“Jeneng” Cinta

SEDULURKU TERCINTA,sudah menjadi “kebiasaan” Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw bahwa apa-apa yang dekat dengan beliau, pasti dikasih nama atau “jeneng”; tongkat, cincin, tikar, binatang, bahkan sebutan orang semisal “Abu Turob”. Hal ini merupakan wujud hubungan yang intim dengan benda-benda itu.

Kebiasaan ini juga tidak asing bagi orang Jawa,dimana setiap keberadaan malah punya nama-nama atau “jeneng”,sehingga ada ungkapan “pacitan sarwi jenang” yang artinya semesta raya ini bagai suguhan dalam “nampan” dan masing-masing punya “kelezatan nan manis” bagai jenang sampai meneteskan “jeneng” dalam arti “mengenal Tuhan:Sang Khaliq.Jadi lezatnya hati itu kalau untuk “eling” atau ingat,berdzikir.

Semua keberadaan mengantarkan untuk “eling”,dan punya nama-nama sendiri-sendiri.Silahkan diteliti,bahasa mana di dunia ini yang punya “kelengkapan” nama-nama dari benda yang ada,semakin banyak nama-nama yang dikenal itu menunjukkan sepuhnya peradaban.

Pohon-pohon ada namanya,kembang ada namanya,daun ada namanya,buah yang belum masak atau “pentil” ada namanya,isi ada namanya,buah yang masak ada namanya,anak hewan ada namanya,keturunan hewan ada namanya, senjata hewan ada namanya,suara hewan ada namanya,cara mengundang hewan ada namanya, tingkahnya hewan ada namanya,urut-urutan keturunan manusia ada namanya,sedulur ada namanya,anak-anak atau bocah ada namanya, orang atau “wong” ada namanya,ciri-cicri cacat orang ada namanya,ciri-ciri candra manusia ada namany,tali ada namanya,pekerjaan ada namanya,tempat ada namanya ,rasa ada namanya,penggambaran watak ada namanya,bau ada namanya,sanepan ada sebutannya,dan seterusnya.

Itu belum soal tembung garba,tembung entar,tembung plutan,tembung podho ugo,tembung yang sama maknanya,tembung kosok wangsul,tembung kawi,yogaswara,rupobasa,tembung kirata basa,tembung camboran wutuh,tembuh camboran wancah wutuh.Lagi,soal peribasan,bebasan dan sanepan serta saloko, paramasastra, rimbag, tembung humonim, purwakanthi, cangkriman, parikan, wangsulan, tembang, wayang, gamelan.

Hanya orang yang punya kekayaan bahasa yang bisa intim dalam dunia “srawung”,sehingga dalam lingkup kecil sekalipun maka orang Jawa bisa dialog dengan “asyik”,dan ini cara pengalihan daripada membicarakan keburukan orang atau debat kusir.Dan ini merupakan kecerdasan peradaban yang sungguh luar biasa dalam meredam pertengkaran dan percekcokan bahkan pembunuhan,karena nafsu bisa dilumpuhkan hanya oleh “kata-kata” dalam keasyikan “jagong” itu.

Di dunia mnapun,karena tidak kaya ungkapan maka dalam komunikasi itu sangat “kaku” dan “baku”,hal ini karena miskin “ungkap”,sehingga keberagamaan yang paling asyik itu di Nusantara ini karena “jagong” itu bukan kayak “khutbah” yang “serem”,namun nilai-nilai bisa disisipkan dalam dunia jagong itu,termasuk bermusik.

Kawan-kawan,silahkan penjenengan berselancar ke dunia mana pun,namun sebagai orang Jawa harus lebih inten mengenal kekayaannnya sendiri sehingga kita tidak akan kehilangan “akar budaya”,sebab mengingkari akar budaya adalah sebuah “pengkhianatan” diri.Apalagi lidah Jawa itu lidah yang “orkestratif”,artinya bahasa apa saja bisa dibunyikan sama persis dengan bunyi bahasa itu,bahkan bisa lebih fasih.

Namun kita tak mungkin bisa lari dari bahasanya sendiri,karena betatapun manusia itu terwadahi oleh peradaban yang berada pada ruang dan waktunya masing-masing.Tak ada kata terlambat untuk itu,bahkan lebih mudah karena itulah harian kita,,,,Tabik!

Kiai Budi Hardjono

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *