Memahami Hubungan Seni dan Agama

Banyak orang setuju dengan pameo berbunyi begini: dengan seni hidup jadi lebih indah, dengan ilmu hidup menjadi lebih mudah, dan dengan agama hidup menjadi lebih terarah.

Pameo di atas dibuat dengan asumsi bahwa seni, ilmu pengetahuan, dan agama adalah entitas yang berbeda. Ada jarak antara satu dengan lainnya. Namun dalam praktiknya, ketiga hal itu seringkali beririsan, bahkan bertumpuk antara satu dengan lainnya.

Bagi orang-orang yang beriman, agama adalah sumber nilai dalam kehidupan.  Dengan demikian, bukankah agama bisa menjadi sumber pengetahuan? Pada saat yang sama, bukankah agama juga bisa mamandu manusia untuk melahirkan aktivitas estetik yang membuatnya dapat mengekspresikan sekaligus mengapresiasi keindahan?

Inilah salah satu hal melatarbelakangi kami mengulas seni Islam pada terbitan edisi Juli. Dengan mempersoalkan hubungan seni dan agama, kami ingin mengulas kedudukan seni dalam agama sekaligus pandangan agama terhadap kreasi estetik. Kedua hal itu, yaitu agama dan keindahan, ternyata memiliki keterkaitan yang kuat karena menyangkut sesuatu yang sangat mendasar (fitrah) bagi manusia.

Sejak Islam belum diperkenalkan, manusia telah mengenal aneka bentuk kesenian. Bahkan pada peradaban kuno, kreasi seni sudah mulai dibuat. Seni rupa dan seni suara bisa ditemukan pada peninggalan peradaban Mesir Kuno, peradaban bangsa Sumeria, juga peradaban India dan China kuno. Inilah yang membuat sebagian besar orang bersepaham bahwa seni adalah fitrah, gift dari Tuhan.

Lantaran sebuah pemberian, anugerah, seni tidak perlu dihilangkan, melainkan perlu dikelola agar sesuai dengan tujuan manusia hidup di dunia. Dalam pandangan agama, tujuan manusia hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada Tuhan. Maka di sini, seni dan agama saling berjumpa: seni bisa dijadikan ekspresi bagi manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya.

Pada abad awal kehadiran Islam, berkembang seni kaligrafi. Tangkai seni ini berkembang pesat dan terbawa ke berbagai negeri persebaran Islam, termasuk di Indonesia. Salah satu hal yang membuat seni ini berkembang pesat adalah dorongan dari pemerintah (khilafah) pada masa itu agar umat Islam mengembangkan seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Ketika Islam masuk ke Indonesia, negeri yang alhamdullah dianugerahi bakat artistik luar biasa, terjadi asimilasi antara ajaran Islam dengan kesenian lokal. Maka, muncullah produk-.produk kesenian baru. Di pesantren muncul syiir. Kelak lahir pula seni musik yang disebut qasidah. Toh, persebaran Islam sendiri banyak dilakukan dengan seni, misalnya ketika Sunan Kalijaga memanfaatkan wayang untuk berdakwah. Ajaran kebaikan Islam seperti mendapat tempat dalam berbagai produk kesenian itu.

Kini, seni telah berkembang demikian pesat. Jenis dan rupa-rupanya sangat beraneka ragam. Dalam memandang seni, umat Islam di Indonesia bersikap hati-hati. Pada satu sisi, orang Islam di Indonesia ingin mengembangkan keseniannya. Pada sisi lain, mereka (kita?) juga ingin menjalankan Islam sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Maka, dibuatlah kesepakatan bahwa kesenian itu diperbolehkan (mubah) sejauh mendatangkan manfaat. Tetapi kesenian bisa menjadi haram jika menjadi pembuka perbuatan munkar. Huku kesenian perlu dilihat secara detail.

Pandangan moderat itu agaknya diamini oleh mayoritas umat Islam di Indonesia. Dua organisasi masyarakat keagamaan di Indonesia menunjukkan sikap yang cenderung sama. Baik Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah memperbolehkan kesenian selama bisa mempertajam budi manusia, bisa mendekatkan manusia kepada penciptanya. Keduanya juga melarang kesenian jika justru mendatangkan kerusakan, apalagi bertentangan dengan ajaran agama.

Sikap moderat itu  berpotensi melahirkan kesejukan. Sebab, umat Islam Indonesia tidak harus memilih salah satu: agama atau seni.  Kedua-duanya bisa dipilih, asal memenuhi syarat di atas tadi. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.