Karena Perjumpaan adalah Rezeki, Mari Raih dan Nikmati

Perjumpaan membuahkan perkenalan. Kita menghafal rupa, kita menghafal nama. Kita mencatat alamat, kita mencatat nomor telepon. Perkenalan lumrah terjadi pada manusia. Itu biasa.

Tetapi, ada perjumpaan yang tidak biasa, yang menyejarah dan mengubah kehidupan kita.

Perjumpaan dengan guru yang membuat kita merasa begitu bergairah belajar, misalnya. Perjumpaan dengan dosen yang berwawasan luas dan bersikap terbuka untuk bertukar gagasan, misalnya. Perjumpaan dengan lawan jenis yang membuat kita jatuh cinta, misalnya. Itu adalah perjumpaan yang tidak biasa. Itu istimewa.

Perjumpaan dan perkenalan adalah rahmat yang nikmat dan membawa kenikmatan. Kesempatan berjumpa dan berkenalan dengan orang lain adalah rizki yang patut kita syukuri. Karena itu, perlu kita raih dan nikmati.

Terus terang, saya sering gagal memanfaatkan kesempatan perjumpaan dan perkenalan. Biasanya itu terjadi karena dua sebab, atau salah satu di antaranya.

Pertama, kesombongan, menganggap orang tertentu di sekitar kita tidak lebih baik dari kita. Kesombongan membuat saya merasa lebih berharga, sehingga ogah “bertransaksi” dalam perkenalan.

Kedua, keminderan, menganggap diri tidak cukup berarti bagi orang yang kita hadapi. Entah karena orang yang kita hadapi memiliki jabatan tinggi, terkenal bak selebriti, atau karena lebih mahir mengumpulkan rizki.

Dua masalah itu belum terpecahkan. Dan: itu merugikan.

Dalam sebuah perjalanan ke Manado pada suatu hari, misalnya, duduk berjejer kursi dalam pesawat dengan sepasang suami istri. Keduanya jauh lebih tua dari saya. Bertampang terpelajar.

Ada keinginan untuk bertegur sapa, membuka perbincangan dengan basa-basi. Tapi itu urung saya lakukan.

Justru, pria di sebelah saya yang menyapa saya lebih dulu. Saat saya membuka laptop dan menulis artikel, dia melirik dan barangkali membaca tulisan saya. Itu tulisan tentang strategi pengembangan sumber daya manusia.

Setelah berkenalan, lelaki itu ternyata pensiunan pegawai di sebuah BUMN. Dia pernah menjadi head of public relation regional VII wilayah Indonesia timur. Sejak pensiun dia menjadi konsultan pengembangan SDM.

Dia mengajak saya berpikir, bagaimana supaya anak-anak muda Indonesia memiliki semengat kerja lebih baik, bermental kstaria, dan tidak korup.

Itu bukan tema baru, tapi sangat berguna. Sebagaimana orang tua lain, dia menjadikan diskusi selama 2 jam itu sebagai nasihat bagi saya. Kalau dirangkum, mungkin ada tiga nasihat yang utama.

Pertama, dia menolak adanya kemiskinan struktural. Dia yakin, orang bisa menolak menjadi miskin dalam kondisi sosial yang semrawut sekalipun dengan belajar dan bekerja keras.

Kedua, anak muda harus belajar keras (ia encontohkan anak-anak muda di SIngapura).

Ketiga, anak muda juga perlu keberanian menolak pengaruh buruk dari senior atau orang tua. Jika memungkinkan, lawan pengaruh buruk itu. Jika tidak memungkinkan, menyngkirlah dari lingkungan yang buruk.

Saya sepakat dengan dua poin terakhir, tapi tidak dengan yang pertama. Sepanjang pengetahuan saya, memang ada kemiskinan struktural. Itu jenis kemiskinan yang didesain oleh penguasa (atau siapa pun yang memiliki power). Ketamakan membuatnya merasa perlu menguasai sebagian atau kesulurah sektor produksi. Sementara itu berbahagia dengan hartanya, ia membiarkan orang lain lapar dan dahaga.

Poin pertama itulah yang membuat perbincangan kami menjadi agak berlarut-larut.

Tapi, itu lebih dari cukup bagi saya. Pria tua itu – yang meminta saya memanggilnya dengan nama pendek Fred – memberi banyak hal pada perjumpaan pertama, pada perkenalan pertama.

Itu!

Rahmat Petuguran

1 Comment

  1. Pingback: Bonbaber, Bonang Modern Inovasi Mahasiswa Unnes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.