Digital Libidal: Jejak Maskulinitas dalam Perkembangan Teknologi Digital

Teknologi digital mungkin tidak dipandang sebagai objek ideologis sebagaimana buku, agama, atau ideologi itu sendiri. Kehadirannya dipersepsi sebagai konskuensi logis perkembangan alam pikir manusia. Oleh karena itu, relatif tidak ada penolakan ketika produk teknologi digital dicipta. Bahkan sebaliknya, kehadiran teknologi digital didamba seperti idola, diperlakukan sebagai penanda peradaban manusia.

Namun jika ditelusuri, secara sosiologis dan kemudian historis, teknologi digital ternyata sama seperti produk kultural lain.  Ia hadir dari rahim ideologis tertentu. Dan ideologi maskulin adalah rahim pikiran yang melahirkan teknologi digital itu. Hal ini memberi sedikit gambaran, mengapa dalam banyak hal teknologi digital menawarkan lebih banyak keuntungan kepada laki-laki daripada perempuan.

Alam pikir maskulin hadir ketika Facebook dicipta oleh Mark Zuckerberg dan koleganya. Ketika itu mereka masih masih menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi terkemuka di Amerika. Jauh sebelum populer seperti kini, Facebook dikembangkan sebagai media komunitas penghuni asrama Harvard. Saat itu keanggotaan Facebook terbatas, hanya para penghuni asrama Harvard.

Fakta bahwa seluruh perancang Facebook adalah laki-laki relatif tidak bisa diingkari. Zuckerbeg berduet dengan Dustin Moskovitz sebagai programmer, Eduardo Saverin sebagai direktur bisnis, dan kemudian Andrew McCollum sebagai direktur grafis. Dari situlah “bibit” maskulintas bermula.

Di awal, jejaring sosial itu memanfaatkan foto-foto mahasiswi Harvard yang diperoleh secara ilegal dengan membobol database universitas. Foto-foto itu dipasangkan satu dengan lain dan meminta pengguna menentukan pasangan paling hot. Sulit untuk mengingkari bahwa jejering sosial terpopuler di dunia itu, ternyata bermula dari keisengan libidal remaja yang jenuh dengan kuliahnya.

Saat jejaring sosial ini kian populer dan menjadi mesin uang, libidalitas itu mungkin berkurang. Para perancangnya tidak lagi mengeksploitasi wajah perempuan seperti lembaran kartu dalam permainan Solitaire seperti awalnya. Namun watak dasar Facebook sebagai teknologi yang mengakomidasi libido laki-laki, masih dapat ditelusuri.

Cobalah iseng membuat dua akun Facebook yang sama-sama fiktif. Gunakan nama dan foto perempuan pada satu akun satu dan gunakan nama dan foto laki-laki tampan di akun yang lain. Setelah akun dibuat, lakukan aktivitas seperti akun pada umumnya. Dalam sepekan, Anda mungkin akan menerima puluhan permintaan pertemanan dan belasan chat di akun pertama namun mendapati akun kedua seperti desa yang mengalami bencana nuklir beberapa bulan sebelumnya.

Kondisi di atas tampaknya akan lumrah karena ada dua alasan. Pertama, sebagaimana rilis Techinasia, karakteristik pengguna internet di Indonesia sama seperti warga India dan Australia. Porsi data yang digunakan untuk jejaring sosial lebih dominan daripada data yang digunakan untuk kepentingan lain.

Kedua, kita hidup pada regim of looking, rezim yang senantiasa menempatkan hal visual sebagai sesuatu yang lebih penting sebagai identitas dibandingkan hal lain yang bersifat nonvisual. Media sosial bukan hanya tidak bisa menghindari regim of looking itu, namun justru menjadi promotor utamanya. Di media sosial segala yang visual dipertontonkan, bahkan yang tidak visual diupayakan menjadi visual.

Meskipun tampak lumrah, kita justru bisa menemukan ideologi libidal dalam jejaring di sini. Regim of looking yang berlaku di media sebenarnya merugikan perempuan, terutama jika kedua hal itu dihubungkan dengan libidalitas.

Pertama, perempuan dikemas oleh para pemilik jejaring sosial sebagai bagian dari keuntungan yang ditawarkan kepada pengguna. Lihat iklan-iklan medsos di internet, maka kita akan menemukan banyak kalimat seperti “Temukan teman kencan di sekitarmu,” atau “Ada perempuan cantik yang ingin bersahabat dengan Anda di sini”. Kalimat promotif dan provokatif itu kerap disertai foto (model), perempuan dengan baju yang kancing atasnya dilepas.

Mari sanding (dan banding)-kan fakta itu dengan temuan Mazman (2011) yang menyebut bahwa terdapat perbedaan tipe penggunaan Facebook antara laki-laki dan perempuan. Dalam penelitian yang melibatkan 870  responden di Ankara, Turki, ia menemukan bahwa ada empat tujuan utama orang menggunakan Facebook yaitu menjalin hubungan, memlihara hubungan, tugas akademik, dan mengikuti agenda-agenda terdekat.

Lebih rinci Mazman menunjukkan bahwa “Perempuan menggunakan Facebook untuk memelihara hubungan yang sudah terjalin (maintaning existing relationship), untuk keperluan akademik, dan mengikuti agenda dengan porsi lebih tinggi dibandingkan laki-laki. sementara itu, laki-laki menggunakan Facebook untuk menjalin new relationship dengan porsi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki,” tulisnya.

Fakta dan temuan di atas ini tampaknya acak, namun akan terhubungan semakin jelas jika kita relasikan dengan sejumlah kasus penculikan remaja putri. Tiga kasus penculikan ini bermula dari Facebook. Ada belasan kasus serupa yang terekam media, dan lebih banyak kasus lainnya yang tidak pernah diberitakan.

Di Penjaringan, Jakarta Utara, seorang remaja putri berkenalan dengan seorang fotografer Brian Harry alias Michael. Keduanya lalu bertukar pin BB sehingga komunikasi keduanya makin intens. Harry berjanji mengorbitkan korban menjadi model terkenal. Remaja utri ini dibawa kabur selama 11 hari. Mereka menginap dari hotel ke hotel dan ke kost pelaku.

Di Sidoarjo, remaja putri berinisal MNT (14) dilporkan menghilang oleh keluarganya. MNT pergi tanpa izin orang tua dengan Ari, laki-laki yang dikenal melalui Facebook. Siwi SMP Kelas II di Surabaya  ini menghilang beberapa pekan.

Di Depok, seorang remaja putri yang masih SMP dibawa kabur oleh kenalannya di Facebook. Korban sempat diperkosa sebanyak empat kali dan kerap dicekoki dengan minuman keras. Korban dibawa ke beberapa tempat seperti ke Bojong Gede, Parung, Ciseeng, dan Cibinong. Korban tak bisa melarikan diri karena diancam dibunuh oleh penculiknya.

Jika fakta-fakta itu terlalu tersebar, mungkin kita bisa membungkusnya dengan kalimat ini: Facebook dikembangkan oleh para pria, pertama kali dikembangkan dengan semangat libidal, kini berkembangan menjadi populer dengan tetap mengakomodasi libidalitas, dan digunakan oleh banyak pria untuk tujuan libidalnya.

Transaksi Sosial Tubuh

Di Facebook, orang-orang disitumulasi untuk berbagi, antara lain melalui pertanyaan “Apa yang sedang Anda pikirkan?” di kolom status. Lambat laun status tidak mengakomodasi tulisan, tetapi foto dan kemudian video. Dua fasilitas yang disebutkan terakhir itu memfasilitasipara peremuan yang ingin memamerkan tubuhnya pada satu sisi dan di sisi lain memfasilitasi pria-pria pengintip. Sulit untuk mengelak bahwa di Facebook, perempuan telah mengomodifikasikan tubuhnya dalam sebuah transaksi sosial.

Sebagai sebuah transaksi, memang ada pertukaran. Perempuan berwajah cantik akan mendapat penghargaan ketika memajang foto dirinya di Facebook. Ia akan menerima perhatian berupa like, komentar, atau bahkan ajakan berkenalan di ruang obrol. Keuntungan ini mungkin bisa dikonversi dalam keuntungan lain yang lebih riil: perkawanan, tawaran pekerjaan, atau semacamnya. Namun pada saat yang sama, dengan terlibat transaksi itu, perempuan membuat otoritas atas tubuhnya berkurang.

Inilah kondisi yang oleh Johnson dan Ferguson (1990) ramalkan. Menurutnya, hilangnya otoritas pemilikan perempuan atas tubuhnya dipengaruhi banyaknya kepentingan yang berafiliasi di sana. Apalagi dalam dunia budaya pop, tubuh perempuan di-setting sebagai representasi suatu benda, produk atau komoditas yang dimaksudkan untuk “dijual”. Maka, baik penjual, calon pembeli, maupun broker yang menjadi perantara transaksi memiliki kepentingan di sana.

