Memahami Produksi Wacana “Saya Dizalimi”

Sejak SBY nyalon presiden pada 2004, kata “zalim” menjadi semakin populer dalam wacana politik Indonesia. Zalim, menzalimi, dan dizalimi jadi modus baru pencarian kekuasaan.

Soal kezaliman, saya punya empat pendapat. Pertama, apa pun bentuknya, kezaliman adalah perkara yang buruk. Perbuatan zalim selalu mendatangkan kesengsaraan, nestapa, dan ternodainya kemanusiaan. Karena kezaliman dalah sesuatu yang buruk, maka orang yang zalim juga adalah orang yang buruk.

Kedua, dizalimi dengan merasa dizalimi adalah dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah kondisi aktual dan mungkin tak terverbalkan, adapun yang kedua adalah penilaian subjektif seseorang.

Ketiga, tidak setiap orang yang dizalimi “merasa dizalimi”, demikian pula orang yang merasa dizalimi adalah orang yang dizalimi. Meski demikian, tetp terbuka kemungkinan ada orang merasa dizalimi karena benar-benar dizalimi.

Keempat, menyatakan diri “merasa dizalimi” bisa jadi adalah sebuah bentuk kezaliman. Sebab, pernyataan bahwa dirinya dizalimi lazimnya diikuti dengan asumsi adanya pihak yang menzalimi, adahal pihak itu bisa jadi tidak ada (imaji belaka).

Produksi Wacana

Perasaan dizalimi, sejauh itu dinyatakan di tempat publik, adalah produksi wacana. Pernyataan itu diproduksi oleh produsen (penutur atau penulis) dengan maksud tertentu, memiliki daya pengaruh (perlokusi). Oleh karena itu, produksi dan distribusi pernyataan “merasa dizalimi” dapat dianalisis dengan analisis wacana kritis.

Sejauh saya amati, produksi wacana terzalimi dimaksudkan untuk tiga tujuan sekaligus. Pertama, mengendalikan persepsi audience bahwa dirinya adalah korban sehingga lebih layak untuk menerima simpati dan dukungan.

Kedua, mengendalikan persepsi publik agar menilai bahwa orang yang sedang berkonflik dengannya adalah pihak yang jahat (zalim) sehingga perlu dilawan.

Ketiga, wacana “merasa dizalimi” juga dapat diproduksi untuk menegosiasikan standar kebenaran agar yang sudah mapan tampak kabur atau sebaliknya: yang kabur tampak mapan.

Berbagai Bentuk

Dalam keseharian, produksi wacana “saya dizalimi” bisa terjadi dalam aneka cara. Namun dari sekian banyak cara itu, ada kecenderungan pola.

Pola produksi wacan saya dizalimi biasanya terbentuk dalam empat tahap. Pertama, saya dirugikan. Kedua, kerugian disebabkan oleh pihak lain. Ketiga, orang lain melakukannya secara sengaja dengan niat buruk. Keempat, orang lain itu melakukan hal buruk itu tidak hanya kepada saya.

Misalnya: tahap pertama, ban sepeda motor saya bocor karena paku. Kedua, paku itu bisa menusuk ban karena perbuatan orang lain. Ketiga, seseorang sengaja menyebarkannya. Keempat, pasti bukan hanya saya yang kena.

Empat tahap itulah yang membuat sosok penyebar paku menjadi sosok zalim, meski nyatanya tidak pernah ada karena paku itu sampai ke jalan karena sebab alami. Misalnya, awalnya paku itu menancap di kusen. Kusen membusuk sehingga jatuh ke tanah. Ketika hujan terbawa aliran hujan sehingga bisa sampai di jalan.

Saya pernah dengar kabar, di Solo dulu ada seorang pemimpin grup teater. Grup teater itu sudah publikasi akan pentas pada hari H. Tapi menjelang hari H, pemain kuncinya sakit. Mustahil baginya untuk membatalkan pentas karena alasan domestik yang tidak keren itu. Maka si pemimpin grup teater itu mengumumkan: pentas kami dilarang polisi.

Rahmat Petuguran
Pemimpin Redaksi PORTALSEMARANG.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.