Perang Fakta dalam Fiksi : Antara Pengkhianatan G30S/PKI dan Lubang Buaya

ITA, Gerakan 30 September (G30S) dan pembantaian jutaan nyawa pada paruh kedua 1965 segera setelah “gerakan” itu berlangsung adalah lembaran sejarah kontemporer kita paling kontroversial. Hingga kini sejarah kelam itu masih menjadi pokok perdebatan. Tabir yang menyelimuti suatu babakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini itu belum sepenuhnya terbuka. Bahkan barangkali sampai kapan pun.

Namun justru karena itulah masih selalu terbuka ruang perdebatan. Terbuka pulalah ruang penafsiran. Perdebatan dan penafsiran itu bisa berpangkal dari validitas data dan analisis terhadap fakta dalam penulisan sejarah paling menggetarkan nurani kemanusiaan itu.
Menarik bahwa perdebatan dan penafsiran itu pun merambah sekaligus maujud dalam fiksi. Ya, kau tahu, fiksi memang bukan ranah yang kalis dari berbagai kepentingan di luar seni keindahan berbahasa. Fiksi, entah cerita pendek atau novel, bisa saja menjadi medan pertempuran tak henti-henti antarkepentingan. Terutama, dalam konteks ini, kepentingan politis-ideologis.

Babad “Orde Baru”
Ita, Jenderal Besar Soeharto barangkali menyadari benar kemungkinan itu dan implikasinya. Karena itulah, rezim militeristis yang dia pimpin pun menyusun “babad”. Itulah “babad” yang memberikan pembenaran dan legitimasi terhadap tindakan dan (terutama) keabsahan kekuasaannya.

Sejarah resmi versi “orde baru” itu dijadikan bahan pembelajaran dalam berbagai tingkatan pendidikan dan penataran atau santiaji (indoktrinasi). Sebutlah antara lain The Coup Attempt of the September Movement in Indonesia karya Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh (Djakarta: Pembimbing Masa, 1968). Buku putih itu diterjemahkan menjadi Tragedi Nasional, Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia (Jakarta: Intermasa, 1989, 1990).

Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pun menerbitkan berjilid-jilid buku Bahaya Laten Komunisme di Indonesia. Jilid I Perkembangan Gerakan dan Pengkhianatan Komunisme di Indonesia, 1913-1948 (Jakarta: 1991, 1995). Jilid II Penumpasan Pemberontakan PKI, 1948 (Jakarta: 1995). Jilid III Konsolidasi dan Infiltrasi PKI, 1950-1959 (Jakarta: 1995). Jilid IVA Pemberontakan G30S/PKI dan Penumpasannya (Jakarta: 1995). Jilid IVB Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-sisanya (Jakarta: 1995).

Namun barangkali yang paling nancap dalam benak dan memengaruhi persepsi sebagian besar anak negeri ini adalah film garapan sutradara Arifin C. Noer, Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Arifin menulis skenario film produksi PPFN itu berdasar naskah Nugroho Notosusanto. (Ah, kau tentu masih ingat, Umar Kayam bermain pula dalam “film wajib tonton” bertahun-tahun lalu itu sebagai Bung Karno. Dalam suatu wawancara dia menyatakan bersedia bermain dalam film itu sekadar agar dapat menyatakan Soeharto kopeg, keras kepala. Pembelaan diri atau pembenaran? Entahlah.) Film yang diklaim sebagai karya besar Arifin – film terbesar yang tak mungkin terulang – itu dinovelkan oleh Arswendo Atmowiloto: Pengkhianatan G30S/PKI (Jakarta: Sinar Harapan, 1986, 1988, 1994).

Ita, saat berpidato pada pemutaran perdana film itu Soeharto menyatakan, “Film ini dibuat dengan maksud dan tujuan agar supaya rakyat kita dan terutama generasi muda mengetahui adanya ‘sejarah hitam’ yang kita alami, dan hendaknya bisa menumbuhkan dan meningkatkan kewaspadaan nasional sedemikian rupa, sehingga bisa menjaga agar peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi di masa-masa yang akan datang” (G Dwipayana, “Sekapur Sirih” dalam Arswendo Atmowiloto, 1994: 5).