Contoh paling kasat mata untuk memahami arguemntasi mereka tentu saja adalah para perempuan yang berprefi sebagai modal iklan kecantikan. Mereka menjadikan tubuhnya sebagai sebuah konsep yang diperdagangkan dalam industri kecantikan yang meriah. Namun dengan kadar yang sama, transaksi demikian juga terjadi di Facebook ketika perempuan mengunggah foto-fotonya.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, kecnederungan pengguna media soaial untuk merespon positif foto dan video perempuan cantik dapat dibaca sebagai sebuah hubungan kekuasaan. Kecenderungan itu bahkan berkembang menjadi sbeuah prinsip, dan barangkali hukum. “Barang siapa yang ingin mendapat perhatian di media sosial, maka dia harus cantik,” kurang lebih hukum tak tertulisnya. “Dan kecantikan yang kami kehendaki adalah kecantikan tipe Emma Stone atau Song Hye-kyo.”

Dua kalimat itu, yang tidak pernah tertulis atau diucapkan siapa pun tetapi eksis, adalah pikiran yang ekspolitatif. Perempuan yang mengunggah foto diri dan tubuhnya di jejaring sosial akan berurusan dengan ribuan orang yang menjadikan dua kalimat itu sebagai prinsip.

Mekanisme kekuasaan dalam jejaring soaial akan berbuntut panjang karena berdampak pada perilaku perempuan di dunia nyata. Respon positif di medsos akan membuat perempuan mengukuhkan citra diri yang diperolehnya. Sebaliknya, perempuan yang justru menerima respon positif justru mengubah citraannya melalui serangkaian tindakan.

Mungkin berlebihan membayangkan seorang remaja putri membeli make up hanya karena ia ingin membuat profil pciture yang bagus. Sebab, profile picture yang bagus adalah gerbang respon positif yang mungkin akan diterima dari teman-temannya. Tapi itulah yang terjadi dewasa ini. Banyak orang bertindak, melakukan sesuatu, karena ia terlibat transaksi sosial di media sosial. Dan transaksi sosial di media sosial mengharuskannya memiliki modal: tampang yang menawan secara visual.

Jika contoh itu terlalu mengada-ada, bagaimana dengan perempuan  yang mengunjungi sebuah tempat wisata agar ia bisa berfoto dan menyebarkan foto itu di media sosial. Orang-orang ini bukanlah wisatawan, tetapi orang yang terlibat transaksi sosial di media sosial. Mereka ke pantai bukan untuk deburan ombak, tetapi untuk memperoleh foto diri yang keren. Mereka ke Puncak bukan untuk menikmati hawa dingin, tetapi untuk memperoleh foto sedang minum kopi di halaman vila. Tipe foto itu perlu diperoleh meski dengan susah payah arena persyaratan menjadi berharga di media sosial.

Maskulinitas Virtual

Maskulinitas dalam teknologi digital yang oleh Kline (2003) disebut dengan istilah maskulinitas virtual bisa hadir dengan agak tersamar namun bisa hadir secara vulgar. Tidak penting untuk membedakan keduanya. Yang terpenting, kedua hal itu menunjukkan bahwa maskulinitas bisa hadir di mana pun, dengan argumentasi apa pun. Teknologi digital adalah muara baru.

Dalam bentuk yang agak tersamar, maskulinitas virtual dapat dibaca dalam tema-tema game di internet. Dalam 25 game online paling populer dalam daftar Forbes, 18 di antaranya adalah game perang-perangan. Assassin’s Creed: Victory menempati posisi pertama sebagai game paling digemari, disusul Battlefield: Hardline dan Batman: Arkham Knigh. Adapaun Below yang menawarkan brutal combat ada di posisi keempat. Game-game itu didesain dengan tampilan visual yang gelap, berotot, dan berdarah-darah.

Tidak ada argumentasi teoretik untuk menjelaskan bahwa perang adalah ekspresi maskulinitas. Tetapi sejarah perang selalu melibatkan laki-laki, baik sebagai perancang maupun korbannya. Ketika energi laki-laki tidak mungkin tersalur dalam medan pertempuran yang sesungguhnya, game-game itu menjadi solusi. Mereka menggunakan game untuk menyalurkan energi maskulin yang tersimpan dalam memori kognitif dan barangkali merambat pada otot-otot tangan dan kaki.

Dalam bentuk yang lebih vulgar, maskulinitas digital dapat ditemukan dalam game dewasa. Jelas betul bahwa game ini diciptakan untuk laki-laki, tampak dari pilihan pemain yang otomatis laki-laki. Tokoh utama dalam game ini yang berfungsi sebagai altar ego pemainnya ditantang mendekati perempuan berbokong dan berpayudara besar. Perempuan itu menjadi hadiah bagi pemain yang bisa menyelsaikan tantangan.

Lihatlah game populer Kanpani Girls yang ditawarkan cuma-cuma di web pengembangnya. Ada gambar perempuan berkostum aneh yang membiarkan paha dan payudaranya tetap tampak dalam intro game ini. Dan yang lebih mengerikan, game itu memiliki motto yang provokatif: your company, your girls, your rules. Kita bisa menebak jenis petualangan semacam apa yang ditawarkan game ini.

Meskipun game dewasa sudah tampak menjijikan, puncak dari maskulinitas virtual ada dalam industri fotografi. Tanpa harus diperdebatkan lebih panjang lagi, saya yakin betul bahwa ini adalah industri lak-laki. Baik foto maupun video porno dalam industri ini diproduksi laki-laki untuk diperdagangkan kepada laki-laki lain. Adapun perempuan dalam industri ini bukanlah pelaku, melainkan properti. Perempuan dalam industri ini adalah bahan produksi, seperti kertas dan tinta dalam industri media cetak.

Kartini Digital

Perkembangan teknologi mungkin akan membuat banyak perempuan bersyukur bahwa teknologi digital telah menawarkan banyak kesenangan bagi perempuan. Ya, saya sepakat. Tetapi teknologi digital telah menawarkan lebih banyak kesenangan kepada laki-laki. Demikian pula, berkat teknologi digital  kini perempuan bisa menyuarakan aspirasinya dengan lebih lantang. Tetapi tidak perlu kaget jika teknologi digital juga telah memberi fasilitas penindasan lebih memadai kepada laki-laki.

Ada asumsi, teknologi digital memberi kesempatan kepada perempuan untuk melepas belenggu sosial yang dibentuk oleh stretotipe tubuh di kehidupan nyata. Asumsi ini tepat, tetapi hanya di permukaan. Di media sosial perempuan bisa menghindari lirikan menjijikan sebagaimana mereka terima ketika lewat di depan gerombolan laki-laki di kawasan slum. Di media sosial perempuan tidak akan mengalami pelecehan seksual berupa rabaan senonoh di bis. Tetapi teknologi digital justru mnawarkan jenis belenggu baru.

Untuk membuktikan kondisi itu, mari kita tengok industri perdagangan online yang terepresentasi dalam bentuk e-commerce. Jika kita punya waktu untuk mendata jenisproduk  yang ditawarkan di sana, kita akan dapati bahwa “barang-barang perempuan” adalah yang paling laris. Barang-barang perempuan itu bahkan selalu ditampilkan di depan dengan ukuran foto yang jauh lebih besar dibandingkan jenis barang lain.

Senin (18/4) lalu mataharimall.com menawarkan busana muslim perempuan dengan tagline Muslimah Trendy Look. Foto perempuan berjilbab dipasangan di halaman muka website mereka, bersanding dengan iklan  pemutih kulit. Kompetitornya, blibli.com memenuhi halaman muka dengan tawaran produk Citra. Dan tokopedia.com menggunakan gambar sepatu highheels sebagai icon untuk fashion, seolah-olah fashion adalah semata-mata urusan perempuan. Kategori Fashion di tokopedia sendiri diletakan pada posisi paling atas sidebar kiri, posisi yang paling mudah ditemukan.

Perdagangan online adalah tempat yang mengasyikan bagi perempuan untuk menyalurkan kegemerannya berbelanja. Melalui perdagangan online perempuan memperoleh produk kecantikan dengan lebih murah dan mudah. Dengan begitu, tanpa harus berepot-repot para laki-laki telah meningkatkan kualitas pemandangannya.

Sampai sejauh ini, saya kesulitan untuk mendefinisikan  kategori dan kondisi “menjadi kartini di era digital”. Sebab dalam hemat saya, teknologi digital itu sendiri tidak merefleksikan semangat perlawanan yang ditawarkan Kartini. Bagi perempuan teknologi digital seperti marine bridge yang terpasang di tempat-tempat rekreasi keluarga. Mereka bisa memperoleh kesenangan di sana. Tetapi sementara mereka bersenang-senang meniti jembatan, para laki-lakilah yang memperoleh kesenangan lebih banyak dengan menonton “perempuannya” bersenang-senang. (sumber gambar: es.slideshare.net)

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *