Pentaskan Wayang Suluh untuk Sosialisasikan Bahaya Narkoba

Untuk menyosialisasikan bahaya miras, narkotika, dan seks bebas, sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggunakan media wayang suluh, Minggu (5/12).

Media itu digunakan oleh empat belas mahasiswa yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Acara yang digelar di Balai Pertemuan, RW 03, Dukuh Sidorejo, Kelurahan Tambangan itu menyita perhatian warga.

“Penyuluhan bahaya miras, narkotika, dan seks bebas ini merupakan salah satu program kerja kelompok KKN kami. Penyuluhan ini mengggunakan Wayang Suluh sebagai sarana penyampainya. Kebetulan anggota kelompok KKN kami, ada yang bisa men-dhalang,” ungkap Ketua Tim KKN, Kaniggia.

Mahasiswa yang didaulat mendalang adalah Agusta Prihantoro, mahasiswa bertubuh tambun yang menempuh studi pada semester tujuh di Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes.

Pagelaran Wayang Suluh diadakan pada puncak acara selama satu jam. Antusiasme pengunjung nampak ketika pagelaran ini diadakan. Perhatian warga tersita karena Ki Dalang Agusta ternyata piawai memainkan adegan konyol melalui tokoh wayangnya. Ia misalnya memeragakan tokoh wayang yang sedang teler dengan sangat komedia. Tak pelak, tawa penonton pecah.

Mengenai pilihannya menggunakan wayang, Agusta mengaku terinspirasi banyak tokoh. Para dalang bisa menyampaikan pesan kebaikan melalui wayang yang dipentaskannya.

“Wayang Suluh sendiri sebenarnya sudah lama ada. Dahulu wayang ini digunakan, misalnya oleh Departemen Penerangan RI untuk menyosialisasikan program Keluarga Berencana (KB). Malah pada era yang lebih lampau, digunakan untuk menggelarkan cerita-cerita perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia,” ungkap Agusta.

Pagelaran Wayang Suluh dikonsepkan tak jauh berbeda dengan Wayang Kulit Purwa. Hanya intensitas unsur-unsur tertentu seperti dalam pagelaran Wayang Kulit Purwa, dikurangi dan diambil secukupnya. Misalnya tidak digunakan pathetan dan sulukan sehingga iringan yang digunakan pun relatif lebih sederhana, yakni menggunakan repertoar gending rekaman.

Kelengkapan panggung yang digunakan adalah keprak (bunyi-bunyian pengiring gerakan dan sebagainya, dalam pertunjukan wayang [dibuat dari keping kayu dan logam]), blencong (lampu penerang layar), kelir (layar putih), debog (batang pisang), kothakan (peti tempat wayang), cempala (alat penabuh kotak peti sebagai tanda musik dimainkan dan diberhentikan), dan wayang.

Penyuluhan yang diadakan di Kelurahan Tambangan ini, mengambil cerita (lakon) “Eling-Eling Pitutur Kuna”. Lakon ini menceritakan tentang petuah moh lima (lima larangan) bagi orang Jawa, yaitu moh madat (tidak menghisap candu), moh madon (tidak selingkuh/main perempuan), moh minum (tidak mabuk-mabukan), moh maling (tidak mencuri), dan moh main (tidak berjudi). Sehingga dalam fragmen adegan lakon ini, digambarkan seseorang yang sedang madon dan minum, serta akibat yang ditimbulkannya.

Lurah Tambangan, Marsudiyana, S.H., juga berkesempatan mucuki (mendahului) acara wayangan dengan mempertunjukkan beberapa adegan.

Dalam dialog wayangnya, Lurah Tambangan mengharap agar menjaga kondusivitas menjelang pemilihan umum kepala daerah. Di bagian akhir fragmen pucukan wayang, Lurah Tambangan mengharap semoga Wayang Suluh semakin berkembang, terutama di Kelurahan Tambangan.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.