Menyiapkan Jalan Karir Anak

KERAP muncul perdebatan sengit antara orang tua dan anak saat berdiskusi memilih pekerjaan yang tepat. Bahkan tak jarang perdebatan tersebut dimulai lebih dini ketika anak memilih sekolah atau jurusan di perguruan tinggi. Anak merasa memiliki otoritas memilih pekerjaan, sedangkan orang tua merasa perlu andil dengan berbagai pertimbangan. Baik orang tua maupun anak memiliki argumen untuk menguatkan pilihannya.

Menentukan pilihan profesi pada dasarnya menjadi hak orang per orang. Siapapun, entah laki-laki maupun perempuan, berhak memilih profesi apapun sesuai minat dan kemampuannya. Namun karena seseorang hidup dalam komunitas, keluarga dan masyarakat, pilihan profesi kadang dipengaruhi lingkungan.

Pengaruh paling kecil sering diterima anak dari keluarga. Bahkan cerita-cerita tentang pemaksaan kehendak oleh orang tua agar anak-anaknya memilih profesi tertenu masih sering terdengar. Mereka meminta anak agar meneruskan tradisi profesi tertentu yang memang sudah turun-temurun, atau melanjutkan bisnis keluarga.

Pengaruh yang diberikan keluarga bisa diterima sebagai sebuah dukungan jika sesuai pilihan anak. Tapi jika tidak sesuai minat anak, pengaruh tersebut diterima anak sebagai bentuk kekangan. Hal ini menjadi penting karena akan berpengaruh besar pada profesionalitas anak ketika sudah terjun pada profesi tertentu.

Hubungan seorang anak dengan lingkungannya bukanlah hubungan searah, namun ada hubungan timbal balik antara keduanya. Berkaitan dengan itu, ada tiga kemungkinan sikap yang diambil anak terhadap pengaruh yang diterima. Pertama, anak menerima, dengan syarat lingkungan tumbuh dan berkembang sesuai kehendaknya.

Kedua, anak bersikap netral, dalam arti tidak memberikan respon yang jelas untuk menerima atau menolak. Mereka cenderung diam, tidak memberikan dukungan atau perlawanan terhadap pengaruh yang diterimanya.

Sikap selanjutnya, anak menolak, bahkan bukan tidak mungkin melakukan perlawanan. Penolakan anak terhadap lingkungannya ditunjukkan dengan cara mengasingkan diri, atau bahkan secara ekstrem mencoba merubah lingkungan sesuai keinginannya.Kemungkinan ini sangat terbuka karena tidak setiap pemikiran individu sesuai dengan norma yang berlaku pada komunitas tempatnya hidup.

Berbagai kemungkinan sikap yang diambil anak mestinya menjadi bahan pertimbangan orang tua saat anak memilih karirnya. Jika anak menerima, pengaruh orang tua berlaku menjadi bentuk dukungan. Namun jika anak menolak, orang tua justru akan dianggap sebagai penghambat saat anak mengembangkan karir pilihannya. Masalahnya, apakah setiap anak sudah berpikir matang saat menentukan pilihannya?

Motif dan Pendekatan
Pertentangan antara anak dan orang tuanya sering terjadi karena perbedaan persepsi. Orang tua menganggap profesi tertentu baik bagi anaknya, namun anak beranggapan berbeda. Sebagai pribadi yang matang orang tua memiliki instrumen sendiri dalam mengukur ‘kebaikan’ sebuah profesi. Kadang instrumen pengukur yang digunakan orang tua tidak dimiliki anak. Bahkan anak sebagai pribadi yang tengah bertranformasi memiliki instrumen sendiri.

Widagdo (2004) memberikan pengertian persepsi sebagai sebuah proses yang diawali oleh penginderaan, yakni diterimanya stimulus melalui alat indera. Karena stimulus yang diterima tiap orang berbeda, persepsi yang berkembang dalam pikiran juga berbeda. Demikian pula pada orang tua dan anak-anak.

Orang tua memiliki lebih banyak pengalaman sehingga keputusan yang diambilnya didasarkan pada bukti-bukti empiris, sedangkan keputusan anak lebih didasarkan pada emosi. Karena itulah persepsi anak dan orang tua tentang profesi ideal kerap berbeda.

Kebanyakan orang tua menghendaki anaknya bekerja di bidang yang aman, menjanjikan kemapanan, dan jaminan terjaganya hari tua. Kriteria tersebut memang berlaku bagi kebanyakan orang, namun tidak semua. Kadang anak justru menginginkan profesi yang menantang dan memberinya ruang berekpresi mengeksplorasi diri. Dasar itulah yang membuat anak kadang mengambil keputusan di luar dugaan, bahkan terkesan absurd bagi orang tua.

Jika dicermati, terdapat benang merah yang menyebabkan perbedaan orientasi antara orang tua dan anak pada profesi tertentu. Pertama, perbedaan motif.

Jika dipahami sebagai bentuk dorongan, motif berisi sekumpulan target yang ingin diraih individu tertentu. Anak sebagai individu yang berkembang memiliki berbagai target hidup. Begitu pun orang tua, yang memiliki tujuan dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Karena bersifat interpersonal, motif anak kadang tidak sama dengan motif orang tua. Seperti contoh sebelumnya, anak ingin mengeksplorasi diri dan menikmati tantangan sedangkan orang tua ingin anaknya menjadi pribadi yang mapan.

Kedua, terdapat perbedaan pendekatan. Orang tua menggunakan pendekatan kausalitas, yakni menghubungkan sebuah pilihan dengan kemungkinan akibatnya. Sedangkan pilihan anak lebih dipengaruhi emosi, berupa minat dan kesenangan. Kedua orientasi inilah yang mesti disatukan dengan memilih profesi yang dapat mengakomodasi kepentingan keduanya.

Masalah timbul karena tidak setiap perbedaan sudut pandang dapat disatukan. Kadang terdapat rentang yang terlalu jauh sehingga perspektif anak dan orang tua tidak mungkin disatukan. Dalam kondisi seperti inilah orang tua dituntut bersikap bijak, yakni mengalah dan hanya menempatkan diri sebagai pembimbing bagi anak-anaknya. Orang tua dapat terus mempertahankan pilihannya jika pilihan anak terlalu beresiko.

Sebaliknya, jika pilihan anak dapat ditolerir, kemungkinan buruk dapat ditangani, dan anak mampu mempertanggungjawabkannya, orang tua harus memberi dukungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.