Bangga Punya Anak Difabel

Keluarga merupakan wadah yang terbaik buat anak, karena anak akan mendapatkan pendidikan yang pertama dan utama dari sebuah keluarga. Mengingat keluarga menjadi peran utama dalam mendidik anak, maka keluarga harus mampu mengidentfikasi karakteristik anak. Setiap manusia tidak ada yang sempurna, terkadang ada anak terlahir sudah dalam keadaan kekurangan fisik maupun mental.

Sebelumnya anak yang memiliki kekurangan fisik maupun mental disebut penyandang cacat, sekarang harusnya kata penyandang cacat itu dihapus, karena Tuhan menciptakan makhluk dengan sempurna. Seyogyanya, kata penyandang cacat diganti dengan kata penyandang disabilitas atau dengan sebutan lain penyandang difabel (different ability). Kedua kata ini lebih santun didengar, dari kata penyandang cacat.

Memiliki anak difabel baik itu disabilitas mental, disabilitas fisik seperti tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunawicara maupun tunadaksa tak perlu disesali, hendaknya bersyukur karena Tuhan menghadiahkan sosok anak yang luar biasa. Di sini orang tua diberikan kesempatan yang lebih untuk mengembangkan potensi anak. Perhatian orang tua kepada anak sangat penting.

Berilah kebebasan pada anak untuk mengenali dirinya, setelah itu orang tua baru melangkah mengembangkan potensi yang ada pada anak. Karena setiap anak memiliki potensi yang unik, begitu juga pada anak-anak difabel. Apabila potensi tersebut dikembangkan, maka akan menghasilkan karya maupun prestasi yang luar biasa. Pada umumnya penyandang disabilitas akan fokus menekuni potensinya, sehingga dengan keterbatasan yang pada diri anak akan membangkitkan semangat. Dengan demikian potensi tersebut terlihat menembus karya tanpa batas.

Anda yakin, penyandang difabel hanya bisa menjadi beban keluarga?  Kalau masih menganggap demikian, janganlah menutup mata lagi dengan karya maupun prestasi penyandang difabel berikut ini. Bob Willen seorang atlet lari tanpa dua kaki. Ia mampu menyelesaikan lari marathon 42 kilometer bertaraf internasional. Lomba yang diselenggarakan di New York ini menjadikan Bob Willen tercatat di Guinness Book Record (1986) sebagai satu-satunya penyandang disabilitas tanpa dua kaki yang berhasil menyelesaikan lari marathon.

Ada lagi penyandang difabel yang cantik jelita, Jessica Cox seorang yang tidak memiliki ke dua tangan ini mampu mengemudi, menari, yang membanggakan lagi Jessica Cox mampu menerbangkan pesawat dengan kedua kakinya. Dia mendapatkan surat izin mengemudikan sebuah pesawat terbang dari sekolah pilot olahraga Able Flight di North Carolina, Amerika.

Tunanetra juga bisa berkarya, dialah Louis Braille seorang tunanetra yang telah memberikan karya yang spektakuler, karena ia yang menemukan huruf braille (huruf yang sekarang digunakan tunanetra untuk baca tulis). Dengan karyanya tersebut, tunanetra dapat mengenal dunia.

Tidak itu saja, masih ada sosok seorang tunarungu Ludwig van Beethoven seorang musisi dan komposer musik.  Dia berhasil menciptakan Symphony No. 3 in Eb Eroica pada tahun 1805. Tidak itu saja, tiga sonata miliknya antara lain Piano Sonata in C Major Waldstein, Piano Sonata in F Major, dan Piano Sonata in F minor Appasionata.

Intinya, setiap manusia dapat berkarya. Begitu juga dengan penyandang disabilitas dapat mengembangkan potensinnya, sehingga akan terwujud karya dan prestasi yang membanggakan. Tentunya keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran orang tua yang mendidik dan mengarahkan anaknya. Jadi, keluarga sebagai wadah pendidikan pertama dan utama tetap berlaku bagi anak-anak tanpa terkecuali.

Berikan hak pendidikan formal kepada anak, baik disekolahkan di Sekolah Luar Biasa maupun sekolah inklusi. Sehingga anak semakin cepat dalam mengembangkan potensi-potensi yang luar biasa tersebut.

Ada pendapat, anak-anak difabel memiliki sejumlah keunggulan yang memungkinkannya tetap bisa meraih sukses dalam hidup. Pertama, mereka bisa sangat fokus terhadap hal yang mereka sukai. Beberapa dari mereka yang kurang mendapat pengetahuan luas mengenai keterampilan atau usaha akan lebih fokus pada satu hal yang dia bisa.

Kedua, tetap berpikir positif. Bagi sjeumlah anak yang dilahirkan difabel, dunia tetap indah bagi mereka. Oleh karena itu, mereka tetap berpikir positif untuk menjalani hidup secara optimis.

Agus Jafar, mahasiswa Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *