Lebih Dekat dengan Prof Retmono, Mantan Rektor IKIP Semarang yang Dikenal Ramah (3)

AWAL tinggal di Semarang, Retmono dan keluarga menempati rumah di Puspogiwang. Daerah ini ternyata rawan banjir. Rumah Retmono juga tak luput dari luapan air setiap musim hujan.

“Kalau tidur saya sering harus meletakan tangan saya di lantai. Supaya kalau air masuk bisa terasa,” kenangnya.

Meski tak nyaman, Retmono tak bisa langsung pindah. Ia tidak cukup uang untuk membeli rumah baru. Statusnya mentereng sebagai dosen ternyata tak diikuti penghasilan yang besar. Terpaksa ia dan keluarga mengakrabi banjir di Puspogiwang hingga 10 tahun dengan gaji Rp10 ribu per bulan.

Baru setahun di IKIP Semarang, rekan-rekan meminta Retmono menjadi Dekan Fakultas Pendidikan Seni dan Sastra (FKSS). Pada periode itu pemilihan dekan dilangsungkan melalui musyawarah senat. Rekan-rekan mendorongnya untuk maju. “Kalau teman-teman menghendaki, saya bersedia,” kata Retmono menanggapi dorongan rekan-rekannya.

Jabatan dekan ia duduki hingga dua periode. Karier strukturalnya terus berkembang. Setelah dua periode menjadi dekan ia diberi amanah menjadi Pembantu Rektor IV. Selepas itu ia pindah posisi sebagai Pembantu Rektor I. Retmono sempat kembali menjadi dekan FKSS sebelum akhirnya terpilih menjadi rektor IKIP Semarang pada 1986.

Berbagai kesibukan inilah yang membuat Retmono lupa ngopeni karier akademiknya. Meski sudah jadi doktor sejak 1970 ia baru dikukuhkan jadi profesor pada 1992. Itu pun karena rekan-rekannya yang mengingatkan.

“Ayo diurusi. Wong tinggal selangkah maneh wae kok,” kata rekan-rekannya.

Salah satu “peninggalan” berharga Retmono saat menjadi rektor adalah perpindahan IKIP Semarang dari Jalan Kelud ke Sekaran. Gagasan ini muncul pertama kali saat Prof. Soegiyono (alm), pembantu rektor I, berkunjung ke IKIP Medan. Di sana ia melihat kampus itu dibangun besar-besaran. Mengaku takjub, ia bertanya kepada pengelol IKIP Medan bagaimana cara membangun kampus sebagus itu.

Saat pulang ke Semarang Prof. Soegiyono diskusi dengan Retmono. Mereka menyadari bahwa kampus mereka sudah terlalu sesak. Tanah yang hanya 5 hektar harus dihuni oleh lebih dari 6.000 mahasiswa. Mereka khawatir kampus tidak bisa berkembang jika terus bertahan di Kelud. Maka, Prof. Soegiyono minta izin kepada Retmono untuk mengupayakan dana ke Dirjen Dikti. Dan, usaha itu membuahkan hasil.

“Pertama hanya satu miliar. Kami gunakan untuk bayar tanah bengkok Lurah Sekaran. Itu tanah tegalan. Sekarang dipakai untuk gedung Rektorat, Perpustakaan, dan FMIPA. Setelah kami beli, banyak warga yang menawarkan tanahnya supaya ikut dibeli. Ibarat buka pintu, kami taruh sepatu supaya pintu tetap terbuka. Hampir setiap tahun kami mendapat alokasi pembangunan, di atas tanah seluas 125 hektar, yand dibeli sesuai dengan pagu (plafon) harganya dalam DIP.”

Keputusan boyongan ke Sekaran bukan tanpa kendala. Secara internal ada pihak yang menolak. Alasannya, di Sekaran belum ada listrik, juga telepon. Air di sana konon juga tidak lancar. Akses ke sana pun sulit. Jauh dari pusat kota.

Pertama kali Retmono ke Sekaran untuk tinjau lokasi ia harus naik motor. Ia pinjam motor trail milik anaknya untuk menaklukkan jalan yang sempit dan berbatu.

Suatu saat ia bersama sejumlah rekan ke Sekaran bersama. Karena menggunakan jeep double gardan, Retmono terpaksa meminta rekan-rekannya turun.

Oleh Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Rustam, IKIP sebenarnya sudah diberi tanah di Trangkil. Namun menurut Retmono tanah itu tidak layak untuk dibangun gedung. Selain miring, tanah di sana cenderung tidak stabil. Hampir setiap musim hujan ada tanah yang longsor.

Tak puas, Retmono bersama pimpinan institut lainnya menghadap gubernur lagi. Ia minta supaya diberi tanah yang lebih baik. Kebetulan di Sekaran ada bengkok lurah yang tidak bisa dibuat sawah. Saat itu masih berupa tegalan. Setelah proses negosiasi, tanah mulai dibebaskan. Mereka sepakat harga tanah Rp7.500 per meter.

“Saya senang karena proses pembelian tanah berlangsung baik. Tanpa mark up sedikit pun. Sebanyak meteran yang mereka ukur, sebanyak itulah yang kami bayar.”

Jabatan sebagai rektor Retmono pegang hingga 1992. Ia mengaku senang kini kampus terus berkembang. Kampus Sekaran, misalnya, kini menjadi kampus yang besar dan indah.

Menikmati Pensiun

Retmono pensiun pada 2003. Oleh Mendiknas ia diberi hak khusus untuk tetap mengajar dan membimbing.Ia diangkat sebagai Gurubesar Emeritus . Meski purnatugas, ia masih tetap mengajar. Selain di Unnes ia juga diminta ngajar di Universitas Sultan Agung (Unissula). Di sana ia bahkan dipercaya menjadi Dekan Fakultas Bahasa hingga pertengahan 2012 lalu. Usianya akan genap 80 tahun pada Oktober 2013 nanti.

Hidupnya terasa lengkap. Dua putranya sudah memberinya empat cucu. Di rumahnya, Jalan Taman Lamongan ia tinggal. Rumahnya sederhana meski punya halaman yang luas. Sebuah pohon nangka tumbuh di sana, bersanding dengan pohon mangga yang rindang. Hujan mengguyur daun-daunnya pada pertengahan Januari lalu. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.