Yoyok Riyo Sudibyo, dari Tentara Menjadi “Guru” Transparansi Anggaran

Di bawah kepemimpinan Yoyok Riyo Sudibyo, Kabupaten Batang mendapat perhatian publik luas. Bupati Yoyok mennginisiasi program festival anggaran yang membuatnya mendapat penghargaan Bung Hatta Anticoruption Award. Sejak saat itulah kabupaten kecil di pantai utara ini menjadi guru transparansi anggaran bagi pemerintah daerah lain.

Yoyok sendiri mengawali karier sebagai tentara. Lulus Akademi Militer pada 1994, ia melanjutkan Sekolah Lanjuta Perwira pada 2004. Saat masih muda ia sempat ditugaskan ke berbagai daerah di Indonesia. Dengan pangkat terakhir Mayor, ia memutuskan mengakhiri karier militernya untuk berdagang. Keputusan itu ia ambil meski sempat ditentang banyak orang.

Yoyok merasa enjoy di dunia bisnis, dunia yang relatif baru baginya. Namun ketika digelar pemilihan bupati Batang tahun 2012, saudara-saudaranya mulai menggodanya untuk mencalonkan diri menjadi bupati. “Masa sampeyan ora iso, Mas? Wong sing mantan kades wae iso kok?” begitu kata adik Yoyok.

Tergoda, Yoyok tertarik juga. Ia berencana mencalonkan diri melalui jalur independen. Berbagai persyaratan, termasuk KTP dari warga Batang, sudah terkumpul. Namun beberapa hari sebelum pendaftaran, ia justru mendapat dukungan dari beberapa partai politik sekaligus. Yoyok akhirnya maju sebagai calon bupati melalui parpol. Sosoknya yang muda, relatif baru, dan cerdas ternyata disukai warga Batang. Dia terpilih.

Namun diakui Yoyok, dunia birokrasi benar-benar baru baginya. Ia harus belajar dari nol. Padahal seorang bupati harus menguasai tata kelola birokrasi, keuangan daerah, juga memiliki kecakapan politik yang baik untuk menjaga hubungan baik dengan berbagai pihak. Terlebih,saat ia mulai menjabat kondisi Pemkab Batang sedang terpurukkarena bupati sebelumnya dipenjara.

Namun Yoyok tampaknya belajar dengan cepat. Sejak awal ia dilantik, ia sudah menunjukkan berbagai inisiatif yang menunjukkan gaya kepemimpinan terbuka. Beberapa jam setelah pelantikan, misalnya, ia menuju rumah dinas bupati. Dengan heroik ia membuka gembok gerbang dan mengangkat gembok itu tinggi-tinggi kepada pendukungnya. Ia sendiri membuka rumah dinas bupati untuk berbagai keperluan masyarakat.

Di bidang birokrasi, Yoyok juga mulai melakukan pembenahan. Ia menggandeng Ombudsman RI menyelenggarakan lelang jabatan. Untuk meningkatkan pelayanan publik, ia membentuk Unit Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik (UPKP2). Inilah unit kerja yang membuat pelayanan publik di Batang terasa berbeda sehingga kebermanfaatannya bagi masyarakat lebih besar. Yoyok juga menggandeng Universitas Negeri Semarang (Unnes) sebagai supervisi dan pengawas.

Soal anggaran, Yoyok memang ketat. Ia mungkin mengadaptasi keketatan disiplin militer dalam pengelolaan uang rakyat. Karena itu, muncul seloroh “Dasar Yoyok, beli paku saja kalau pakai APBD harus dicatat,” di beberapa kolega. Seloroh ini mungkin olok-olok namun sekaligus pujian.

Namun bukan itu program yang membuat namanya melambung. Gagasannya paling otentik darinya adalah penyelenggaraan Festival Anggaran. Dalam festival ini, unit-unit kerja di bawah Pemerintah Kabupaten Batang memamerkan secara terbuka anggaran yang dimiliki, rencana penggunaan, dan laporan penggunaannya kepada masyarakat. Dia sendiri memamerkan penghasilan tetapnya sebagai bupati.

Inilah terobosan yang membuatnya memperoleh Bung Hatta Anticoruption Award 2015 bersama Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Penghargaan itu membuat Yoyok dipuji banyak orang sebagai bupati muda yang potensial. Kabupaten Batang menjadi jujugan pemerintah daerah lain untuk belajar transparansi anggaran. Kabupaten kecil itu mendadak seperti guru silat, dicari oleh banyak calon muridnya. Dengan sendirinya, nama Yoyok sebagai bupati pun kian melambung. Di tengah nama-nama lama poltik, Yoyok hadir sebagai bintang baru.

Namun di tengah popularitas itu, Yoyok justru membuat keputusan yang mengagetkan. Dia ogah mencalonkan diri lagi dalam Pilkada Kabupaten Batang tahun berikutnya. Ini pernyataan politik yang berani karena usianya relatif muda dan ia memiliki peluang yang sangat besar untuk terpilih kembali.

Dan begini argumentasi Yoyok tentang keputusannya itu: “Menjadi bupati adalah pengalaman yang sangat berharga untuk saya. Lebih menantang dari melakukan operasi militer. Sudah cukup lima tahun menjadi bupati. Biar nanti ada orang baru yang menggantikan saya,” katanya. Rahmat

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *