Gundala, Narasi Besar Pahlawan Kecil

Film Gundala layak diapresiasi. Kehadirannya, bersamaan dengan kehadiran film superhero lokal lain, mengindikasikan kita sebagai sebuah bangsa  semakin percaya diri.

Meski begitu, saya punya sejumlah kritik. Secara garis besar, kritik saya terhadap film itu terangkum dalam judul tulisan ini: narasi besar pahlawan kecil.

Simpulan itu saya peroleh setelah melakukan analisis singkat dengan mendudukkan film itu dalam kerangka wacana.

Dalam kerangka tersebut film berposisi sebagai cara bertutur (mode) yang digunakan para pelibatnya (tenor) dalam mengomunikasikan pesan (field) tertentu.

Film ini digunakan sutradara untuk menyampaikan pesan-pesan besar: korupsi, ketidakadilan, perjuangan kelas (buruh), pembusukan demokrasi, hoaks, dan semacamnya.

Harus diakui, pesan-pesan besar itu cocok dengan kebutuhan penonton hari ini yang memang sedang menaruh perhatian terhadap isu-isu tersebut.

Melalui film Gundala, pesan-pesan tersebut coba dikomunikasikan melalui media sinematik.

Sayangnya, Gundala adalah pahlawan yang masih terlalu kecil untuk diberi tugas memanggul pesan-pesan besar itu.

Ia terlalu kecil karena – dalam konteks film itu – Gundala adalah pahlawan yang baru muncul. “Portofolio” tindakan-tindakan heroiknya juga relatif kecil: menolong tetangga, menghajar gerombolan preman pasar.

Konteks lokasi tempat dia hidup juga relatif kecil: pinggiran Jakarta. Dia belum jadi “pahlawan kelas nasional”.

Dengan kapasitas itu, Gundala sebenarnya belum punya kapasitas menyelesaikan persoalan besar seperti penyebaran serum yang direncanakan oleh mafia kakap yang jaringannya menggurita di berbagai kalangan profesi, korporasi, hingga parlemen dengan dukungan dana sangat besar.

Jarak antara kapasitas Gundala sebagai “alat penyampai pesan” dengan “pesan yang ingin disampaikan” produsen film ini terlampai jauh. Ada gap antara field dan mode-nya.

Gap itulah yang mengakibatkan kegagapan sinematik. Misalnya, Gundala yang baru muncul sudah terhubung ke tokoh sentral di parlemen.  Anggota parlemen langsung percaya bahwa orang yang jagoan berkelahi bisa selesaikan persoalan nasional yang sudah menahun.

Logis sih, tapi terlalu dipaksakan.

Tolong deh bilangin ke Joko Anwar. Wkwkwk

Kritik lain terkait soal amat teknis: Marisa Anita.

Menurut saya dia gak cocok memainkan peran istri buruh miskin. Pertama, dia kelewat cakep (meskipun buruh yang jadi suaminya adalah Rio Dewanto sekalipun).

Marissa ini aslinya pribadi yang amat ceria. Itu pembawa dia dari orok.

Pembawaan itulah yang membuatnya gagal berakting sedih apalagi nelangsa.

Sebagai janda miskin yang bokek setelah ditinggal mati suaminya selama setahun, dia mustinya nelangsa. Tapi saat pamit Sancaka bahwa dia mau ke luar kota, dia masih tetap aja kelihatan riang.

Jadi, Marissa memang gak cocok dapat peran itu.

Dia itu cocoknya berperan jadi istri dosen Gitu. Wkwkwkwk

Meski dengan berbagai catatan itu, Gundala adalah film keren yang menghibur.  Saya menantikan sekuelnya. Tak sabar melihat dua hero: Gundala dan Sri Asih saling bantu menghajar para politisi busuk.

Rahmat Petuguran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.