Hal-hal yang Perlu Diketahui Agar Bisa Mengendalikan Rasa Benci

Hampir semua orang tahu bahwa rasa benci tidak baik bagi diri dan orang lain. Kebencian dapat  melahirkan tindakan negatif yang tidak produktif, bahkan berbahaya. Selain secara psikologis dapat merusak diri sendiri, kebencian juga merusak hubungan sosial. Karena itulah, kebencian harus bisa dikendalikan. Tapi, bagaimana caranya?

Dalam sejumlah kamus, benci diartikan sebagai perasaan tidak suka terhadap secara ekstrim. Ini berarti, rasa benci lazimnya bermula dari perasaan tidak suka. Ketika perasaan tidak suka semakin mendalam, muncullah rasa benci. Perasaan ini melahirkan gejolak psikologis yang besar, bahkan mempengaruhi keputusan atau pandangan seseorang terhadap sesuatu.

Salah satu bahaya dari rasa benci adalah rusaknya penilaian objektif. Orang yang membenci sesuatu cenderung menilai sesuatu yang dibencinya serba buruk. Penilaian inilah yang bisa melahirkan sikap tidak adil. Apa lagi jika terhadap orang. Segala sesuatu yang dilakukan orang tersebut jadi tampak buruk. Adapun kebaikan orang itu justru tidak terlihat.

Kebencian terhadap orang lain juga dapat mendorong seseorang melanggar hak-haknya. Misalnya, jika A membenci tetangganya, A cenderung akan mengabaikan hak-hak tetangganya. Ketika tetangganya mengundang, A tidak mau hadir. Padahal sebagai tetangga A wajib hadir memenuhi undangan. Tetangga A juga berhak menerima kunjungan. Kondisi ini membuat hubungan menjadi tidak sehat.

Dalam agama Islam, nasihat agar menghindari kebencian telah banyak diriwayatkan. Rasulullah Muhammad SAW juga telah memberikan teladan yang mulia agar umatnya tidak saling membenci satu sama lain. Beliau menganjurkan hal sebaliknya, yaitu agar umat Islam saling menyayangi dan menjaga silaturahmi.  Sebab, orang Islam satu adalah saudara bagi orang Islam lain.

Dalam sistem keyakinan lain juga banyak disebutkan bahaya membenci. Dalam kepercayaan Nasrani, misalnya, disebutkan dalam beberapa ayat Alkitab agar umat memlihara kasih sayang. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:14,15)

Dalam sejarah umat manusia, banyak tercatat bencana besar yang bermula dari kebencian. Perang antarsuku, antaragama, atau antarras lazimnya terjadi karena munculnya rasa benci. Pembantaian terhadap Bangsa Yahudi oleh tentara Nazi, misalnya, ditengarai karena kebencian. Begitu pula peperangan antara suku Tutsi dan Hutu di Rwanda juga terjadi karena rasa benci yang berlebih. Kebencian membuat manusia berusaha saling mengalahkan, bahkan saling melenyapkan.

Dalam bidang ilmu psikologi,kebencian dipahami sebagai ekspresi emosional negatif. Menurut peneliti Department of Psychology, University of Cadiz, Spanyol  José I. Navarro dalam The Open Criminology Journal, kebencin tumbuh secara bertahap. Salah satu indikasi munculnya kebencian adalah adanya dorongan untuk mendevaluasi orang lain, lebih dan lebih. Ketika itu semakin menajam, si pembenci akan merasakan dorongan untuk menyingkirkan subjek yang dibencinya.

Navarro menggambarkan skema munculnya kebencian dalam enam tahap. Pada tahap pertama, ada peristiwa atau kejadian. Kedua, muncul intepretasi negatif atas peristiwa tersebut. Ketiga, intepretasi negatif kemudian melahirkan perasaan tertekan atau stres. Pada tahap keempat ada intepretasi ulang. Jika pada tahap keempat lahir respon negatif lagi, muncul semangat permusuhan. Jika hal itu terjadi, si pembenci akan mengumpulkan serangkaian alasan yang memberikannya izin untuk menyalurkan kebencian tersebut.

Selain muncul dari pengalaman pribadi, kebencian bisa pula ditularkan. Inilah yang terjadi dalam organisasi teroris. Anggotaanggota baru lazimnya tidak membenci siapa pun. Namun berkat indoktrinasi, orang ini bisa ikut-ikutan membenci sesuatu. Padahal sesuatu yang dibencinya belum pernah ia ketahui dengan baik.

Berdasarkan tahapan munculnya kebencian yang dibuat Navvaro, kebencian bisa diatasi sejak dari awal. Maksudnya, ketika baru muncul sebuah peristiwa, sebaiknya tidak terburu-buru untuk menafsirkan secara negatif. Ada baiknya mengumpulkan informasi yang  cukup sebagai bahan mengambil simpulan. Pada tahap ini kebencian belum muncul sehingga bisa dicegah.

Cara lain yang lebih populer adalah dengan menjaga prasangka baik. Apa pun tindakan yang dilakukan seseorang terhadap kita, arahkan agar kita membuat prasangka baik tentang orang tersebut.  Misalnya, menjaga prasangka bahwa orang yang melakukan hal buruk kepada kita karena tidak tahu atau tidak sengaja. Dengan begitu, perasaan negatif terhadap orang itu bisa ditekan. Lebh bagus lagi kalau yang muncul adalah perasaan positif: kasih sayang. (Foto: combiboilersleeds.com)

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *