Lima Buku yang Mestinya Sudah Dibaca Pemuja Soekarno

Pria itu telah meninggal dunia pada 1970. Soekarno. Tetapi kisah hidup dan gagasannya hidup dan terpelihara hingga saat ini. Tidak heran kalau generasi yang bahkan tak pernah hidup sezaman dengannya, masih pula mengaguminya.

Salah satu yang membuat Soekarno masih berdiri kokoh seperti monumen adalah berkat buku-buku yang mengabadikan kisah dan gagasannya. Ada puluhan buku yang mencatatkan perjalanan hidup dan pemikirannya. Buku-buku itu, patut dibaca sebagai ikhtiar membaca Sang Proklamator dengan lebih seksama. Terutama bagi orang yang mengaguminya.

Berikut lima di antaranya:

Di Bawah Bendera Revolusi

Kalau ada presiden yang demikian tekun menulis, Soekarno adalah salah satunya. Saat masih muda, menjalani masa pembuangan, hingga ia menjadi Presiden Indonesia, ia tidak pernah begitu jauh dari pena. Ia menulis tentang Indonesia yang diimpikannya, tentang agamanya, tentang keluarganya, dan tentu saja tentang perempuan yang dicintainya.

Di Bawah Bendera Revolusi adalah buku yang menghimpun tulisan-tulisan Soekarno itu. Ada dua jilid Di Bawah Bendera Revolusi. Jilid pertama terbit 1964, jilid kedua terbit 1965. Begitu lengkapnya, buku ini bisa dibilang adalah notulensi perjalanan intelektualnya yang paling komplet.

Soekarno Penyambung Lidah Rakyat

Dulu Soekarno tak pernah antusias menerima tawaran dibiografikan. Banyak wartawan dan handai taulan yang coba merayu Soekarno, tetapi ia ogah.

Tetapi ketika yang menawari adalah perempuan cantik bernama Cindy Adam, urusannya lain. Soekarno manut diwawancara olehnya, hingga hasilnya dapat kita baca dalam bentuk buku Soekarno Penyambung Lidah Rakyat.

Di antara biografinya yang lain, buku ini mungkin yang paling lengkap karena ditulis berdasarkan penuturannya sendiri. Namun, karen berformat otobiografi dengan sudut pandang orang pertama, cerita yang disajikan dalam buku ini adalah Soekarno menurut versinya. Watak narsistik Soekarno muncul di beberapa bagian.

Kuantar ke Gerbang: Kisah cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno

Tiap kali membayangkan sosok Inggit Ganarsih, saya selalu membayangkan keteduhan. Dan, agaknya memang itulah yang ditemukan Soekarno pada istri keduanya. Inggit yang lebih dewasa darinya, adalah penyokong paling militan ketika Soekarno melalui masa-masa paling menyakitkan selama perjuangan.

Inggit menerima Soekarno ketika Soekarno (saat itu bersama Oetari) baru pindah dari Surabaya. Inggit berlaku menjadi manajer, pengayom, bagi jiwa muda Soekarno yang saat itu senantiasa membara.

Perempuan inilah yang dengan diam membawakan makan ketika Soekarno dipenjara pada ruang sempit dan pengap di Sukamiskin. Ketika Soekarno dibuang ke Bengkulu, Inggit pula yang menemaninya. Perempuan ini menempuh perjalanan kaki selama dua hari dari Bengkulu ke Medan ketika Jepang mulai datang.

Kisah itulah yang dapat kita baca dalam buku Kuantar Kau Gerbang, biografi Inggit Ganarsih yang ditulis Ramadhan KH. Inggit tetap menjadi pengayom ketika hati Soekarno berpindah kepada perempuan yang lebih muda: Fatmawati.

Catatan Kecil Bersama Bung Karno

Istri ketiga Soekarno juga mencatatkan  perjalanan hidupnya bersama Sang Proklamator. Fatmawati merangkumnya dalam buku berjudul Catatan Kecil Bersama Bung Karno. Lantaran ditulis oleh Fatmawati sendiri, perspektif penulis sangat jelas. Ini adalah catatan seorang istri tentang suami tercintanya.

Di situlah keunikan buku ini. Fatmawati berbagai pengalaman-pengelaman penting sejak mengenal Soekarno pada 1938 hingga ketika mereka menghuni istana. Penulis menggunakan banyak dialog yang menunjukkan keintiman presiden dengan ibu negara.

Soekarno Paradoks Revolusi Indonesia

Buku Soekarno Paradoks Revolusi Indonesia diterbitkan Tempo dalam bentuk tetralogi Empat Bapak Pendiri Bangsa. Selain Soekarno, ada Hatta, Sjahrir, dan Tan Malaka yang kisahnya terpublikasi dalam paket ini.

Ditulis dengan pendekatan jurnalistik, kisah hidup Soekarno disajikan lebih ringkas dalam buku ini. Bukan pada pemikiran dan perjalanan hidup, buku ini lebih banyak berisi ulasan peran Soekarno dalam peristiwa-peristiwa penting dalam pendirian Republik Indonesia. Dengan gaya “enak dibaca dan perlu”, buku ini lebih menyerupai resume.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.