Dwipayana menyatakan bahwa generasi muda tampaknya belum atau tidak mengetahui fakta kekejaman PKI (komunis). Karena itulah, melalui film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI, generasi muda perlu diberi gambaran tentang “fakta-fakta kejadian yang berkaitan dengan peristiwa itu sehingga mereka tidak mudah terjerat dalam lingkup paham komunis”.
Soal isi, novel Arswendo dan film Arifin memang tidak berbeda. Adapun soal gaya penulisan? Arswendo mengakui gaya dalam novelnya adalah untuk merangkai fakta. “Semacam laporan jurnalistik karena data-data benar-benar ada, dan terjadi dalam sejarah” (1994: 7).

Pencitraan & Pembunuhan Karakter
Ita, “data” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “keterangan yang benar dan nyata” atau “keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan)”. Fakta adalah “hal (keadaan, peristiwa) yang merupakan kenyataan” atau “sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi”.

Nah, kini mari kita simak berbagai “fakta” yang terjalin dalam kisah yang dibeberkan Arswendo berdasar “data” yang benar-benar ada tentang G30S. Arswendo merekonstruksi secara detail penculikan para jenderal Angkatan Darat (AD), menjelang dini hari 1 Oktober 1965. Pelukisan itu memperlihatkan betapa keji, betapa tak berperikemanusiaan, para penculik: pasukan pengawal Presiden, Tjakrabirawa. Para prajurit itu menyiksa para jenderal dengan popor senapan dan bayonet serta kalimat-kalimat sarkartis dan insinuatif.

Mencolok pula pencitraan yang merupakan pembunuhan karakter terhadap para perempuan aktivis atau anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Mereka menyanyikan lagu “Darah Rakjat” dan “Gendjer-gendjer” seraya menari-nari di atas mayat para korban. Para gadis memutilasi mayat dan bahkan (maaf) menyayat dan memotong alat kelamin para jenderal.
Bukankah itu wajar-wajar saja? Karena, sebagaimana kesaksian Abdul Latief, bukankah para perempuan itu terbiasa “di balik pohon-pohon karet, di balik rimbunan rumput, … saling melampiaskan nafsu birahi secara brutal”? Ya, “di kandang kambing, dalam kegelapan dan tetap berseragam, mereka silih berganti melampiaskan nafsu kebinatangan” (halaman 52).

Lampu mobil Abdul Latief “kadang menemukan bayangan yang terengah-engah. Nafsu yang sama liarnya ketika mereka memuntahkan peluru, ketika itu pula memuntahkan nafsu liarnya. Nafsu yang sama liarnya ketika tiarap, ketika itu pula di lain kesempatan mereka bertiarap di atas sesamanya. Menggesotkan tubuh, berkelojotan. Nafsu yang sama liarnya ketika mereka menghajar karung-karung yang ditulisi dengan huruf kapital Dewan Jenderal dengan ujung bayonet. Bayonet pribadi mereka juga main tusuk sembarangan” (halaman 52-54).

Perilaku sadistis yang meliar tergambar dalam setiap penculikan di rumah para jenderal. Citraan kekejian berlanjut sampai di Lubang Buaya. Di sanalah, di setumpak tanah itu, mayat para jenderal dimasukkan ke lubang sumur mati. Dan, kematian para jenderal itu diiringi tarian dan nyanyian liar perempuan-perempuan muda.
“Teriakan terus membahana.
‘Bunuh!’
‘Ganyang!’
‘Cungkil!’
‘Sodet1’
‘Lumatkan!’
terus menggemuruh.

Barisan gerombolan liar itu bagai orang-orang dari dunia iblis yang menyentakkan tubuhnya dari tarian yang semakin liar. Dengan tarian, nyanyian, teriakan, kebuasan. Makin meninggi dan menggebrak-gebrak ketika dari satu sisi muncul iringan tandu yang membawa jenazah Jenderal Ahmad Yani. Semakin gemuruh nyanyian, semakin liar tarian. Dari sisi lain muncul tandu diributi dengan sabetan, pukulan ludahan atas jenazah Jenderal Haryono” (halaman 148).
Ita, hampir semua “fakta” tentang G30S telah diketahui oleh nyaris setiap orang bukan? Pendedahan dan penakaran secara kritis pun telah dilakukan banyak sejarawan. Dan, kini upaya itu masih berlangsung: merekonstruksi lembaran sejarah itu secara jujur.

Namun, pencitraan luar biasa keji para perempuan – yang menjadi keprihatinanmu – agak luput dari perhatian bukan? Jadi, benarkah mereka, para perempuan aktivis itu, senantiasa berteriak-teriak dan menyanyikan lagi “Gendjer-gendjer” dan “Darah Rakjat”, yang “bergema bagai menyomplakkan tenggorokan” (halaman 149)?

***

ITA, Saskia Eleonora Wieringa (2003) menilai semua kisah dalam “sejarah resmi” orde sang jenderal besar itu adalah fiksi belaka. Penggambaran peristiwa 1965 dan pembunuhan massal segera setelah peristiwa itu mengandung “terlalu banyak distorsi dan lapisan pemahaman”. Namun fiksi “orde baru” itu telah menjadi kebenaran, yang mengakibatkan jutaan orang tak bersalah dibunuh atau diperlakukan di luar peri kemanusiaan selama puluhan tahun.
“Fantasi itu juga meracuni pikiran rakyat, menunda proses demokratisasi yang memang lambat, dan menjadikan perekonomian Indonesia sebuah taman bermain bagi para kapitalis lokal maupun internasional,” tulis dia (2003: v).

Saskia tidak berhenti sebagai ilmuwan yang mengasingkan diri di menara gading. Dia melawan “penjajahan kesadaran” itu antara lain dengan menulis sebuah tesis: The Politicization of Gender Relations in Indonesia: Women’s Organizations and the New Order. Karya itulah yang kaubaca dalam terjemahan bahasa Indonesia: Penghancuran Gerakan Wanita di Indonesia (Jakarta: Kalyanamitra dan Garba Budaya, 1999).

Namun, Ita, dia merasa belum cukup. Dia, dengan aksentuasi perspektif keperempuanan, menulis novel berdasar rangkaian fakta yang dia peroleh dalam penelitian pada awal 1980-an. Dia “menggabungkan fakta”, menyusun kisah baru, “mengeksplorasi lapisan pemahaman lain yang tak tersentuh” dalam berbagai tulisan nonfiksinya. Itulah Krokodillengat, yang diterjemahan Tatiana Utomo menjadi Lubang Buaya (Jakarta: Metafor Publishing, 2003), yang sekarang kita baca.

Dia tidak sendirian, Ita. Sebelumnya, dengan motif yang barangkali sama, Ngarto Februana menerbitkan novel Tapol (Yogyakarta: Media Pressindo, 2002). Dia menulis beberapa bagian dalam novel ketiganya itu berdasar data dan penelitian. Dia menggunakan data antara lain dari buku Menyingkap Kabut Halim 1965 susunan Aristides Katopo, Purnama Kusumaningrat, J.M.V. Soeparno, dan Moh Cholil (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, cetakan V, 2000), Landreform dan Gerakan Protes Petani Klaten 1959-1965 karya Soegijanto Padmo (Yogyakarya: Media Pressindo, 2000), Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani tulisan Benedicta A. Surodjo dan J.M.V. Soeparno (Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 2001), Kesaksianku tentang G-30-S tulisan H. Soebandrio (Jakarta: Forum Pendukung Reformasi Total, 2001), dan Pemulung Jalanan di Yogyakarta karya Y. Argo Twikromo (Yogyakarta: Media Pressindo, 1999).

Namun, dalam esai singkat ini, fiksi karya Saskialah yang secara vis a vis saya konfrontasikan dengan “kesaksian” Arswendo Atmowiloto, terutama berkait dengan disinformasi, pencitraan, dan pembunuhan karakter para perempuan. Itulah perkara paling menjijikkan dan menghinakan perempuan – sang ibu kehidupan.

Saskia menohokkan perlawanan terhadap pembunuhan karakter dalam kisah Arswendo melalui perjalanan hidup Tommy, perempuan wartawan dari Belanda, tokoh cerita Lubang Buaya, di negeri ini. Kisah terjalin dalam penuturan berselang-seling dari sudut diaan dan cakapan batin Tommy. Ya, “dari kamar selnya yang sempit dan bau di sebuah penjara tentara Indonesia, Tommy… berusaha merekonstruksi berbagai kejadian, baik yang telah membawanya ke tempat itu maupun yang telah mengakibatkan ribuan anggota Organisasi Perempuan ditahan, disiksa, dan dibunuh lima belas tahun sebelumnya. Semakin banyak kebusukan yang ia ungkap, semakin keras nuraninya menyangkal. Semakin jelas fakta yang ia temukan, semakin kabur bayangan kebebasan bagi dirinya” (sampul belakang).

Pencitraan yang sangat melenceng dari kejadian sesungguhnya meninggalkan luka teramat perih yang terus-menerus nganga di dasar jiwa Tante Sri, eks tahanan politik “orde baru”. “Tubuh tak bisa lupa, Tommy,” ujar Tante Sri…. “Kalau melihat tongkat rotan atau sebuah sabuk tentara, hatiku ciut lagi, bahkan sebelum aku menyadarinya. Aku merasa tulang-tulangku patah lagi” (halaman 36).

Dan Tante Sri terus-menerus menyimpan duka, terus-menerus menyimpan ketakutan. “…. Batin kami diinjak-injak lebih parah lagi. Tidak hanya kami yang tidak bisa menghilangkan bau kotoran itu. Orang lain pun menjepit hidung mereka bila melihat kami. Lambat laun, bila nasib mengijinkan, semua itu berkurang. Tetapi fitnah tetap ada. Tidak berhenti pada tahun 1965. Sekarang sudah hampir dua puluh tahun berlalu. Cerita-cerita yang mereka karang waktu itu selalu diulang dalam film, setiap gagasan yang berani segera dibungkam dan dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan mengerikan yang katanya kami lakukan dulu. Anak-anak hanya tahu itu saja, yang tua-tua tutup mulut karena sangat takut dan bingung” (halaman 36-37).
Tommy menggigil mendengarkan kesaksian Tante Sri. Dia pun menelisik “kebenaran sejarah”. Hingga suatu saat dia pun berucap (halaman 207), “Saya sudah bicara dengan beberapa perempuan yang ada di tempat kejadian itu. Jadi saya tahu persis apa yang terjadi malam itu. Tidak ada jenderal-jenderal yang diperkosa dan dikebiri, Pak Tjipto. Tidak ada tarian erotis. Tidak ada pesta seks yang primitif dan menyimpang.” 1)

Tommy teringat pengakuan Nana, seorang sukarelawati yang berlatih di kawasan Lubang Buaya. “Tommy, kami bukan satu-satunya kelompok yang melakukan latihan-latihan dan berada dalam pasukan baris-berbaris itu” (halaman 222). Nana menyaksikan para jenderal dibunuh dan dimasukkan ke sumur mati. Tak ada Tarian Harum Bunga, tak ada tawa. Saat itu, menurut kisah Nana (halaman 232), “Lapangan samar-samar diterangi oleh lampu-lampu yang digantung di pohon-pohon. Para prajurit muda dengan senapan-senapan lengkap berbayonet berlarian mondar-mandir, beberapa opsir rendahan meneriakkan perintah-perintah yang saling bertolak belakang. Sementara beberapa lelaki yang berusia lebih tua dalam pakaian tidur didorong ke tengah tanah lapang. Tangan-tangan mereka diikat ke belakang. Para gadis berlarian keluar dari barak sambil menjerit-jerit, menuju ke sudut lapangan, di mana dengan penuh ketakutan mereka berdiri bersama-sama.”

Begitulah sekelumit “perang fakta” dalam fiksi. Menarik bahwa kebenaran fiksional bisa bertransformasi (melalui pemaksaan dan penyajian berulang-ulang) menjadi seolah-olah kebenaran faktual. Sebaliknya, kebenaran fiksional beralih wujud (penerimaan) sebagai kebenaran faktual. Barangkali karena itulah Saskia menyatakan, “Banyak sejarawan masa kini berpendapat bahwa semua sejarah adalah fiksi. Tak ada fakta, hanya diskursus yang selalu berubah dan dipengaruhi kekuasaan” (halaman v). Dan, karena itu pulakah dia merasa perlu menulis Lubang Buaya? Padahal, bukankah justru kebenaran faktual yang dia sajikan dalam fiksi berkemungkinan alih wujud dan mengemuka sebagai kebenaran fiksional, kebenaran rekaan?
Sementara itu, puluhan tahun “orde baru” mendayagunakan fiksi berupa novel dan film dan memunculkan gejala menarik: kebenaran fiksional “diterima” dan “diperlakukan” sebagai kenyataan sejarah, kebenaran faktual. Jadi, mana lebih berdaya kuasa untuk mendorong upaya merekonstruksi sejarah secara lebih jujur dalam ruang kesadaran kita? 2)

