Hidup dengan Rob, “Bagi Kami Sudah Biasa”

Bau busuk seketika menyerang indra penciuman tatkala memasuki perkampungan padat penduduk Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara. Bagaimana tidak, sejauh mata memandang, kita dihadapkan dengan hamparan-hamparan air plus sampah-sampah yang menggenangi pemukiman warga Bandarharjo. Ya, air tersebut merupakan berasal dari pasang besar air laut yang menyebabkan luapan air ke permukaan, atau yang biasa disebut dengan rob. Sedangkan sampah-sampah menjijikkan itu berasal dari limbah masyarakat Bandarharjo sendiri.

Kesadaran masyarakat yang sangat minim terhadap lingkungan, mengakibatkan Kelurahan Bandarharjo terlihat kotor dan kumuh. Hal tersebut dikarenakan banyaknya tempat-tempat yang tergenang air namun sekaligus sebagai tempat pembuangan sampah. Bisa dibayangkan bagaimana kucing dan tikus-tikus sangat menggemari tempat seperti itu. Sehingga bisa disebutkan kehidupan masyarakat Bandarharjo jauh dari kata sehat.

Geografisnya yang berada di wilayah laut, membuat pemukiman warga Bandarharjo terus-menerus diterjang banjir rob. Rumah yang menjadi tempat tinggal mereka tidak sedikit yang kondisinya rendah sebab sering diuruk demi terhindar dari ancaman rob. Namun, pada kenyataannya banjir rob terus menerus naik hingga akhirnya rumah mereka dalam kondisi yang sangat rendah akibat sering diuruk berka-kali. Meskipun demikian, dengan terpaksa mereka tetap menempati tempat tinggalnya karena satu hal yang saat ini selalau menjadi alasan mendasar bagi setiap warga, yaitu minimnya hasil perekonomian. Sehingga mereka tidak mampu meninggikan dan merenovasi tempat tinggalnya. Selain alasan tersebut, bagi warga Kelurahan Bandarharjo banjir rob merupakan sesuatu yang sudah tidak bisa dihindari lagi.

Sri Lestari yang merupakan Ibu RT 05 dan sekaligus warga Kelurahan Bandarharjo menuturkan jika selama ini rob terus terjadi hampir setiap hari. Meskipun tidak hujan, banjir rob terus meluap dan menggenangi beberapa rumah warga yang kondisinya rendah. “Dulu pernah banjir yang paling tinggi itu segini (menunjuk paha), selain itu juga pernah banjir setiap hari selama delapan bulan dan semua warga tidak ada yang mengungsi, palingan ngungsi ke rumah tetangga yang kondisinya lebih tinggi” jelas Sri Lestari.

Dalam mengatasi rob, sudah ada beberapa bantuan dan solusi yang diberikan Pemerintah. Misalnya bantuan dengan meninggikan jalan dan dibuatkan saluran resapan air. Sehingga jika banjir besar datang, air lekas menghilang dan lenyap. Meskipun tidak sepenuhnya bisa mengatasi banjir, tetapi paling tidak bisa mengurangi keresahan masyarakat atas masalah rob yang terus menerus menghantui warga Kelurahan Bandarharjo.

Akan tetapi ada beberapa bantuan yang hingga saat ini masih menjadi pertanyaan di benak masyarakat Bandarharjo. Untuk warga yang tidak mampu dan didapati memiliki kondisi rumah yang tidak layak huni, sampai sekarang belum ada reaksi dari pemerintah atas permasalahan tersebut. Warga merasa jika beberapa waktu lalu dari mereka telah didata untuk diberikan bantuan, namun hingga kini hal tersebut hanya menjadi kabar burung saja.

Menurut Yatin (55) dulunya Bandarharjo tidak pernah terjadi banjir. Dia beranggapan jika banjir diakibatkan oleh pabrik-pabrik yang didirikan di sekitar laut. Sehingga air tidak bisa mengalir dengan semestinya, apalagi ditambah limbah pabrik yang melimpah menambah volume banjir yang sangat besar. Yatin mengungkapkan, kondisi tempat tinggalnya kini jauh berbeda dibandingkan saat ia masih awal-awal tinggal di Bandarharjo. Ia ingat betul betapa tenangnya Kelurahan Bandarharjo dulu.

“Dulu waktu awal saya ke sini, Bandarharjo belum banjir dan penduduk di sini masih sedikit. Dulunya di sekitar sini itu tambak-tambak tetapi sekarang sudah banyak pabrik dan limbahnya mengakibatkan Bandarharjo terus digenangi banjir akibat air rob,” Keluhnya saat disambangi kami belum lama ini.

Pemerintah Kota Semarang sudah berencana merelokasi penduduk, namun warga menolak. Mereka mengatakan jika tempat tinggal mereka dekat dengat pusat kota, sehingga aktivitas sehari-hari mudah dijangkau. Sementara itu, faktor kenyamanan juga menjadi alasan kuat mereka untuk tetap bertahan hidup di tempat tersebut. Mereka merasa harus membutuhkan biaya yang tidak sedikit jika harus pindah tempat tinggal.

Selain pemerintah, ada beberapa dari pihak lain yang ikut bersimpati dan memberikan bantuan atas bencana rob yang dialami masyarakat Bandarharjo. Yaitu seperti dari pihak Bank dunia, Pelindo, dan dari beberapa partai di Indonesia.

Yatin dan warga Bandarharjo tidak bisa berharap lebih dari pemerintah. Mereka hanya berharap supaya bencana rob bisa sedikit teratasi. Warga sadar jika daerah mereka terlalu sering banjir dan lokasinya yang terlalu dekat dengan pelabuhan. Sehingga untuk tidak banjir bagi mereka itu hal yang tidak mungkin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.