Edi Susanto, Drop Out 2 Kali, 22 Bulan Tulis 7 Buku

PERNAH mengalami kondisi buruk, tidak membuat Edi Susanto terus berputus asa. Ia justru yakin, dalam kondisi semacam itu ada pesan Tuhan yang harus ditangkap. Ia kemudian membulatkan tekad mengembangkan diri. Menurutnya, cara itulah yang harus dilakukan supaya bisa segera bangkit.

Jika mau, Edi muda sebenarnya bisa menjadi ahli pajak. Sebab, masa itu ia sebenarnya sudah menyelesaikan Tugas Akhirnya di jurusan D3 Perpajakn. Namun karena merasa tidak layak memperoleh ijazah, Edi memutuskan tidak daftar wisuda. “Saya menganggap ijazah hanya pantas diberikan kepada orang yang ahli di bidangnya. Saya saat itu tidak merasa menjadi ahli pajak,” katanya.

Keputusan itu ia ambil karena sebenarnya tidak enjoy di bidang perpajakan. Jurusan itu terpaksa ia ambil sebagai pelarian. Sebab, ia sempat gagal di jurusan kedokteran. “Tahun 1999 saya ikuti UMPTN Kedokteran gagal. Tahun berikutnya, saat masih kuliah di Perpajakan saya ikut lagi, tapi juga gagal lagi,” ucapnya sambil tertawa.

Merasa cita-citanya gagal, Edi pernah merasa nothing. Ia merasa dirinya gagal, bahkan merasa stres karena kondisinya. Saat itu, ia mulai membaca buku psikologi dan motivasi. Dari buku itulah, minatnya belajar psikologi tumbuh hingga ahirnya ia memutuskan banting stir ke jurusan Psikologi. “Dengan uang Rp 5 juta, akhirnya saya daftar ke sana,” katanya.

Namun, di Psikologi ia juga tidak bertahan lama. pada semster keempat, uangnya habis. Sementara orang tuanya tidak lagi memberi subsidi. Akhirnya ia berhenti. Dn untuk kedua kalinya, ia mengalami guncangan batin. Ia merasa dirinya seperti sampah karena tidak berguna bagi orang lain.

Dalam kondisi itulah Edi melakukan perenungan. Ia mulai berpikir bahwa apa yang terjadi padanya adalah kehendak Tuhan. Karena itu, ia juga berpikir pasti ada pesan yang harus bisa dibaca. Ia kemudian berusah menemukan bakat-bakatnya. “Kalau Tuhan tidak menghendaki saya menjadi pegawai pajak atau menjadi psikolog. Mungkin Tuhan menghendaki saya menjadi pengusaha,” kenangnya.

Pertanyaan itu sering ia renungkan menjelang tidur. Hingga sautu pagi ia tersadar. Ketika SD ia termasuk siswa cerdas. Ia selalu menduduki rangking satu. “Selau rengking satu. Jadi tidak bodoh-bodoh amat lah,” katanya terkekeh.

Dari situlah Edi punya inspirasi. “Kalau waktu SD saya pintar, kenapa saya tidak bantu siswa SD menjadi pintar?” katanya, retoris. Ia kemudian menawarkan jasa les privat. Karena tidak punya modal, ia harus ngutang untuk mencetak brosur iklan.  “Saat kondisi seperti itu siapa sih yang mau bergabung? Saya seperti tidak berguna, jadi tidak dilirik orang,” kenangnya.

Jasa les privat yang Edi rintis lama kelamaan berkembang. “Kalau kita sudah jadi sampah, kita harus mengomposkan diri sehingga dicari banyak orang,” katanya bermetafora. “Coba, kalau menanak nasi tapi telanjur menjadi bubur, apa yang kita lakukan? Kita bikin bubur ayam spesial, kita bubhu bumbu, ayam, dan bahan lains ehingga menjadi bubur ayam terlezat,” tambahnya.

Keyakinan itu pelan-pelan membangkitkan Edi. Lembaga bimbingan belajar Antusias yang didirikannya banyak diminati. Hingga kini, ia sudah punya 200 hingga 300 siswa. Ia juga merekrut puluhan tentor untuk mengajari siswa-siswanya. “Omsetnya sekitar Rp 35 juta,” kata Edi.

Menurutnya, kondisi seperti saat ini tidak akan terjadi jika ia tidak mampu membaca pesan Tuhan. “Setiap hal yang terjadi pada kita, pasti ada pesan Tuhan. Tinggal kita bisa memaknainya atau tidak,” kata Edi. Ia berkeyakinan, Tuhan pasti akan memenuhi kebutuhan setiap manusia. “Kalau kita mengambil tugas kecil Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita yang kecil, tapi kalau kita mengambil tugas besar, tuhan akan memenuhi kebutuhan kita yang besar,” katanya.

Selain mengelola Bimbel Antusias, Edi juga dikenal sebagai penulis buku motivasi. Sejak Maret 2009 hingga saat ini, setidaknya sudah 7 buku yang berhasil ia garap. Dua bukunya Becaming A Young Ricman dan 100 Pikiran yang Mencrahkan dan Memperkaya Hidup sudah terbit. Empat buku lainnya sedang dalam proses terbit, sementara satu lainnya baru selesai ia tulis.

Kegemarannya menulis juga bisa menjadi sumber rejeki baru. Meski mengakui royalti dari bukunya tidak terlalu besar, ia baru ketiban rejeki karena salah satu bukunya masuk proyek. “Nilainya Rp 21 juta,” katanya.

“Kalau saat itu saya diwisuda menjadi ahli pajak, mungkin gaji saja hanya sekitar Rp 5 juta. Tapi sekarang saya bisa peroleh lebih dengan waktu kerja yang lebih fleksibel,” pungkasnya. PS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.