Ziarah Kartini

Imam Khanafi

PERNAH baca buku Panggil Aku Kartini Saja,  karya Pramoedya Ananta Toer? Buku  yang menurut saya telah membuat banyak orang terpesona kepada sosok Sang Raden Ajeng.

Beberapa waktu yang lalu saya melakukan perjalanan untuk mengakrabi sosoknya. Wacana tentang tuntutan kebebasan, peluang, kesempatan meraih kemajuan sudah sejak lama kita genggam. Justru, menurut saya terhadap sosok Sang Raden Ajeng mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa RA. Kartini adalah perempuan sederhana yang sadar terhadap fitrahnya sebagai istri dan ibu namun menyimpan semangat  kemajuan yang melampaui adatnya.

Sang Raden Ajeng  bagi penulis justru menyemaikan beberapa inspirasi dan kesadaran yang tak lekang kapanpun. Inspirasi yang akan menjadikan peringatan kelahiran beliau –semoga- bukan lagi peringatan simbolik, bukan lagi diperingati dengan peragaan trend-trend busana kebaya terbaru.

Hal tersebut lah yang menjadikan saya tergugah untuk menelusuri sosok sang Kartini dimulai dari komplek kantor Kecamatan Mayong yang merupakan tempat monumen Ari—ari Kartini diletakkan. Desa Mayong terletak kurang lebih 25 km sebelum memasuki jantung kota Jepara.

Menurut salah satu pejabat Kecamatan Mayong, Arif Budiyanto, monumen tersebut dibangun oleh pemerintah Jepara pada 1979. Monumen dibangun menyerupai bentuk bunga teratai, bunga kesukaan RA Kartini. Tiap bagian dari bentuk monumen mempunyai arti yang jika dirangkai menunjukkan tanggal kelahirannya. Tak berhenti hanya di monumen ari-ari Kartini, kita pun melanjutkan perjalanan ke museum Kartini untuk mengetahui lebih lanjut sejarah Kartini.

Memasuki kawasan museum, kami disambut dengan bagan silsilah keluarga RA Kartini. Kartini yang lahir di Mayong pada 21 April 1879 merupakan anak Wedono Mayong, RMAA Sosroningrat, sedangkan ibunya merupakan seorang wanita asal desa Teluk Awur, Mas Ajeng Ngasirah. Selain itu, Kartini juga masih ada hubungan darah dengan Prabu Brawijoyo, raja Majapahit.

Beberapa peninggalan keluarga Kartini tertata apik di museum tersebut. Mulai dari furniture, dakon (mainan Kartini), mesin jahit, canting, replika macan yang sekarang ini juga dijadikan simbol kota Jepara, hingga surat-surat yang dikirimkannya pada Stella Zeehandelan, temannya, di Belanda.

Surat yang berisi tentang keinginan Kartini untuk memperoleh persamaan hak, utamanya hak untuk memperoleh pendidikan, dan kebebasan dari kunkungan adat itu kini tertuang dalam bentuk buku. V.H. Abendanon  berinisiatif membukukan surat-surat Kartini yang kemudian diberinya judul Door Duits Ternis to Licht atau yang dikenal dengan Habis Gelap Terbitlah Terang.

Melalui surat-suratnya beliau ingin memperjuangkan nasib perempuan Indonesia agar bisa maju seperti perempuan-perempuan Eropa. Kemudian dari surat-surat yang dikumpulkan itu dibuatkan sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” oleh Mr. JH Abendanon.

Di dalam museum banyak peninggalan-peninggalan R.A KArtini yang masih asli seperti Meja, Kursi, piring, mangkok, tempat telur, foto-foto, mesin jahit, canting dan hiasan macan kurung. Hiasan macan kurung yang diletakkan di atas meja itu mempunyai filosofi sebuah keadilan harus tetap ditegakkan.

Meskipun orang yang mempunyai kedudukan tinggi bersalah apabila terbukti harus tetap di kurung. Didalam hiasan itu terdapat bola yang menggambarkan sebuah pemikiran yang tidak akan pernah mati. Selain itu juga terdapat hiasan burung yang diletakkan diatas kurungan macan yang melambangkan sebuah kebebasan.

Selain terdapat peninggalan yang masih asli disini juga terdapat replika dari barang-barang peninggalan Kartini, seperti lukisan, Almari, ruang tamu, buku-buku dan lain sebagainya. R.A Kartini selain memperjuangkan emansipasi perempuan juga berjuang mengangkat daerahnya dari segi ekonomi melalui batik dan ukiran.

Kartini merupakan wanita Indonesia pertama yang memiliki cita-cita untuk memajukan kaum perempuan, utamanya dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Atas perjuangannya menentang penjajahan di bumi pertiwi dengan memperjuangkan hak perempuan, RA Kartini ditetapkan sebagai pahlawan Kemerdekaan Nasional oleh Presiden Soekarno pada 2 Mei 1964.

Menurut penjaga museum, Chaerur, Kartini menghabiskan masa kecilnya di rumah dinas Kabupaten. Hal tersebut karena pada 1881 RMAA Sosroningrat, ayahnya, diangkat menjadi Bupati Jepara, kota yang memasuki usia 462 tahun pada 10 April kemaren. Sehingga saat itu juga Kartini sekeluarga berpindah tempat tinggal.

Ayah Kartini mempunyai dua istri, Mas Ajeng Ngasirah yang berstatus garwo Ampil (pertama) dan Raden Ajeng Woeryan, anak dari RAA Tjitrowikromo yang memegang jabatan Bupati Jepara sebelum ayah Kartini, yang berstatus garwo padmi (kedua). Dari kedua istrinya, RMAA Sosroningrat dikaruniai 11 anak, 6 putra dan 2 puteri dari garwo ampil serta 3 puteri dari garwo padmi. Dari sekian banyak anaknya, Kartini merupakan anak yang terpandai.

Chaerur menambahkan bahwa Kartini dan kedua adiknya, RA Roekmini Santoso dan RA Kardinah Reksonegoro, sering diajak ayahnya berkeliling dengan kereta kuda. Kegiatan itu dimaksudkan agar puteri-puterinya yang dijuluki TIGA SERANGKAI itu kelak akan mencintai rakyat dan bangsanya.

Kartini merupakan bocah kecil yang lincah, cerdas dan penuh inisiatif. Karena itu, dia mendapat julukan Trini dari ayahnya. ”Trinil itu hewan kecil yang gesit,” jelasnya.

Semasa memasuki bangku sekolah (Europenes Lagere School), Kartini mudah disenangi teman-temannya, karena kecerdasannya. Terlebih lagi kecerdasannya itu mampu menyaingi anak-anak Belanda. Selain cerdas di bangku sekolah, Kartini pun cerdas dalam membuat kerajinan tangan. Misalnya, menjahit, membatik, dan menyulam.

Tamat dari Europenes Lagere School, Kartini berniat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dia mengajukan lamaran beasiswa untuk bersekolah di Belanda. Lamaran tersebut pun dikabulkan pemerinth Hindia Belanda. Namun Kartini urung mengambil beasiswa tersebut karena terbentur aturan adat. Beasiswa itu pun diserahkan kepada H. Agus Salim.

Memasuki usia 12 tahun lebih, Kartini diharuskan menjalani tradisi pingitan. Tradisi pingitan merupakan tradisi menunggu datangnya orang untuk melamar dan melarang perempuan melakukan aktifitas diluar rumah.

Meski tak berkesempatan melanjutkan sekolah, Kartini tetap bersemangat menambah pengetahuannya dengan banyak membaca buku yang dibawakan kakak maupun ayahnya. Selanjutnya, saat Kartini berusia 16 tahun, Ny. Marie Ovink Soer, ibu angkatnya berhasil membebaskan Kartini dari tradisi pingitan. Kartini pun mendirikan sekolah pertama gadis-gadis priyayi Bumi Putera yang dibinanya di serambi pendopo, belakang kabupaten.

Sekolah itu masuk empat kali seminggu. Murid kelasnya ada tujuh orang. Pelajaran yang diajarkan bermacam-macam, mulai dari membaca, menulis, kerajinan tangan. Diantara kerajinan tangannya yaitu menjahit,  membuat pola pakaian, melukis dengan cat minyak, sampai membatik. Sekolah itu diselenggarakan secara gratis.

Pada usia 24 tahun, tepatnya 8 November 1903 Kartini melangsungkan pernikahannya dengan Bupati Rembang, Adipati Djojodiningrat, secara sederhana. Usai prosesi pernikahan, ia pun diboyong suaminya tinggal di Rembang. Sepuluh bulan kemudian, Kartini melahirkan seorang putera yang diberi nama Singgih atau RM. Soesalit. Selang empat hari melahirkan, kondisi kesehatan Kartini memburuk, akhirnya pada 17 September 1904 Kartini menghembuskan nafas terakhirnya di usia 25 tahun dan dimakamkan di Rembang.

Kini setiap tanggal 21 April, tanggal kelahiran Kartini, ditetapkan pemerintah sebagai Hari Kartini. Upacara bendera pun digelar untuk mengenang jasa-jasanya dan mendo’akannya. Buah kerja keras Kartini sekarang ini terlihat dengan banyaknya kaum perempuan yang memegang jabatan penting di negara pertiwi ini.

Maka,dalam konteks kekinian,dimana teknologi dan informasi telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, izinkan saya memaparkan setidaknya tiga inspirasi dari Sang Raden Ajeng Kartini bagi kita, perempuan Indonesia di era digital untuk memberdayakan diri, keluarga dan masyarakatnya.

Imam Khanafi, peminat kajian gender, tinggal di Kudus

* Tulisan ini ditulis bersama sebagai hasil perjalanan dan saringan dari sebuah catatan Imam Khanafi dan Karmila Sari dalam Perjalanan Ziarah Kartini yang dilakukan Oleh Kelompok Pecinta Tulis (KPT) Kudus, Kamis 7 April 2011

2 Comments

  1. marzuki

    April 20, 2011 at 8:17 am

    Yang perlu disorot tajam ialah keadaan wanita jepara yang menurut hemat saya belum mencerminkan KARTINI. Alangkah menegerikan para remaja putri banyak yang hanya puas meraih cita-cita pendek dengan menjadi ibu rumah tangga. Akan lebih menarik jika ada research tentang kemajuan wanita Jepara.

  2. Kartono

    April 21, 2011 at 4:08 am

    Jepara Kota Ukir tapi juga bisa di jadikan kotanya Perempuan pemberani. selain Kartini juga ada ratu Jepara yang terkenal Ratu Kaliyamat. sekali2 munculin donk tulisan tentang Kaliyamat sang ratu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.