———————————————————————————–
1)    Tahun 1987, indonesianis dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, Ben Anderson (“How Did the General Die” dalam Indonesia Nomor 43, April 1987; lihat juga hasil lengkap hasil autopsi/visum et repertum pada Lampiran IV buku M.R. Siregar (1995) mengungkap bahwa berdasar visum et repertum tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr. Roebiono Kertapati diketahui: cerita soal penyayatan kelamin oleh anggota Gerwani merupakan isapan jempol. Alat kelamin semua mayat itu utuh. Bahkan ada sebuah mayat dengan alat kelamin belum disunat; diduga karena mendiang beragama nasrani. Soal bola mata copot, diduga karena mayat dicemplungkan ke dalam lubang sumur dengan kepala lebih dahulu. Tim dokter yang memeriksa keadaan mayat ketakutan karena ada tekanan lewat pemberitaan tentang penyayatan penis para jendral yang sama sekali tak terbukti. Mereka mengakui kesulitan menyusun laporan akhir hasil autopsi karena berita-berita di media massa dan yang berkembang di masyarakat telanjur mengelirukan. Mengenai detail proses autopsi dan ketakutan tim dokter bisa dibaca dalam pengakuan mantan anggota tim dokter, Prof. Dr. Arief Budianto (Liem Joe Thay), ketika diwawancarai Majalah D&R, 3 Oktober 1998, “Meluruskan Sejarah Penyiksaan Pahlawan Revolusi”.
2)    Apalagi, kita tahu, tak ada yang berani menyajikan karya kreatif dalam versi berbeda, dari perspektif korban – yang bertolak belakang serta vis a vis secara diametral berhadap-hadapan dengan versi “sejarah resmi”. Kecuali, tentu saja, kaum eksil yang menulis dan menerbitkan karya di luar negari, antara lain Belanda dan Prancis. Di negeri ini, barulah setelah Soeharto terguling, muncul karya kreatif (berupa puisi, cerpen, novel, dan film) yang beranjak dari perspektif korban. Namun tak banyak benar yang menulis karya sastra dalam “kategori” ini. Mereka, antara lain, adalah Putu Oka Sukanta (puisi), Martin Aleida (cerpen dan novel), G.M. Sudarta (cerpen), Noorca M. Massardi (novel), Gitanyali (novel), Tinuk R. Yampolsky (novel), Gunawan Budi Susanto (cerpen). Novel Noorca adalah mempergunakan perspektif yang benar-benar bertolak belakang dari versi “sejarah resmi” – sebagaimana direpresentasikan oleh film Arifin dan novel Arswendo. Dan, belakangan muncul pula film-film yang berpunggungan dengan versi resmi itu, antara lain Mass Grave Indonesia karya Lexy Rambadetta (2001) dan (terakhir) The Act of Killing/Jagal karya Joshua Oppenheimer (2013). Novel Pulang Leila S. Chudori dan Amba Laksmi Pamuntjak, menurut pendapat saya, berkesan berperspektif korban, tetapi sebenarnya karena berupaya objektif sehingga justru terasa “mengambil jarak” dan karena itu menjadi tidak manjing daging, kurang nyawiji. Berbeda dari, misalnya, dari (jauh sebelumnya) karya trilogi Ahmad Tohari yang, meski bukan dari perspektif korban, terasa lebih utuh dan padu sebagai sebuah karya.

Bacaan:

Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan buat Emak, novel, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.
——–, Lintang Kemukus Dini Hari, novel, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.
——–, Jantera Bianglala, novel, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999.
Aristides Katopo, Purnama Kusumaningrat, J.M.V. Soeparno, dan Moh Cholil, Menyingkap Kabut Halim 1965, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, cetakan keempat, (Mei) 2000.
Arnold C. Brackman, Cornell Paper: Di Balik Kolapsnya PKI, Yogyakarta: Elstreba, 2000.
Arswendo Atmowiloto, Pengkhianatan G30S/PKI, novel, Jakarta: Sinar Harapan, 1986.
Atmadji Sumarkidjo, Mendung di Atas istana Merdeka: Menyingkap Peran Biro Khusus PKI dalam Pemberontakan G-30-S, Jakarta: Times Communications & Pustaka Sinar Harapan, 2000.
Audrey R. Kahin & George McT. Kahin, Subversi sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, cetakan kedua (Maret) 2001.
Benedict R O’G Anderson & Ruth T McVey, Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Analisis Awal, Yogyakarta: Syarikat, 2001.
Benedicta A. Surodjo dan J.M.V. Soeparno, Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Dani, Jakarta: Institut Studi Arus Informasi, 2001.
Budiawan, Mematahkan Pewarisan Wacana Anti-Komunis dan Politik Rekonsiliasi Pasca-Soeharto, Jakarta: Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (Elsam), 2004.
Dalhar Muhammadun, Tanah Berdarah di Bumi Merdeka: Menelusuri Luka-luka Sejarah 1965-1966 di Blora, Solo: Yayasan Advokasi Transformasi Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Aplikasi Wacana, dan Perkumpulan Elsam, 2004.
Fransisca Ria Susanti, Kembang-kembang Genjer, Yogyakarta: Jejak, 2007.
Garda Sembiring, Harsuno Sutedjo, ed., Gerakan 30 September 1965 Kesaksian Letkol (Pnb) Heru Atmodjo, Jakarta: People’s Empowerment Consortium (PEC), Hasta Mitra, Tride, cetakan kedua (November) 2004.
Gitanyali, Blues Merbabu, novel, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011.
——–, 65: Lanjutan Blues Merbabu, novel, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012.
Gunawan Budi Susanto, Nyanyian Penggali Kubur, kumpulan cerpen, Yogyakarta: Gigih Pustaka Mandiri, 2011.
H. Achmadi Moestahal, Dari Gontor ke Pulau Buru: Moemoar H Achmadi Moestahal, Yogyakarta: Syarikat, 2002.
Harold Crouch, Militer dan Politik di Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, cetakan kedua, 1999.
Hasan Raid, Pergulatan Muslim Komunis, Otobiografi Hasan Raid, Yogyakarta: Syarikat, 2001.
H.D. Haryo Sasongko, Catatan Harian Anak Bangsa Terpidana, Jakarta: Pustaka Utan Kayu, 2003.
Hermawan Sulistyo, Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (1965-1966), Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000.
Hersri Setiawan, Memoar Pulau Buru, Magelang: Indonesiatera, 2004.
——–, ed., Kidung untuk Korban: dari Tutur Sepuluh Narasumber Eks-Tapol Sala, Surakarta: Pakorba Sala, 2006.
Hikmah Diniyah, Gerwani Bukan PKI: Sebuah Gerakan Feminisme Terbesar di Indonesia, Yogyakarta: Caraswati Books, 2007.
H. Soebandrio, Kesaksianku tentang G-30-S, Jakarta: Forum Pendukung Reformasi Total, 2001.
Kasijanto Kasemin, Mendamaikan Sejarah: Analisis Wacana Pencabutan Tap MPRS/XXV/1966, Yogyakarta: LKIS, 2003.
Kerstin Beise, Apakah Soekarno Terlibat Peristiwa G30S?, Yogyakarta: Ombak, 2004.
Kolonel Abdul Latief, Pledoi Kol. A. Latief: Soeharto Terlibat G30S, Jakarta: Institut Studi Arus Informasi (ISAI), cetakan ketiga (Juli) 2000.
Kresno Saroso, Dari Salemba ke Pulau Buru: Memoar Seorang Tapol Orde Baru, Jakarta: Pustaka Utan Kayu & Institut Studi Arus Informasi (ISAI), 2002.
Laksmi Pamuntjak, Amba, novel, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, cetakan kedua, (November) 2012.
Leila S. Chudori, Pulang, novel, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2012.
Mayjen (Purn) Samsudin, Mengapa G30S/PKI Gagal? Suatu Analisis, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, cetakan kedua (Januari) 2005.
Martin Aleida, Leontin Dewangga, kumpulan cerpen, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2003.
——–, Jamangilak Tak Pernah Menangis, novel, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Michael van Langenberg, Benedict Anderson, Peter Dale-Scott, Gestapu, Matinya Para Jenderal dan Peran CIA, Yogyakarta: Cermin, 1999.
Ngarto Februana, Tapol, novel, Yogyakarta: Media Pressindo, 2002.
Noorca M. Massardi, September, novel, Solo: Tiga Serangkai, 2006.
Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, The Coup Attempt of the September Movement in Indonesia, Djakarta: Pembimbing Masa, 1968.
——–, Tragedi Nasional, Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia, Jakarta: Intermasa, cetakan kedua 1990.
Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI Markas Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia Jilid I Perkembangan Gerakan dan Pengkhianatan Komunisme di Indonesia, 1913-1948, Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI & Yayasan Telapak, cetakan kedua 1995.
——–, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia Jilid II Penumpasan Pemberontakan PKI, 1948, Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI & Yayasan Telapak, 1995.
——–, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia Jilid III Konsolidasi dan Infiltrasi PKI, 1950-1959, Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI & Yayasan Telapak, 1995.
——–, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia Jilid IVA Pemberontakan G30S/PKI dan Penumpasannya, Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI & Yayasan Telapak, 1995.
——–, Bahaya Laten Komunisme di Indonesia Jilid IVB Penumpasan Pemberontakan PKI dan Sisa-sisanya, Jakarta: Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI & Yayasan Telapak, 1995.
Putera-puteri dan Saudara Pahlawan Revolusi, Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam: Tuturan Anak-anak Pahlawan Revolusi, Keluarga Korban, dan Saksi pada Peristiwa Dini Hari 1 Oktober 1965, Jakarta: Keluarga Pahlawan Revolusi, cetakan kedua (Oktober) 2002.
R.A.F Paul Webb & Steven Farram, Di-PKI-kan: Tragedi 1965 dan Kaum Nasrani di Indonesia Timur, Yogyakarta, 2005.
Restaria F. Hutabarat, penyunting, Stigma 65: Strategi Mengajukan Gugatan Class Action, Jakarta: LBH Jakarta dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2011.
Robert Cribb, ed., The Indonesian Killings: Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966, Yogyakarta: Matabangsa & Syarikat Indonesia, cetakan kedua (Oktober) 2003.
Saskia Wieringa, Penghancuran Gerakan Wanita di Indonesia, Jakarta: Kalyanamitra dan Garba Budaya, 1999.
——–, Lubang Buaya, novel, penerjemah Tatiana Utomo, Jakarta: Metafor Publishing, 2003.
Sobron Aidit, Cerita dari Tanah Pengasingan, kumpulan kisah, Jakarta: Pustaka Pena, tanpa tahun.
——–, Razia Agustus, kumpulan cerpen, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Soegijanto Padmo, Landreform dan Gerakan Protes Petani Klaten 1959-1965, Yogyakarya: Media Pressindo, 2000.
Sudisman, Pledoi Sudisman: Kritik Oto Kritik Seorang Politbiro CC PKI, Jakarta: Teplok Press, 2000.
Sudjinah, Terempas Gelombang Pasang: Riwayat Wartawati dalam Penjara Orde Baru, Jakarta: Pustaka Utan Kayu, 2003.
Sulastomo, Dibalik Tragedi 1965, Jakarta: Yayasan Pustaka Umat, cetakan kedua, (Februari) 2006.
Suparta Brata, Donyane Wong Culika, novel, Yogyakarta: Narasi, 2004.
Suyatno Prayitno, Astaman Hasibuan, Buntoro, Kesaksian Tapol Orde Baru: Guru, Seniman, dan Prajurit Tjakra, Jakarta: Institut Studi Arus Informasi & Pustaka Utan Kayu, 2003.
Tinuk R. Yampolsky, Candik Ala 1965, novel, tanpa kota penerbit: Katakita, 2011.
Y. Argo Twikromo, Pemulung Jalanan di Yogyakarta, Yogyakarta: Media Pressindo, 1999.
Yudhistira A.N.M. Massardi, Mencoba Tidak Menyerah, novel, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1996.
Gunawan Budi Susanto,
Esai ini didiskusikan pada Forum Morfem Bebas, Rabu, 12 Februari 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.