Nonton Ayat-Ayat Cinta 2 Bersama Ariel Heryanto

Saat antre beli tiket nonton Ayat-Ayat Cinta 2 saya bertemu Ariel Heryanto. Dia berada di antrian yang sama dengan saya, selisih dua orang. Karena saya merasa kenal dengan orang ini, saya sapa saja. “Pak Ariel Heryanto?”. Dia mengangguk seraya tersenyum.

Bagi anak muda seperti saya, kesempatan bertemu dengan cendekiawan beken seperti dia adalah keberuntungan. Selama ini saya terhubung dengan dia hanya lewat buku dan artikel-artikelnya. Dia memang lebih sering tinggal di Australia karena bekerja sebagai profesor di School of Culture, History, and Langauge The Australian National University.

Keberuntungan saya bertambah. Selain bertemu, ternyata kami mendapat tempat duduk bersebelahan.

Sore itu tiket film itu memang nyaris habis terjual. Kursi-kursi bagian belakang sudah seluruhnya terisi. Dia – sebagaimana saya – mungkin terpaksa ambil kursi di baris keempat dari depan karena tidak punya pilihan lain yang lebih baik.

Maka, inilah orbrolan kami ketika menyaksikan film produksi MD Entertainment yang konon tketnya sudah terjual lebih dari dua juta sejak tayang perdana pada 21 Desember itu.

[Ketika baru duduk, saya melihat rombongan remaja perempuan berseragam]

Saya:
Wah, nonton aja pakai seragam ya Pak? Ini mengingatkan saya dengan jemaah Mamah Dedeh.

Ariel:
Orang tak datang ke bisokop untuk hanya menikmati film, menghibur diri dengan fantasi. Bagi Muslim urban seusia mereka, film adalah sarana menyatakan identitas dirinya. Memilih konsumsi budaya, film salah satunya, adalah strategi mendefinisikan diri. Busana yang mereka pakai, film yang mereka pilih, mereka maksudkan juga untuk menarasikan identitas kemuslimannya kepada orang lain.

Saya:
Hahaha. Kalau mau jadi Muslim yang taat ya pakai mukena, ngaji di masjid to. Masa identitas sebagai Muslim dinyatakan di tempat hiburan macam ini?

Ariel:
Bagi masyarakat urban, aktivitas konsumsi bisa sekaligus dijadikan ekspresi keagamaan. Mereka mengawinkan aktivitas konsumsi yang menawarkan pleasure dengan aktivitas keagamaan yang menawarkan kezuhudan. Tanya saja mereka, kenapa tertarik nonton film ini? Bisa jadi mereka akan menjawab “Ingin mempelajari Islam melalui film.” Jangan kaget kalau ada yang menjawab bahwa mereka sedang mendukung syiar Islam. Begitulah agama dan gaya hidup dipertemukan oleh industri budaya.

[Duduk cukup lama, tapi film belum mulai. Masih menayangkan deretan iklan].

Saya:
Wah, lama banget iklannya.

Ariel:
Kita sedang berada di ruang yang sepenuhnya dikuasai pelaku industri budaya. Film yang akan kita tonton adalah produk budaya. Tapi jangan lupa, itu adalah produk budaya yang lahir dari industri. Karena itu, film ini adalah alat bagi para aktor-aktornya untuk meraih keuntungan finansial. Produser memperoleh pendapatan dari penjualan tiket. Pengelola bioskop ini, selain komisi, juga mendapatkan keuntungan dari iklan-iklan prafilm yang dipaksakan kepada kita untuk ditonton.

Saya:
Gak apa-apa lah. Yang penting bisa nonton Ayat-Ayat Cinta 2. Jarang-jarang kan ada film islami jadi box office.

Ariel:
Tak ada film islami. Itu persepsi yang dibangun produser agar membangkitkan afeksi kelas menengah Muslim untuk tertarik menyaksikannya. Kalau yang dimaksud islami adalah hasrat para penciptanya untuk mendidik publik memahami nilai islam, saya ragu soal itu. Produser, sutradara, aktor, dan semua yang terlibat dalam produksi film adalah para profesional yang mendapat bayaran untuk pekerjaan mereka.

Saya:
Tapi Fedi Nuril dan Dewi Sandra kan ikon selebritis yang islami kan Pak?

Ariel:
Saya dapat bocoran, nanti di film akan ada adegan di mana tokoh Fahri dan Aisha saling berpegangan tangan. Fahri diperankan Fedi Nuril. Aisha diperankan Dewi Sandra. Apakah mereka layak disebut sebagai selebritas yang islami jika mereka melanggar perintah Islam – untuk tak bersentuhan selain dengan suami/istri atau muhrim – hanya demi pekerjaan profesional mereka?

[Ketika film sudah mulai tayang, muncul Tatjana Saphira}

Saya:
Saya suka pemeran Hulya. Dia cantik dan cerdas.

Ariel:
Dalam industri visual semacam ini, kecantikan adalah komoditas yang berharga. Para produser dan sutradara paham betul hal-hal semacam itu. Kecantikan bisa membangkitkan hasrat tertentu yang amat biologis pada laki-laki. Saya kira, itulah kenapa di ruang ini banyak laki-laki.

Saya:
Tapi film ini akan bisa membangun wacana tandingan kan? Islam didudukkan secara benar sebagai agama yang baik, tidak seperti dalam film-film Barat yang menempatkan Islam sebagai sumber masalah dunia.

Ariel:
Kalau kamu menganggapnya begitu, kamu juga harus baca bahwa film ini justru menunjukkan inferioritas Muslim. Film ini mendudukan superioritas Muslim justru dengan memanfaatkan property (hak milik) yang khas Barat. Muslim yang ngajar di Eidienburg itu hebat? Kalau gitu yang hebat Muslimnya atau Eidenburgnya? Muslim yang ngajar di Oxford itu hebat? Yang hebat Muslimnya atau Oxfordnya?

Saya:
Biar bagaimanapun, film ini mewakili aspirasi saya sebagai Muslim.

Ariel:
Begitulah identitas dibangun dengan politik representasi. Penonton dipuaskan karena merasa ada dirinya dalam salah satu tokoh dalam film itu. Penonton yang Muslim juga dipuaskan karena film ini menarasikan bahwa Yahudi dan Israel jahat. Film bermain dengan strategi lama: stereotiping.

Saya:
Tetap saja ini kesempatan langka. Film seperti ini tak ada selama Orde Baru kan?

Ariel:
Perubahan lanskap politik pascareformasi memang membuka kelompok islamis untuk berekspresi secara lebih terbuka. Dalam politik, itu terbaca dari lahirnya partai-partai Islam baru. Dalam bidang budaya, film-film seperti ini semakin mendapatkan tempat karena terbukanya pasar baru berupa muslim kelas menengah perkotaan.

[Film berakhir, kami berdiri untuk keluar bioskop]

Saya:
Maaf ya saya bertanyaan terlalu banyak. Semoga penonton lain tak terganggu dengan obrolan kita.

Ariel:
Semoga begitu.

Saya:
Kapan balik ke Australia?

Ariel:
Ke Australia? Saya belum pernah ke Australia.

Saya:
Bukannya Bapak masih ngajar di ANU?
Ariel:

Tidak. Saya jual karpet di Jalan Gajah Mada.

Saya:
Tapi bapak Ariel Heryanto kan? Yang nulis buku Identitas dan Kenikmatan itu?

Ariel:
Mungkin Mas salah orang. Saya Ariel Heryanto, tapi bukan yang Mas maksud.

Saya:
Wah, saya salah paham rupanya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *