Generasi Alfa: Anak Tanpa Lagu Anak-anak

Generasi Alfa atau Alpha adalah mereka yang lahir pada tahun 2010-2025. Generasi Alfa cenderung dapat menggunakan smartphone atau tablet juga aplikasi-aplikasi secara alami dan sangat bergantung pada teknologi. Generasi Alfa paling tua saat ini berusia 10 tahun, jadi setidaknya mereka masih duduk di kelas  4 atau 5 SD. Di era yang semakin berkembang pesat tidak semua hal dapat berkembang pesat juga, contohnya seperti lagu anak-anak yang semakin hari semakin tergerus waktu dan teknologi. Lagu anak-anak tentu diciptakan untuk anak-anak namun bagaimana jika kini kiprahnya malah tergerus waktu, lantas lagu apa yang akan di dengarkan anak-anak?

 

Lagu anak-anak memiliki banyak manfaat khususnya bagi anak prasekolah yaitu pada usia balita. Selain menjdi media pengenalan suatu hal yang baru, lagu anak-anak juga dapat menambah kosa kata baru bagi anak. Kata-kata baru ini meningkatkan keterampilan sosial mereka karena juga membantu mereka berkomunikasi lebih jelas. Seiring waktu, mereka juga menjadi lebih percaya diri dan kreatif.

 

Para pencipta lagu anak seperti: Pak Kasur, Ibu Kasur, Ibu Soed, A.T Mahmud dan Papa T Bob mungkin asing di telinga anak zaman sekarang. mereka adalah orang-orang yang sangat berjasa bagi masa kecil anak-anak di tahun 90an sampai 2000an awal. Lagu yang pernah popular pada tahunnya seperti :  Naik Delman, Balonku, Potong Bebek Angsa, Kebunku, Pelangi, Becak, Hujan, Bolo-bolo, dan masih banyak lagi.

 

Agustina Hermanto atau yang sering kita panggil Tina Toon yaitu mantan penyanyi cilik dengan lagunya ‘Bolo-bolo’. Dilansir dari Kompas.com (11/07/2020). Kader PDI Perjuangan itu mengungkapkan pesan terakhir yang disampaikan Papa T Bob kepadanya dan generasi penerus lagu-lagu anak. Sebagai generasi penerus Papa T Bob, pesan yang disampaikan adalah tetap selalu melestarikan lagu-lagu anak, tetap berkarya untuk anak-anak-anak Indonesia. Lagu anak adalah tempat pengenalan akan banyak hal, diserap oleh anak-anak lebih cepat.

 

Lagu anak-anak sebagai salah satu media pengenalan akan banyak hal, ini seiring waktu telah tergeser dengan lagu-lagu dewasa yang sebenarnya bukan untuk diperdegarkan kepada anak-anak. Tidak jarang anak sekarang lebih hafal lagu dangdut bahkan k-pop daripada lagu anak-anak dan lagu-lagu nasional. Miris memang, Namun dalam hal ini tidak dapat menyalahkan pihak manapun, pasalnya peran orang tua, keluarga, guru, pencipta lagu, penyanyi bahkan stasiun televisi harusnya saling bekerjasama dalam upaya pemberian tontonan sehat sesuai usia anak-anak.

 

Dikutip dari MediaIndonesia.com (21/06/2020) alternatif yang dapat diupayakan musisi lagu anak untuk mengenalkan kembali lagu anak-anak ialah terus menciptakan lagu dengan aransemen yang mengikuti trend kekinian. Addie MS mengungkapkan bahwa kita tidak bisa memajukan lagu anak di era sekarang dengan cara pikir yang dulu, yang belum ada media sosial dan lain sebagainya.

 

Sebagai keluarga dan masyarakat kita harus andil dalam kasus ini, yakni dengan mengawasi dan membatasi apa saja konten yang baik atau tidak untuk keluarga kita khususnya bagi anak-anak.

 

[Laila Maghfirotul Maulina]

Opini ini merupakan hasil latihan mahasiswa matakuliah Jurnalistik dari jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UNNES.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.