Lima Kesamaan Retorika Ustaz Somad dan Ustaz Yassir Arafat

Ustaz Abdul Somad menjadi “selebriti” baru media maya. Ceramahnya di berbagai forum tersebar di berbagai media sosial, terutama Facebook dan Youtube. Penggemar dan pendengar ceramahnya mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan.

Selain karena substansi keilmuannya, ceramah Ustaz Somad terasa segar didengarkan karena keunggulan retorikannya. Dia memiliki keterampilan retorika yang unik dan segar.

Bagi para dai, kemampuan beretorika adalah keterampilan minimal. Keterampilan semacam itu dipelajari saat mereka masih “kuliah” di pesantren maupun saat mereka belajar di perguruan tinggi.

Karakter retorika Ustaz Somad memiliki kesamaan dengan Ustaz Ikhwan Yassir Arafat Hatta El-Makoalloe. Utstaz Yassir memang belum sepopuler Ustaz Somad, tetapi di internal jamaahnya, Ustaz Yassir adalah salah satu  dai terkemuka yang fatwa dan penjelasannya tentang kehidupan beragama sangat dipercaya.

Berikut lima kesamaan teknik retorika Ustaz Somad dan Ustaz Yassir.

1. Tikungan Tiga

Saat merinci sesuatu, ada kecenderungan para pembicara dan penulis menggunakan rumus tiga. Caranya adalah dengan merinci sesuatu menjadi tiga hal (tripartid).

Perilaku seperti ini muncul dalam berbagai bidang. Dalam bidang sosial, misalnya, Cliford Geerz membuat tiga rincian agama Jawa: santri, abangan, priayi. Dalam bidang pendidikan, ada tri dharma perguruan tinggi. Dalam bidang keagamaan, ada konsep trimurti. Bilangan tiga adalah bilang ganjil yang memiliki berbagai keistimewaan, baik secara logis maupun spiritual.

Dalam kondisi umum, tiga hal yang dirinci terhubung setara. Tapi untuk keperluan beretorika, hukum tiga ini dimodifikasi sehingga menciptakan kelucuan. Dalam stand up comedy, hukum ini sering disebut rule of three.

Ustaz Somad menggunakan teknik ini dalam beberapa kesempatan. Berikut salah satu contohnya:

(1) Anak muda sekarang kalau nikah Mas kawinnya surat Ar-Rahman.
(2) Setelah nikah, bikin orang tua adem karena dari kamar terdengar bacaan Ar-Rahman sangat merdu.
(3) Eh, waktu ditengok di kamar, ternyata itu suara CD.

2. Narasi Eksemplum

Hampir di setiap ceramahnya, Ustaz Somad menceritakan pengalaman pribadi atau tokoh tertentu. Dari cerita pribadi itulah kemudian ia ambil pelajaran atau hikmah.

Teknik ini akan membuat sebuah pelajaran terasa sangat riil, hidup dalam diri manusia. Pelajaran tidak disampaikannyasebagai sesuatu yang abstrak.

Lihat cara dia menguraikan topik ikhwan atau persaudaraan. Sebelum dia menjelaskan ajaran Islam mengenai keutamaan menjalin persaudaraan, ia bercerita dulu panjang lebar tentang pengalamannya berteman dan bersahabat dengan berbagai orang.

Ustaz Yassir Arafat juga memiliki kebiasaan serupa. Dia punya banyak sekali kisah yang biasanya disampaikan sebelum dia bercerita tentang nilai tertentu. Ada kisah Abu Naws dan Khalifah Harun Al Rasyid, ada kisah petulangan imajiner Robinso Crusho, juga ada kisah para sahabat nabi.

3. Parodi Hiperbolik

Ketika menceritakan pengalaman pribadi atau tokoh tertentu, Ustaz Somad seringkali memarodikannya secara hiperbolik. Teknik membuat adegan yang sebenarnya biasa saja tampak dramatis atau lucu.

Saat Ustaz Somad bercerita pengalamannya menjalani tes sebagai dosen, ia berhasil membuat tokoh-tokoh dalam ceritanya begtiu hidup karena karakter tokoh itu diparodikan.

4. Peragaan

Ketika menjelaskan sesuatu, ia tak ragu untuk mendayagunakan tubuhnya sebagai alat ekspresi. Bukan hanya membuat mimik aneh, Ustaz Somad juga piawai menggerakkan tangan, kaki, dan anggota tubuh lain.

Di beberapa kesempatan dia berjalan memutari panggung, duduk, lalu berdiri lagi.

Dengan kepiawaian seperti itu, Ustaz Somad menjadi dai panggung yang sangat komunikatif. Cocok untuk karakter jamaahnya yang komunal dan berselera humor.

5. Responsif

Saat berceramah, dia sering secara spontan merespon kejadian-kecian kecil yang terjadi di sekitar lokasi pengajian. Kadang-kadang komentarnya sama sekali tidak berkaitan dengan isi pengajiannya. Tapi teknik ini berguna untuk memberikan jeda. Jamaah pengajiannya diajak berwisata sebentar ke hal-hal remeh temeh di luar isi pengajian.

Kadang dia mengomentari foto dirinya yang terpajang di backdrop. Kadang dia menanggapi celetukan jamaah. Kadang dia mengomentari kameraman atau fotografer yang merekamnya. Bahkan ia pernah mengomentari anak-anak yang lewat di depannya.

Berbagai kesamaan itu membuat Ustaz Somad dan Ustaz Yassir Arafat sangat mirip. Kemiripan di antara mereka berdua ternyata tidak hanya dalam bereotika. Lama-lama saya cermati, wajah beliau berdua pun mirip sekali. Begitu juga logatnya berbicaranya. Cara dia kedua orang mengucapkan pronomia “awak” dan partikel “lah”, betul-betul serupa.

Apakah mereka adalah saudara kandung yang terpisah?

Rahmat Petuguran
Anggota Jamaah Al-Yassiriah Cabang Semarang

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *