Ketika Suami Menjadi “Pengangguran” Fulltime

“Tak ada suami yang rela melihat isterinya nganggur…,” ujar saya.
Teman dan kolega akan terbahak bahak mengamini. Aneh tapi nyata. Di rumah, kami, para suami, mendadak ‘stroke’ – malas ngerjakan apa-apa. Isinya cuman kongkonan.
“Mah, ambilkan ini…”
“Mah buatkan itu…”
“Dompetku neng endi yo, Mah?”
“Tolong golekna hapeku, Mah….”
*Prekkk…, opo aku ahli kebathinan?*

Entah karena merasa sebagai ‘bread-winner’, sebagai hero yang telah menghidupi kompor keluarga, atau karena merasa kelelahan telah bekerja memeras keringat di kantor, suami-suami seakan punya privilege jadi couch potato.
“Kamu ndak tau? Seharian di kantor aku sudah CAPEKK…!!”
Itu senjata para suami. Padahal – jujur saja – di kantor, mereka kerjanya cuman duduk ongkang-ongkang dan kongkonan.
*Hmm…, gitu ya*

Kalau ada telpon bunyi, para suami mendadak ‘budeg’. Awalnya, saat habis menikah, mereka terlihat manis dan mau ngangkat.
“Hellooowww. Oya, mami…, sebentar… Honeyyy, Mami telpon…”
Dua tahun kemudian. “Kringggg…! Kringgg…! Kringgg…!”
“Eh, itu mungkin Mami…” Cuman nuding, sambil nyengir.
Empat tahun kemudian. “Kringgg…! Kringgg…! Kringgg..!”
“PHONEEE….!!!!”
*Lha mbok diangkat sik!*

Urusan pembantu juga begitu. Suami-suami menempatkan diri di strata tertentu, yang ‘mengharamkan’ mereka berinteraksi dengan para pembantu. Semua perintah, tingkah polah atau keluar masuknya pembantu, menjadi tanggung jawab isteri sepenuhnya. Cang…, ehm, mulut suami-suami seakan steril. Menyuruh pun tidak mau, harus via isteri.
“Eh, suruh si Iyem kalo ngepel, ndak usah pakai obat pel….”
*Yo, yo!*
“Eh itu si Ijah dikasi tau, jangan nyirami siang siang, rumputnya mati semua…”
*Lha mbok ngomong dhewe, napa sih?*

Dan suami-suami sok pahlawan, tukang perintah tak berkesudahan, leyeh-leyeh bagai raja diraja di atas sofa atau ranjang. Tangannya menggenggam remote simbol kekuasaan, matanya ketap ketip antara tidur dan terjaga. Dan isteri-isteri setia korban romusha bersimbah keringat nguleg sambel di dapur, lalu ngiwut memandikan anak, memeriksa pr dan menata buku pelajaran, memasukkan seabrek pakaian, menyiapkan uang les dan gaji pembantu. Isteri-isteri penuh dedikasi, kerja fulltime tanpa keluh-kesah. Semua dijalani, semua dilakoni. Andai suami isteri bertukar peran, siapa kira-kira bakal resign duluan? (Gambar: nexonia.com)

Oktober 2013

Harjanto Halim

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *