menjadi 10 santri, kemudian bertambah lagi menjadi 15 santri. Dan kini total santri berjumlah 37 orang. Adapun para santri berasal dari Gunungpati, Karangjati, Pringapus, Ambarawa, Magelang, dan Demak. “Biasanya setelah tahun ajaran baru para santri bertambah,” kata Pak Syafii bercerita.

Awalnya, dalam mendirikan Pondok Pesantren dan Panti Sosial Anak Asuh Al-Idris ini Pak Syafii banyak mengalami kesulitan. Dirinya menceritakan bahwa kesulitan tersebut terutama perihal pendanaan dan tempat tinggal. Keadaan ekonominya yang tak begitu baik membuatnya harus berusaha lebih keras untuk mendirikan Pondok Pesantren dan Panti Sosial Anak Asuh ini. Hingga akhirnya Allah menjawab doa dan usahanya selama ini. Bantuan dari para donatur mengalir banyak kepadanya. Sehingga kemudian berdirilah Pondok Pesantren dan Panti Sosial Anak Asuh Al-Idris. Bantuan yang diberikan oleh para donatur seperti dari para komunitas, mahasiswa dan para tokoh agama membuat dirinya bisa mengontrak rumah untuk tempat tinggalnya, keluarganya dan ke 37 santrinya untuk kemudian digunakan sebagai lokasi belajar mengajar.

Di atas tanah seluas sekitar 600 meter ini Pondok Pesantren dan Panti Sosial Anak Asuh Al-Idris berdiri dan melakukan proses belajar mengajar. Tempatnya yang jauh dari hingar bingar membuat suasana pembelajaran begitu kondusif. Lokasinya ini cukup pelosok. Bahkan untuk menempuh Ponpes ini, membutuhkan waktu sekitar 60 menit dari pusat Kota Semarang. Namun hal itu tak membuat para santri malas untuk terus belajar dan mengembangkan ilmu keagamannya.

Adapun para santri yang belajar di Pondok Pesantren dan Panti Sosial Anak Asuh Al-Idris ini kebanyakan masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di usia yang terhitung masih belia inilah potensi untuk mengembangkan keilmuan, wawasan, dan kreatifitas cukup mendukung. Hal itulah yang kemudian pula dipilih oleh para mahasiswa yang kali ini berkunjung untuk belajar, berbagi, dan bernyanyi bersama para santri. Sebuah keberuntungan bagi reporter Merput bisa menyaksikan langsung pembelajaran yang dilakukan oleh para mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya Peacemaker Progress kepada para santri.

Selain berbagi buku, para mahasiswa ini pun mengadakan kegiatan di antaranya seperti menggambar dan mewarnai, menonton film, bernyanyi, dan mendongeng. Kegiatan-kegiatan di luar jadwal dari Pondok Pesantren dan Panti Sosial Anak Asuh Al-Idris seperti bersama para mahasiswa dan komunitas inilah yang kemudian membuat kegiatan para santri lebih bervariatif dalam menjalankan kehidupannya. Selain hal itu pun setidaknya mampu membuat para santri lebih bersemangat dalam belajar dan menjalani hidup.

Tri Sutrisno

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *