Eko Budihardjo, Profesor Tata Kota yang Gandrung Budaya

Eko Budihardjo dikenal publik sebagai akademisi dan budayawan. Ia pernah menjadi rektor Undip sekaligus memimpin Dewan Kesenian Daerah Jawa Tengah. Tak heran jika ia dikenal sangat piawai bicara soal budaya. Ia lahir di Purbalingga dan memperoleh gelar insinyur Arsitek dari Fakultas Teknik Universitas Gajah MadaYogyakarta (1969). Gelar Master of Science in Town Planningdiraihnya dari University of Wales Institute of Science and Technology, Inggris pada tahun 1978.

Jabatan-jabatan yang pernah diembannya antara lain sebagai Kepala Biro Penelitian FT Undip (1978-1989). Ketua Jurusan Arsitektur FT Undip (1987-1989), Pembantu Dekan I FT Undip (1989-1992), Dekan Fakultas Teknik Undip (1992-1998), dan Rektor Undip (1998-2006).

Dalam organisasi profesi menjabat Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Cabang Jawa Tengah (1987-1992) dan Ketua Ikatan hli Perencanaan (IAP) Cabang Jawa Tengah (1992-sekarang). Sebagai anggota dewan Habitat International Council (HIC) Mexico; Eastern Regional Organization on Planning and Housing (EAROPH) Malaysia dan International Federation for Housing and Planning (IFHP) Belanda.

Ia sering sekali menyajikan makalah dalam berbagai pertemuan ilmiah di mancanegara. Tahun 1993 berkeliling Amerika Serikat mempelajari Konservasi Bangunan Kuno dan Lingkungan Bersejarah dan tahun 1994 ke Australia melakukan studi banding tentang urban management. 

Di sela-sela kesibukannya, masih sempat bertindak sebagai Direktur Lembaga Studi Pembangunan Daerah (LSPD), Penasihat Ahli Yayasan Bakti Karya (Yabaka), Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Tengah, Anggota Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Tengah, Presiden Rotary Club Semarang, dan Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah.

Berbagai penghargaan telah diterimanya, antara lain Bhakti Upapradana dari Gubernur Jawa Tengah, Dosen Teladan dari Rektor Undip, Bintang Emas Budaya dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi, dan penghargaan dengan pujian dari Ikatan Arsitek Indonesia.

Pensiun

Setelah mengabdi selama 40 tahun sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Selasa (9/6), Eko Budihardjo MSc akan memasuki purnatugas. Saat itu, sebagaimana diberitakan undip.ac.id, ia menggelar jumpa pers di di kediamannya, Jl Telaga Bodas Raya Kav I No 4 Semarang.  Selain memapar acara purnatugas yang rencananya dilaksanakan Selasa (9/6), ia juga bicara panjang-lebar soal pendidikan tinggi, arsitektur dan tata kota.

Prof Eko, sapaan Eko Budihardjo, terlihat bergairah. Dengan gaya cablaka, ia mengkritik lembaga universitas yang cenderung menjadi produk kapital. Lelaki kelahiran Purbalingga 9 Juni 1944 itu juga menyentil sebagian arsitek dan ahli tata kota yang acap melakukan pelacuran profesi serta larut dalam arus global.

Meski kritiknya pedas, Prof Eko tetap menyisipkan humor-humor segar nancerdas. Dua jam lebih ia bicara, para jurnalis tekun menyimaknya. Ya, tak ada yang berubah dari Prof Eko menjelang masa purnatugasnya. Ia tetap aktif, bersemangat, dan cablaka.

Bagi Prof Eko, purnatugas sekadar tengara. Menyitir puisi Emil Salim yang didedikasikan kepadanya, ia mengatakan bahwa yang purna itu status PNS, bukan tugasnya. Sebagai manusia yang kebetulan dikaruniai ilmu pengetahuan, Prof Eko merasa tak patut berhenti membagikannya.

Itulah mengapa alumnus Departement of Town Planning pada University of Wales Institute of Science and Tecnology, Cardiff, Inggris tersebut bertekat akan terus aktif mendharmabaktikan dirinya untuk masyarakat. Meski pensiun, Prof Eko masih diminta mengajar.

”Sebelum SK pensiun dari pusat turun, saya sudah menerima SK perpanjangan masa mengajar dari rektor Undip. Jadi dijamin nggak nganggur, ha ha ha,” jawab Prof. Eko Budihardjo.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *